Tahu takwa adalah tahu khas dari Kediri yang berwarna kuning, berbentuk kotak persegi empat dan agak pipih. Warna kuning disebabkan oleh air rendaman tahu diberi pewarna kunyit. Tahu ini pada pemrosesannya ditekan dengan kekuatan tekanan yang cukup tinggi selama 15 menit sehingga hasilnya tahu ini memiliki tekstur lebih kenyal, padat, berpori halus, dan lembut daripada tahu biasanya. Selain itu, kadar air pada tahu takwa juga rendah, sehingga tidak mudah hancur saat dipegang.Â
Tahu takwa bisa diolah menjadi masakan apa saja, cukup digoreng pun sudah lezat dan gurih rasanya. Jika digoreng, bagian luarnya akan berubah menjadi kering dan renyah, sedangkan bagian dalam tetap lembut dan kenyal. UMKM pembuatannya banyak dijumpai di Kediri, sehingga bisa menjadi alternatif oleh-oleh dari kota Kediri.
Tahu khas Indonesia asal Sumedang ini sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia. Nama lainnya tahu kulit. Tahu Sumedang berwarna putih saat masih mentah, namun setelah digoreng akan menjadi kecoklatan dan teksturnya menjadi kenyal. Tahu sumedang dibuat secara tradisional, dari bahan kedelai asli tanpa pengawet. Koagulan yang dipakai adalah sisa dari penggumpalan tahu, disebut larutan biang. Larutan biang disimpan selama 2--3 hari dan prosesnya menggunakan asam cuka.Â
Oleh karena itu, tahu sumedang tidak bertahan lama kalau tidak disimpan di kulkas. Tahu ini  dapat mengalami perubahan rasa setelah beberapa jam dibeli, rasa gurih berubah menjadi asam, dan kulit yang garing menjadi liat. Penyimpanan di kulkas dan penggorengan yang tepat yaitu dalam minyak dalam panas (deep fry), api besar, dan daya muat penggorengan yang besar dapat menjadi solusi.
Hampir mirip dengan tahu sumedang, tahu lamping atau kopeci berasal dari Kuningan. Perbedaannya tahu lamping memiliki rasa yang lebih gurih, bagian dalam tahu lamping lebih padat berisi, halus dan lembut. Namun keduanya sama-sama terbuat dari kedelai dan enak.
Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI