Mohon tunggu...
BANYU BIRU
BANYU BIRU Mohon Tunggu... Guru - Guru | Pecandu Fiksi

Orang yang benar-benar bisa merendahkanmu adalah dirimu sendiri. Fokus pada apa yang kamu mulai. Jangan berhenti, selesaikan pertandinganmu.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Video Call Karya Banyu Biru

20 Mei 2024   19:58 Diperbarui: 20 Mei 2024   19:58 191
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Koleksi Pribadi Edited with Canva

"Yang, tadi malam kamu ngundang orang lain gabung vid-call?" Begitu terhubung, aku langsung melontarkan pertanyaan kepada Sapta. Ia terlihat tidak siap dengan pertanyaanku sebab ada banyak lipatan di dahinya.

"Coba cek deh riwayat panggilan tadi malam," perintahku.

"Aneh, aku nggak ada gabungin siapa-siapa," kata Sapta setelah melakukan instruksiku.

"Serius, Yang? Aku jadi takut," desahku.

"Sumpah, Yang. Aku nggak telpon siapa-siapa. Buat apa? Lagian aku juga ketiduran."

Aku terkesiap. Perkataan Sapta ada benarnya. Malam kemarin ia mengaku sangat kelelahan karena harus menyelesaikan deadline tugas kuliahnya. Aku refleks mematikan dan melemparkan ponsel ke kasur. Kemudian, jantungku berpacu lebih cepat hanya karena sebuah notifikasi yang masuk. Aku takut untuk mengecek, tetapi notifikasi hanya sekali. Mungkin Sapta juga ikut terkejut karena panggilan kumatikan dengan tiba-tiba.

Aku menarik napas lega. Untungnya dugaanku benar. Kekhwatiran Sapta bisa terasa walaupun ia hanya mengirimkan pesan lewat whatsapp.

Kamu kenapa?

Nomor misterius itu muncul lagi, tapi yang ini beda dengan yang kemarin. Aku harus gimana? Aku takut.

Tenang. Tenang dulu ya, Yang. Siapa tahu nomor nyasar.

Nggak mungkinlah. Masa nyasarnya dua hari berturut-turut? Pas kita teleponan gitu?

Aku ragu mengatakan ini, tetapi apa mungkin aktifitas video call-an kami disadap?

Aduh, aku nggak ngerti lagi masalah beginian. Besok aku coba tanya teman yang lebih tahu beginian. Semoga nggak ada apa-apa.

Semoga, batinku.

Sekarang adalah hari kedua setelah teror, sekitar pukul delapan malam kurang sepuluh menit, chat masuk dari Sapta. Sepertinya aku sudah menunjukkan gejala trauma atau mungkin hanya paranoid seperti kata Sapta. Masalahnya perasaan ini sangat mengganggu. Bahkan untuk membuka pesan saja, aku perlu berpikir lama. Tapi bagaimana jika pesan atau panggilan itu dari Sapta?

Yang, video call-an Yok.

Aku membaca pesan Sapta melalui notifikasi. Aku tidak langsung membalas. Seperti mengerti kegelisahanku, Sapta mengirimkan pesan lagi.

Aku udah tanya temanku, cuma ribet kalau harus ngetik.

Ah, tidak enak rasanya menolak permintaan Sapta. Terlebih untuk hubungan jarak jauh ini, risiko hilang kontak besar sekali. Aku tidak mau hal itu terjadi. Akhirnya aku memberanikan diri membuka aplikasi hijau itu dan langsung memanggil kontaknya.

Sapta menjelaskan semua yang ia dapatkan dari temannya. Katanya fitur baru ini memang punya risiko disadap tetapi pelaku kemungkinan hanya bisa dilacak jika penyadap sialan itu juga berada dalam satu grup dengan target. Teori paling masuk akal untuk masalah ini yaitu pengguna akun WA pernah sengaja atau tidak sengaja menerima panggilan nomor tidak dikenal. Itu bisa jadi celah untuk mengambil data rekaman hingga info-info pribadi yang terhubung.

Sapta menjelaskan dengan raut muka yang sangat bersemangat. Sapta bahkan terlihat bangga dengan pengetahuan barunya sama seperti anak kecil yang berhasil menyelesaikan permainannya. Sedikitpun tidak terasa bahwa durasi obrolan kami ternyata sudah hampir dua jam. Absennya nomor misterius itu cukup melegakan. Apakah ini pertanda bahwa semuanya sudah aman? Kupikir begitu, hingga sesuatu muncul di belakang Sapta. Makhluk berbadan besar seperti kabut hitam, membentuk manusia yang mengenakan jubah. Wajahnya tidak bisa terlihat jelas, tetapi ada kilatan berwarna merah menyala di matanya.

"Yang, kamu di rumah sama siapa?" desisku.

"Papa sama mama, cuma kalau jam segini pasti udah pada tidur. Kenapa, Yang?"

"Aku minta kamu keluar dari kamar sekarang,” teriakku.

"Kenapa?"

"Cepat!" Mataku membelalak.

"Iya tapi kenapa?"

"Aku akan kasih tahu kalau kamu sudah keluar kamar. Untuk lebih amannya, kamu ke kamar papa mamamu. Please cepat."

"Yang, aku jadi ikutan merasa takut, nih."

"Sial. Turuti aja apa kataku. Lebih ngeri lagi kalau kamu nggak segera keluar."

Sapta benar-benar membuat urat leherku tegang. Dipikirnya aku sedang bermain-main? Di situasi seperti ini? Sama sekali tidak. Oh, andai saja dia paham. Aku hanya ingin dia keluar secepatnya tanpa memedulikan sosok menyeramkan yang mungkin akan menyerangnya.

Layar ponsel Sapta terguncang. Aku tidak bisa jelas melihat wajahnya. Namun, aku masih bisa mendengar pekikannya.

"Yang, di belakangmu..." Sapta tersendat-sendat.

Aku lagsung menangkap maksud Sapta. Kata-katanya langsung terangkai utuh di otakku yang menyatakan bahwa makhluk itu sekarang berada di belakangku dan siap mengakhiri riwayatku saat ini juga.

Oh Tuhan, Ia mendekat. Makhluk itu lebih besar dari penampakan di dalam layar. Jemariku gemetar hebat ketika berusaha menjangkau Sapta lagi. Di seberang sana, aku mendengar Sapta mengerang kesakitan. Berkali-kali ia berteriak meminta tolong hingga terdengar serak.  Kamera Sapta masih menyala dan mempertunjukkan keadaan Sapta yang membuatku merasa dingin dan beku. Ia tak lagi mampu bersuara. Sapta sudah terkapar dan bermandikan darah. Hanya bibirnya yang komat-kamit seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi sampai cakaran makhluk itu merobek punggungku, aku tidak bisa memahaminya.

Makhluk hitam ini menarik kasar tubuhku sehingga aku bisa merasakan perihnya daging yang terkoyak bergesekan dengan permukaan seprai. Makhluk itu meremas tangan kananku, memasukkannya ke dalam mulutnya yang besar. Aku masih mendengar dan merasakan gemeretak tulang-tulang jemariku beradu dengan barisan giginya yang taja. Ia mengunyahnya dengan lahap seperti orang yang sudah berpuasa cukup lama. Ngilu dan sakit berpadu hingga kemudian sekujur tubuhku mulai terasa dingin. Aku mulai kehilangan kemampuan untuk merasakan anggota tubuhku yang lainnya. Saat tubuhku melemah, teringat wajah terakhir Sapta yang menyedihkan. Dalam keputusasaanku, aku akhirnya menerjemahkan sendiri gerak bibirnya yang kuanggap adalah kata-kata terakhirnya.

***

Dering tanda panggilan masuk samar-samar menerobos masuk ke telinga. Aku tidak bisa meraihnya karena tanganku sudah tidak memungkinkan. Makhluk hitam itu mendekat ke arah ponsel. Bip bunyi panggilan diterima. Bunyi kresek keluar bersamaan suara seorang laki-laki dari ponselku. Aku mengenal suara itu. Itu suara Abi, salah satu rekan kerjaku. Nama yang juga terlintas di benakku saat mencoba membaca gerak bibir Sapta. Aku yakin betul itu suaranya karena relasi kami cukup. Tapi, kenapa dia mengingkan kami mati?

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun