3.Wisuda Menjadi Kebanggaan Orang Tua akan Pendidikan Anaknya
Ah, orang tua mana yang tak bangga dan terharu dengan penampilan anak perempuannya yang berkebaya cantik dan mengenakan toga saat acara wisuda? Atau seorang ayah yang terharu melihat anak laki-lakinya tampak gagah mengenakan kemeja putih dan bercelana hitam dengan berselimut toga dan berjalan naik panggung? Ah, mengharukan ya. Â
Ini sangat wajar karena banyak orang tua beranggapan bahwa wisuda adalah puncak dari segala perjuangan anaknya (mahasiswa) yang telah sukses menyelesaikan kuliahnya selama beberapa tahun.Â
Moment ini seringkali diabadikan dalam sebuah bingkai foto kenangan yang dipajang di tembok ruang tamu dan memiliki nilai tersendiri di hati orang tua.Â
***
Dari banyak pengalaman yang saya alami sendiri, saya bisa menyimpulkan bahwa acara wisuda sesungguhnya bukanlah perayaan yang wajib diikuti oleh mahasiswa yang telah dinyatakan lulus saat sidang skripsi (pendadaran).Â
Acara wisuda hanyalah sebuah pesta kelulusan yang biasa dirayakan bersama para sahabat dan keluarga dekat.Â
Kampus saya dulu seingat saya juga tak mewajibkan mahasiswanya untuk mendaftarkan diri sebagai calon wisudawan/wisudawati. Jadi, tak heran jika beberapa teman seangkatan yang lulus bersamaan ada pula  yang tak mengikuti acara besar ini.Â
Beberapa kawan saya yang mungkin merasa keberatan dengan biaya wisuda  yang dianggap mahal (maaf) atau sengaja save uang untuk keperluan lain juga mengurungkan niat untuk mengikuti acara besar ini.Â
Prosesi Wisuda itu Pilihan, Bukan Kewajiban
Setiap Universitas/Perguruan Tinggi mungkin memiliki kebijakan masing-masing terkait dengan acara wisuda. Jadi, menurut saya mengikuti acara wisuda ataupun tidak adalah pilihan masing-masing orang, tentunya semua disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.Â
Tulisan ini saya buat bukan bermaksud melarang para mahasiswa untuk mengikuti acara wisuda setelah lulus pendadaran atau bukan pula sebagai kampanye yang memperburuk citra wisuda bagi seluruh kampus dimanapun berada. Bukan itu.Â