Mohon tunggu...
Reina Straw
Reina Straw Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

Teman Hidup

6 Juli 2015   15:23 Diperbarui: 6 Juli 2015   15:23 110
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sore hari yang cerah ketika aku sedang asik dengan laptop ku dengan tujuan untuk menghapus sebagian foto karena memory hp yang sudah mulai penuh. Tidak sengaja aku melihat foto kecil kami dulu, senyum kecil di bibir ku mulai merekah melihat foto itu. Kala itu kami sedang mengikuti salah satu lomba dan kami berhasil menjadi pemenangnya. Ketika itu kami terlihat sangat bahagia dengan wajah yang masih lugu. Namun senyum kecil di bibir ku pun sirna, melihat foto itu kembali seolah membuat ku mengingat kembali tentang mu. Disinilah kisah ku mulai berawal.

Namaku Laurensia Agatha, yang lebih akrab dipanggil dengan nama Tata. Aku memiliki teman kecil yang bernama Filipus Theodorus. Kami berkenalan ketika usia kami 10 tahun, kebetulan rumah kami tidak terlalu jauh. Selalu bersama dalam berbagai kegiatan mungkin yang terlintas jelas diingatan ku, tidak heran karena orang tua kami pun bersahabat. Theo biasanya dia disapa adalah sosok yang dingin dan kaku, terlihat jelas ketika pertama kali melihatnya. Namun setelah mengenalnya dia adalah sosok yang lembut dan penyayang.

Seiring berjalannya waktu kebersamaan kami pun membawa kami tumbuh bersama sebagai remaja yang mulai mencari jati diri. Hal yang ditakutkan ketika 2 orang selalu bersama adalah jatuh cinta, mungkin itulah yang aku rasakan padanya. Mulai mengikuti hobby nya, menyukai apa yang jadi kesukaannya dan selalu bangun lebih awal untuk berdandan adalah hal yang akhir-akhir ini sering aku lakukan. Tetapi sikapnya yang dingin selalu membuat ku merasa jika yang aku lakukan masih kurang menarik perhatiannya.

Sampai suatu ketika aku mengenalkannya kepada sahabat ku. Namanya Veronica, dia adalah sahabat lamaku yang baru kembali ke Jakarta setelah 4 tahun memilih untuk tinggal di Surabaya bersama tantenya. Sejak pertama mereka berkenalan aku tahu jika mereka saling suka, terlihat jelas dalam tatapan mereka. Tidak dipungkiri wajah Vero yang cantik pasti banyak memikat hati para pria, salah satunya adalah Theo. Namun yang aku lakukan adalah berfikir positif bahwa Theo tidak mungkin menyukai wanita yang baru saja dikenalnya.

Singkat cerita mereka pun mulai bertukar nomor handphone dan beberapa kali terlihat jalan bersama. Harapan ku pun mulai sirna dan hubungan ku dengan mereka sudah mulai memiliki jarak. Tepat tanggal 30 Juli sore hari handphone ku berbunyi..

“Thank you Tata sayang, gue sudah jadian dengan Vero.. Bahagianya gue hari ini hahaha.. Terima kasih banyak atas sarannya ya..” Pesan singkat yang dikirim Theo yang mengekspresikan betapa bahagianya dia dan Vero sore ini. Ketika selesai membaca pesan tersebut yang aku lakukan hanyalah duduk termenung, bingung apakah harus bahagia atau sedih. Mungkin itu yang kurasakan setelah membaca pesan singkat Theo.

Hari pun berganti, pagi ini aku bangun dengan rawut muka yang menggambarkan tidak bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan Vero, ketika melihat aku dia langsung memeluk dan berkata “Thanks a lot ya Ta, gue udah jadian sama Theo. Semua berkat lu hehe..”. Senyum dan berkata sama-sama adalah jawaban aku untuk membalas ekspresi bahagianya pagi ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa aku kecewa dengan Theo yang tidak pernah melihat sedikit pun usaha yang aku lakukan untuk mencuri perhatiannya. Sejak mereka jadian hubungan aku dengan keduanya sudah mulai menjauh, mungkin mereka sedang merasakan indahnya memiliki pasangan sehingga lupa ada seseorang yang melukis kebahagiaan mereka tersebut.

Setahun setelah peristiwa itu akhirnya aku pun memasuki sekolah yang baru, teman yang baru dan dunia yang baru tapi rasa yang aku simpan untuk Theo masih sama. Vero memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Surabaya. Hubungan mereka masih berlanjut hanya kali ini waktu mereka bertemu yang sangat jarang. Mencoba melupakannya adalah tujuan pertama yang aku lakukan ketika memasuki sekolah yang baru. Ketika itu terbesit dalam benak ku “untuk apa menunggu orang yang tidak pernah melihatmu dan tidak pernah berjalan menujumu, disaat yang lain sedang menunggumu dan berjalan ke arahmu agar kau melihatnya” mungkin kalimat itu yang memotivasi aku untuk melupakan Theo.

