Lalu bagaimana dengan saya? Dua kenyataan yang terlihat langsung di depan mata sangat menyadarkan jika masa depan atau masa tua, adalah hal yang tidak bisa dianggap sepele. Tidak bisa hanya dipikirkan sambil lalu, dibiarkan begitu saja tanpa ada persiapan menghadapinya, dan hanya berharap ada yang membiayai kehidupan di saat tua.
Menabung Saja Tidak Cukup
SAYAÂ tak meragukan pentingnya masa depan. Terlebih setelah muncul berbagai pemberitaan di media, mengenai angka harapan hidup semakin lama semakin tinggi. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2016 di laman www.bps.go.id menyebutkan, jika angka harapan hidup memiliki kecenderungan meningkat setiap tahun, berdasarkan jenis kelamin dan kota yang ada di Indonesia.
 Rata-rata angka harapan hidup di Indonesia, berada pada usia 70 tahunan. Saat ini, untuk Jakarta saja, misalnya berada pada kisaran usia 74 tahun. Tapi, setahu saya, banyak tetangga yang berusia lanjut lebih dari 75 tahun dan bahkan mencapai angka 90 tahun.
Semua ini membuat saya mau tidak mau harus berpikir masa depan. Seandainya saja memiliki hidup yang lama atau panjang umur, dengan usia saya yang saat ini berkepala 3, berarti masih panjang sekali perjalanan usia yang harus saya tempuh. Masih puluhan tahun lagi hidup yang harus memerlukan biaya. Perlu dana pensiun. Perlu dana hari tua.
Perlu sebuah persiapan matang agar saya tidak mengalami kesulitan di hari tua, seperti kerabat saya di Jakarta Timur, yang saat hari tua, justru anak yang sudah berkeluarga kembali pulang ke rumah. Â
Terkadang, hinggap sedikit rasa cemas apakah saya mampu menikmati masa tua dengan nyaman, tenang, dan indah? Apalagi dengan semua impian yang mungkin menurut banyak orang mengada-ada, dengan kondisi keuangan saya saat ini.
Orang tua memiliki dana pensiun dari sebuah instansi pemerintah tempat dulu bekerja meski tidak seberapa. Lalu saya yang bekerja swasta, bagaimana saat tua nanti? Saya harus bisa mencukupi gaya hidup yang saya inginkan di  masa tua.
Hidup di masa tua dengan penuh kemapanan adalah keinginan setiap orang. Hanya saja, memang saya harus memiliki penghasilan yang lebih baik jika ingin mempunyai masa depan yang indah. Tidak cukup hanya sekedar berdoa kepada yang Maha Kuasa agar dicukupkan. Semua harus dilakukan dengan berusaha.
Karena itu, upaya menabung yang sudah diperkenalkan oleh orang tua sejak kecil, masih saya lakukan hingga kini di beberapa bank yang letaknya berdekatan dengan rumah. Mulanya, saya membuka beberapa rekening, yang salah satunya khusus menabung dan satunya lagi untuk keperluan sehari-hari.