Mohon tunggu...
REDEMPTUS UKAT
REDEMPTUS UKAT Mohon Tunggu... Lainnya - Relawan Literasi

Lakukanlah segala pekerjaanmu di dalam kasih (1kor. 16:14)

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Target Net Zero Emission 2060, Apa Upaya Kita?

24 Februari 2022   14:37 Diperbarui: 24 Februari 2022   14:51 371
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Emisi plastik lebih tinggi dari emisi penerbangan (pict. theconversation.com)

Istilah Net  Zero Emission (NZE) atau nol bersih emisi merupakan istilah baru bagi saya. Istilah ini baru saya temukan di laman Kompasiana beberapa waktu yang lalu. Padahal setelah saya telusuri di internet istilah ini ternyata sudah ada sejak tahun 2008 yang lalu. 

NZE kemudian makin populer ketika Konferensi Tingkat Tinggi Iklim di Paris pada tahun 2015 yang mewajibkan seluruh negara industri dan maju di dunia mencapai nol -- bersih emisi pada tahun 2050 mendatang.

Ketidaktahuan saya tentang NZE bisa jadi karena saya jarang membaca berita -- berita tentang lingkungan atau bisa jadi karena NZE kurang membumi sehingga hanya kalangan terpelajar dan para pegiat lingkungan saja yang tahu soal istilah ini. Karena saya rasa apa yang saya alami, dialami juga oleh banyak orang di Indonesia khususnya masyarakat kelas bawah yang setiap hari berurusan dengan rutinitas hariannya. 

Sebab saat ini masih banyak masyarakat yang nyaman -- nyaman saja dengan keadaan bumi. Mereka lebih memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup setiap hari daripada masalah lainnya termasuk masalah lingkungan.

Walaupun saya baru mengetahui istilah NZE tetapi saya sadar bahwa meningkatnya produksi emisi karbon sampai menyebabkan pemanasan global dewasa ini adalah akibat dari pola hidup kita yang tidak ramah lingkungan. 

Ketidakramahan ini sudah dimulai sejak jaman revolusi industri dan terus meningkat dari waktu ke waktu hingga saat ini. Bahkan sekarang pola hidup tak ramah ini telah mengakar rumput sampai ke desa -- desa.

Banyak desa kini tak lagi asri. Banyak hutan menggundul. Banyak sungai mulai keruh dan penuh sampah rumah tangga. Banyak pantai penuh kotoran dan laut birunya menghitam. Asap kendaraan menyesak hidung. Sampah -- sampah plastik menggunung, merakyat dan membudaya.

Apalagi di kota -- kota besar dan negara -- negara maju yang cenderung menggantungkan hidupnya pada industri. Kehidupan mereka benar -- benar tak lagi ramah pada lingkungan. Di mana -- mana bertengger gedung -- gedung pencakar langit. Pohon -- pohon hanya hiasan pemanis kota. 

Kemacetan kendaraan dan polusi udara menjadi asupan yang lazim disantap. Plastik menjadi kebutuhan yang tidak bisa digantikan. Habis mau bagaimana? Ini adalah konsekuensi yang harus kita terima ketika modernitas merangsek masuk dalam kehidupan tanpa didukung oleh pengetahuan akan dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

Apa itu Net Zero Emission (NZE)?

Net Zero Emission artinya suatu keadaan di mana emisi karbon yang diproduksi oleh manusia terserap sepenuhnya dan tidak ada yang menguap sampai ke atmosfer bumi. Dengan kata lain karbon yang kita hasilkan harus diserap habis, tidak boleh ada sisa yang dibiarkan menguap sampai ke atmosfer bumi. 

Sebab jika karbon -- karbon itu menguap akan berdampak buruk bagi manusia dan lingkungan. Dampak buruk itu bisa berupa pemanasan global, perubahan iklim yang ekstrim dan lain sebagainya yang mana bisa mengancam nyawa manusia dan makhluk hidup lain.

Namun untuk mencapai nol - bersih emisi tidak berarti bahwa kita tidak boleh memproduksi emisi karbon sama sekali.Sebab secara alamiah kita tidak bisa tidak memproduksi emisi karena bernapas saja kita menghasilkan karbon dioksida (CO2). 

Selain itu dalam kehidupan  rumah tangga yang paling primitif sekalipun aktivitas rumah tangga pasti memproduksi emisi karbon melalui proses pembakaran saat memasak, membersihkan kebun dan lain sebagainya. Tetapi jumlah emisi karbon itu tidak seberapa sehingga langsung diserap habis oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis sehingga tidak sampai menguap ke atmosfer.

Masalahnya adalah saat ini produksi emisi karbon kita sudah sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Forest Digest pada Mei 2021 yang lalu emisi karbon yang diproduksi oleh manusia sebanyak 51 miliar ton setara CO2. 