Aku mencoba untuk membuka hati dengan cowok yang cukup populer di sekolah bernama Kurniawan Wijaya. Dekat dengannya membuat aku nyaman dan ingatan tentang Theo mulai hilang ketika bersamanya. Kurniawan adalah sosok pria yang baik dan selalu membuat aku tertawa dengan karakternya yang humoris. Hubungan aku dan Kurniawan berjalan sekitar 1 tahun sebelum aku memutuskan untuk mengakhirinya.

2 bulan kemudian Theo mulai kembali menghubungi aku melalui Line. Awalnya dia menanyakan tentang kabar aku karena setelah Theo jadian dengan Vero kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Dengan memberanikan diri aku mulai bertanya tentang hubungannya dengan Vero. Tidak lama kemudian “Tengtong..” handphone ku berbunyi menandakan bahwa terdapat pesan baru yang ternyata dari Theo. “haha.. gue sama Vero udah putus sekitar 4 bulan yang lalu” balasannya atas pertanyaan ku. Senyum dibibir ku mulai melebar setelah membaca pesan tersebut.

Setelah peristiwa tersebut kami mulai sering pergi untuk menghabiskan waktu bersama. Kedekatan kami kembali seolah mengembalikan lagi perasaan aku dengan Theo. Akankah kedekatan kami kali ini akan membuahkan hasil atau aku hanyalah pilihan ketika Theo merasa bosan?. Mungkin pilihan kedualah yang terjadi pada aku saat ini. Kedekatan kami hanya dijadikan sebagai mengisi kekosongan hatinya saat ini. Di mulai dekat dengan salah seorang wanita di Gereja nya, wanita itu terlihat cantik dan baik tapi tidak mudah mendapatkannya. Banyak hal yang Theo lakukan demi mendapatkannya.

Ketika mengetahui hal tersebut aku sudah mengubah mindset ku untuk benar-benar tidak mau menaruh perasaan lagi kepada Theo. Mungkin Theo bukanlah orang yang terbaik yang Tuhan kasih untuk aku. Menjauhi Theo dengan serpihan hati yang telah hancur adalah pilihan yang tepat untuk aku lakukan mulai malam ini. “Mungkin kamu senang di kejar, karena kamu tak merasakan lelahnya mengejar. Namun aku takut kamu terlalu senang berlari, hingga kamu lupa aku sudah jauh berhenti mengejar.” Kalimat tersebut menjadi penutup buku harian ku malam ini.

Beberapa tahun berlalu Tata yang sekarang sudah mulai tumbuh menjadi wanita dewasa yang lebih ceria, fokus terhadap cita-citanya, dan mulai disibukkan dengan pelayanannya di Gereja. Tidak ada lagi bayangan tentang Theo yang membuatnya sedih, malah banyak bayangan lain yang dibuatnya sedih. Tata tumbuh menjadi wanita yang dewasa, cantik, masih tetap pintar, mandiri, dan cukup bijak. Tak heran banyak pria yang patah hati karena ditolaknya. Semenjak memasuki bangku perkuliahan yang aku lakukan adalah belajar agar mendapat gelar Sarjana dengan cepat dan menjadi lulusan terbaik.

Entah bagaimana kabarnya Theo sekarang. Kabar terakhir yang aku dengar dia tidak berhasil mendapatkan hati wanita yang dikerjanya dengan susah payah itu dan dia memasuki jurusan yang sama dengan aku. Namun ketika aku memasuki semester akhir dia mulai muncul kembali, tapi tanda kemunculannya kali ini dengan signal yang berbeda. Theo mulai mendekati aku seperti orang yang mulai mencari celah untuk mendapatkan aku. Terlintas pertanyaan dalam pikiran ku “Mengapa Theo baru melihat aku sekarang? Mengapa Theo menjadikan aku sebagai pilihan terakhirnya setelah dia sudah mulai lelah mencari?”. Apa yang mengubah pikirannya sekarang, mungkinkah dia sadar bahwa dia telah melewati seseorang yang telah menunggunya sejak lama atau dia hanya ingin menjadikan aku sebagai alasan disaat dia bosan lagi?.

Theo mulai mendekati aku dengan segala cara seolah meminta aku untuk memilihnya kali ini. Namun Theo terlambat, dia kembali disaat melihatnya hatiku sudah biasa saja. Theo selalu menyakinkan aku bahwa aku adalah orang yang Tuhan pilih untuk menjadi teman hidupnya kelak, tapi aku ragu dengan hal tersebut. Aku menyerahkannya kepada Tuhan, karena aku yakin bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik menurut rencana dan kehendaknya.

Akankah Tuhan membantu aku untuk menyusun kembali serpihan hati untuk Theo lalu menjadi teman hidupnya kelak..? Ataukah Tuhan menggagalkan setiap usaha Theo untuk membantu aku menyusun kembali serpihan hati untuknya..?

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun