Hijrah adalah perintah Allah, bukan keinginan Nabi. Karena, sebagai hamba yang taat pada kholik-Nya tanpa pikir panjang ditunaikan perintah itu. Sedikitpun tidak ada kekhawatiran atas diri Nabi padahal sedang menjadi target yang harus dibunuh.
Mengetahui akan hijrahnya Nabi, kafir Quraisy mengepung kediaman Nabi. Akan tetapi kepungan mereka sia-sia karena siasat Allah jauh lebih baik. Hal itu terbukti dengan melenggangnya Rasul bersama Abu Bakar dari kota Mekkah tanpa diketahui oleh pasukan kafir Quraisy. Mereka terlambat menyadari bahwa yang menempati tempat tidur Nabi adalah Ali bin Abi Thalib. Yaa ... Tertipu nih yee!
Namun kafir Quraisy tidak putus asa. Mereka mengejar Nabi dan Abu Bakar.
Dalam perjalanan Rasul (hijrah) sebagai manusia beliau juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan seperti lelah, takut dan khawatir. Terlebih lagi atas sahabat Abu Bakar. Beliau pun menangis.
Rasul pun menghibur Abu Bakar. "La takhaf wa la tahzan. Innallaha ma'ana." Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Allah ada bersama kita. Akan tetapi, sebenarnya Abu Bakar bukan mengkhawatirkan dirinya melainkan keselamatan Nabinya. Subhanallah, hakikat muslim yang sebenarnya adalah ketika kekhawatiran akan keselamatan saudara muslimnya lebih diutamakan ketimbang keselamatan dirinya sendiri.
Begitulah, persinggahan sekaligus persembunyian Nabi di gua Tsur menjadi perhatian kafir Quraisy. Tetapi fenomena alam menunjukkan adanya sarang laba-laba di mulut gua. Ini mengesankan bahwa tidak mungkin Nabi masuk gua itu dan berada di dalamnya. Selamatlah Rasul dari kejaran mereka. Tuuh kan mereka tertipu lagi!
Wa makaru wa makarallah, wallahu Khairul makirin. Mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baiknya pembalas tipu daya.
"Siapa yang tidak memenuhi kewajibannya terhadap negara dan agamanya karena takut letih atau mati, maka ia tidak berhak untuk hidup karena kematian pasti akan datang, dan jiwa yang mulia tidak pernah akan mati."Â
Pepatah Arab
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H