Sedangkan hutan dan perairan kita secara global hanya mampu menyerap  43 % emisi karbon. Sisanya menguap ke atmosfer. Akibatnya sekarang kita mengalami apa yang dinamakan sebagai pemanasan global.

Apa Upaya Kita?

Negara Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan bisa mewujudkan Net Zero Emission pada tahun 2060 mendatang. Ada 5 strategi yang akan dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk mewujudkan NZE. Pertama, pemerintah akan meningkatkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), termasuk bahan bakar nabati. Kedua, pemerintah terus berupaya untuk mengurangi pemakaian energi fosil. 

Ketiga, pemerintah berkomitmen untuk memperluas pemanfaatan transportasi berbasis listrik di Indonesia. Keempat, pemerintah mendorong pemanfaatan listrik pada sektor rumah tangga hingga industri. Kelima, pemerintah mendukung penerapan carbon capture and storage (CCS) atau penangkapan dan pemanfaatan karbon untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Setelah terpilih sebagai Presidensi G20, Indonesia berkomitmen menjadi contoh dan menjadi pemimpin dunia dalam rangka mengatasi perubahan iklim dan mengelola lingkungan secara berkelanjutan dengan tindakan nyata. Bahkan untuk itu pemerintah telah menyiapkan kawasan Net Zero termasuk Green Industrial Park di Kalimantan Utara seluas 13.200 hektar agar target NZE bisa lebih cepat tercapai.

Sebagai rakyat biasa kita tentu mendukung apa yang dilakukan oleh pemerintah, namun pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus bergerak bersama pemerintah untuk mewujudkan bumi yang bersih dari emisi gas. Nah, apa yang harus kita lakukan?

Mengurangi Penggunaan Plastik

Satu hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan mengurangi penggunaan plastik. Hal ini memang kelihatan sederhana tetapi punya dampak yang sangat besar. 

Sebab menurut penelitian,  plastik menyumbang 3. 8 % emisi gas rumah kaca secara global. Itu hampir dua kali lipat dari emisi gas sektor penerbangan. Namun mengurangi penggunaan plastik tak semudah yang dibayangkan karena benda satu ini telah sangat melekat dengan kehidupan kita. Sekalipun demikian beberapa hal ini dapat dicoba untuk memulai kebiasaan hidup tanpa plastik.

1. Bawa botol minum sendiri

Salah satu cara yang dapat dipakai untuk memulai kebiasaan hidup tanpa plastik adalah dengan bawa botol minum sendiri. Hal ini mencegah kita membeli air -- air kemasan sekali minum yang berpotensi menimbulkan sampah -- sampah plastik baru.

2. Membawa tas belanjaan saat ke pasar

Cara lain yang biasa dibuat adalah membawa tas belanjaan saat ke pasar. Tas belanjaan ini bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan pakaian bekas di rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penggunaan plastik kresek secara berlebihan. Karena saat ini jika kita ke pasar jalan lenggang kangkung pasti pulang rumah dengan bejibun plastik kresek. 

Tomat dengan kreseknya, lombok dengan kreseknya, sawi dengan kreseknya dan macam  - macam belanjaan lain dengan kreseknya ditambah satu kresek besar sebagai wadah semua belanjaan itu. Belum lagi barang -- barang lain yang kemasannya dari plastik. Berapa sampah plastik yang kita hasilkan sekali belanja? Dan kita tidak mungkin dalam seminggu hanya sekali ke pasar.

3. Membuat ecobrick di rumah

Saat ini hampir semua barang memiliki kemasan plastik mulai dari bahan makanan, deterjen, sampo, dan barang -- barang lainnya. Saking banyaknya kita sampai tidak bisa menghindari penggunaan plastik kemasan tersebut. Nah, untuk plastik kemasan ini kita bisa menyiasatinya dengan membuat ecobrick.

Caranya sangat mudah, pertama kita kumpulkan semua kemasan plastik yang kita miliki. Lalu kita siapkan botol bekas minuman. Gunting kecil -- kecil semua plastik yang ada dan masukan di dalam botol. Setelah itu padatkan plastik -- plastik dengan tongkat kayu. Botol yang sudah terisi penuh dan padat dapat dijadikan bata yang ramah lingkungan.

Dengan mengurangi penggunaan plastik, tidak serta merta membuat upaya kita mencapai Net -- Zero Emission terwujud. Namun itu adalah satu langkah kecil yang bisa kita buat dalam rangka membantu upaya pemerintah membenahi negeri dan memperbaiki lingkungan kita yang memprihatinkan. Dengan mengurangi plastik juga kita bisa mengurangi gunungan -- gunungan sampah plastik yang ada di sekitar kita yang menyumbang 3.8 % emisi gas. Sebab jika tidak suatu saat sampah -- sampah plastik itulah yang akan membunuh  kita dan anak cucu.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun