Disitulah dimana laga yang kemudian dikenal sebagai match of century kesebelasan Inggris 'diajari' bermain sepak bola oleh Hungaria. Kalah 3-6 jelas memalukan.Â
Hidegkuti sampai mencetak hattrick ke gawang Bill Merrick. Apakah publik Inggris terima saja negaranya diayam-ayamin?. Jelas tidak, mereka menuntut tanding balasan ke Budapest tahun depannya.
Dua kali hujaman ke pride of nation orang-orang Inggris, ternyata klaim sebagai negara tempat lahirnya sepak bola tidak ada apa-apanya di mata orang Hungaria.Â
Hasilnya The FA muhasabah diri dan sadar bahwa Inggris bukan negara kuat dan mulai mengadaptasi taktik yang berkembang di luar Inggris dan ujungnya meraih juara dunia pada 1966.
Namun akhirnya Hungaria tak pernah menjuarai piala dunia. Peluang terbaik mereka adalah pada 1954 ketika menembus final.
Tapi Jerman membuyarkan pesta rakyat Hungaria, mereka mengkandaskan asuhan Sebes 3-2 di final lewat sebuah laga yang dibumbui beberapa kejadian kontroversial.Â
Sebes pun dipecat sebagai pelatih karena konsekuensi gagalnya Hungaria meraih juara piala dunia. Sepeninggal Sebes ternyata ada nama Bela Guttman yang sebelumnya mengabdi sebagai asistennya di Timnas.
Nama Guttmann ini malah lebih terkenal dibanding Sebes. Sosok sarat kontroversi dan prestasi ini bahkan juga terkenal sebab 'Kutukan 100 Tahun' yang ia lontarkan kepada Benfica dan langgeng hingga sekarang sejak 1962.Â
Terhitung sudah delapan final kejuaraan eropa yang dilalui Benfica dan semua berujung kekalahan, Eusebio sempat menangis di pusara Guttmann di Vienna memohon kutukannya diangkat, namun sepertinya Guttmann di alam baka masih tak bergeming.
Hungaria memang simpul awal bagi perkembangan taktikal sepakbola kedepannya. Guttmann dengan racikan 4-2-4 nantinya menginspirasi generasi emas Brazil yang mengangkat piala Jules Rimet pada 1958.Â