Di sana berbincanglah Erwin dengan Santi. Di lain pihak, Pram pun menyiapkan warga yang akan mengepung pondok itu. Ia mendatangi sebuah kedai kopi cukup ramai di dekat rumah Santi. Ia pun menceritakan tentang pertemuan Erwin dan Santi. Mereka bertemu di sawah itu, sementara hari sudah jelang Maghrib.Â
Warga pun gaduh. Mereka terhasut. Mereka tahu bahwa Pram dan Santi 3 hari lagi akan menikah. Mereka menuju pondok yang disebut Pram. Sebelum mendekati pondok itu, salah seorang warga datang membawa Tuan Andi, ayah Santi. Matanya berkilat menatap Pram.
Ketika mendekati pondok, terdengarlah percakapan Santi yang ingin dinikahi Erwin, bukan Pram. "Bang Iwin mari kita kawin lari. Aku tak mau menikah dengan duda." Bertangis-tangisanlah Erwin dan Santi di pondok itu dalam keadaan berpelukan.
Tangan Erwin nampak membelai-belai punggung Santi. Saking asyiknya bertangis-tangisan, mereka tak menyadari akan kedatangan warga.
Geram, Ayah Santi melihat itu. Namun apa daya. Sudah semua orang melihat dan mendengar kelakuan putrinya. Beliaupun kalah. Terbayang olehnya kejadian berpuluh tahun dulu, ia pun melakukan hal yang sama kepada Sabar, Ayah Pram.
Kini, perbuatannya itu berbalas. Tuan Andi terpaksa menikahkan putrinya sore itu dengan Erwin. Kali ini Pram bebas dari Santi. Ia bisa menggagalkan pernikahannya dengan Santi.
Ia bisa menikah dengan Tinuk pilihannnya. Besar harapannya tak ada aral melintangi lagi niat mereka.*
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H