Perjuangan anak rantau ini belum usai. Mereka pun mendaftarkan diri ke lembaga-lembaga bimbel yang masih eksis. Di sini masih tersedia karena siswa di sini lebih kurang separuh orang tua sibuk dan anak rantau. Hingga bimbel tetap pilihan untuk menyelesaikan tugas sekolah mereka.
Di sekolah ini anak rantau memang lebih unggul dari anak zonasi karena sekolah-sekolah ini berasrama dan menerima siswa berdasar prestasi maupun tahfizh. Bahkan untuk sekolah di sini orang tua bersedia anaknya pindak KK kepada KK saudara yang berdomisili di kota.
Begitulah perjuangan orang tua dan anak demi masa depan mereka di tahun 2030-2045 kelak yang digadang masa emas. Dari sini mereka mempersiapkan diri bagi orang tua yang mengerti dan faham masa sulit ini.
Mereka memaksa anak merantau bukan karena faham bonus demografi atau sourcing atau penghapusan honorer. Tetapi demi menghindari pergaulan remaja di kampung yang tak sesuai ekspektasi mereka.
Mereka pun bukan gengsi anaknya menjadi petani tetapi karena anaknya tak kuat bertani. Lagi pula bertani belum bisa menjadi pilihan karir utama hanya sebagai hobi. Di sisi lain tanah pertanian pun tak ada lagi sudah tergadai kepada toke di kampung untuk  biaya menyekolahkan orang tua mereka generasi kedua.
Sekitar 27,4 persen pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa dan sebanyak 22,3 persen pemakai obat-obat terlarang itu adalah pengangguran. Â (Minangsatu.com)
Data itu di salah satu daerah di Sumatera Barat. Demikian juga pernikahan dini.
Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) Sumatra Barat mendesak pemerintah lebih perhatian terhadap upaya penghapusan pernikahan dini. Koordinator Program Advokasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi LP2M Sri Ambarwati menyebutkan, terjadi peningkatan tren pernikahan di bawah umur di Sumatra Barat.m.republika.com.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H