Dan, sekarang pesan itu benar adanya. Kami dengar, orang-orang kota pada mengeluh karena ada pagebluk. Itu kami dengar dari Pak Kades yang sehari-harinya membaca koran. Oh iya, di desa kami tak ada tivi maupun radio, apalagi telepon genggam. Satu-satunya sumber berita kami ya koran. Itupun yang baca hanya Pak Kades dan jajarannya. Selain itu, ya keluarga besar anak turun Den Wongso.
Dari merekalah, lalu berita-berita kami dengar. Jika memang penting dan perlu disebarluaskan kepada warga, Pak Kades akan menyampaikannya kepada warga. Jika tidak diperlukan, tidak akan disampaikan. Cukup Pak Kades dan orang-orang tertentu saja. Khususnya para sesepuh.
Ini pun sesuai dengan pesan Den Wongso. Bahwa tidak semua yang dianggap penting itu perlu disiarkan. Berita yang justru akan menimbulkan masalah dan membuat resah warga tidak perlu diramaikan. Katanya, "Akan lebih baik jika kita mengetahui apa-apa yang dialami sedulur-sedulur di sisi kanan-kiri kita sendiri. Sekalipun mungkin tak luas pengetahuan kita, tetapi jika berguna itu lebih baik. Kadang, yang namanya berita---lebih-lebih yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan kita di desa---justru simpang-siur dan bikin gaduh. Hidup kita akhirnya pun jauh dari ketenteraman."
Sebenarnya, dengan cara seperti ini maka Pak Kades dan jajarannya benar-benar menjadi orang yang paling sibuk di desa. Setiap hari harus keliling desa. Menyebarkan berita-berita penting. Apalagi kalau pas ada hal-hal yang dirasa perlu disampaikan ke warga. Tetapi, itu tak jadi soal. Sebab, hampir setiap malam pun selalu ada kumpulan warga di tiap-tiap dukuh. Pak Kades selalu hadir di situ.
Dan, kata Pak Kades, apa yang membuat Pak Pejabat tinggi itu ingin berkunjung ke desa kami, ya karena keistimewaan desa kami. Menurut Pak Kades, Pak Pejabat itu terheran-heran, merasa bahwa desa kami adalah desa yang nggak masuk akal. Sebab, hanya desa kami yang berani menolak bantuan pemerintah. Malah, beberapa waktu lalu, lewat Pak Kades, seluruh warga desa ini sepakat untuk menyumbangkan sebagian uang tabungan kami kepada pemerintah. Jumlahnya tak banyak, seluruhnya hanya sepuluh miliyar.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H