Mohon tunggu...
Igo mahmudramadhon
Igo mahmudramadhon Mohon Tunggu... Tutor - Ingin belajar berbagi yg saya pelajari
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Saya masih pemula, pastinya banyak kesalahan saya d sini, mohon kritik dan saran nya agar saya dpt memperbaiki

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Tunduknya Singa karena Kesabaran Orang Saleh

29 November 2019   21:17 Diperbarui: 29 November 2019   21:35 94
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Diceritakan, ada sebagian dari ulama sholeh terdahulu sering kali mengunjungi  sahabat muslimnya setiap setahun sekali, salah satunya ulama sholeh yang satu ini. Pada suatu hari, ulama sholeh ini  pergi mengunjungi sahabat nya yang jauh.

Dan ketika sudah sampai di tempat tujuan, seperti orang-orang umumnya, ulama tersebut mengetuk pintu rumah temannya dan menunggu temannya membukakan pintu. Akan tetapi, dari dalam rumah terdengar suara perempuan yang bukan lain adalah istri dari temannya si ulama, sambil membukakan pintu, perempuan tersebut bertanya.

Istri      : " siapa kamu? " dengan ekspresi yang sinis.

Ulama  : " aku temannya suamimu " jawab ulama tersebut.

Istri: " apa tujuanmu datang ke sini? " tanya si perempuan tersebut dengan nada keras.

Ulama  : " tujuanku ke sini ingin bertemu dengan suamimu " jawab ulama dengan merasa keheran-heranan dengan kelakuan istri sahabatnya tersebut.

Istri : " suamiku tidak ada di rumah dia sedang mencari kayu bakar, semoga saja dia tidak kembali lagi "jawab perempuan tersebut dengan wajah kesal sembari mendoakan suaminya yang buruk.

Dan saat perbincangan itu pula, sahabat ulama tersebut datang sembari membawa kayu bakar. Akan tetapi, yang membuat ulama tersebut keheran-heranan yaitu sahabatnya tersebut tidak membawa kayu bakar dengan sendirinya maupun memakai peralatan lain, melainkan yang digunakkan untuk mengangkat kayu tersebut adalah macan yang terkenal buas.

Sembari menurunkan kayu tersebut, sahabatnya mencium singa tersebut dan mendoakannya lalu berkata.

Sahabat ulama : " pulanglah!, dan semoga allah membalas kebaikan mu " kata sahabat ulama  tersebut.

Lalu setelah macan itu pergi, sahabat ulama tersebut menemui ulama yang mendatanginya lalu mengucapkan salam, menyambutnya dan disuruhnya masuk ke rumahnya. Seperti tamu umumnya, sahabat ulama tadi menjamunya dan berbincang-bincang.

Kemudian, ulama tadi pamitan kepada sahabatnya dan pergi meninggalkan sahabatnya tadi dengan masih menyimpan rasa keheranan atas kesabaran terhadap istrinya dengan tidak menjawab perkataan buruk yang dilontarkan kepada suaminya tersebut.

Setelah satu tahun berlalu, ulama tadi mengunjungi sahabatnya seperti tahun lalu.

Setelah sampai didepan rumah ulama tadi mengetuk pintu dan menunggu temannya membukakan pintu. Dan terdengar dari dalam seseorang yang bertanya akan kehadiran ulama tersebut.

Istri : "siapa diluar?" jawab istri sahabat tersebut dengan nada lembut tidak seperti biasanya.

Ulama:"aku teman suamimu, dan tujuanku kemari untuk mengunjunginya". Jawab ulama tadi dengan merasa keheranan.

Istri:"selamat datang, silahkan masuk" jawabnya dengan lembut.

Kemudian, ulama tadi disuruh masuk dan dipersilahkan duduk, tidak seperti tahun sebelumnya akan tingkah laku buruk istri sahabatnya tersebut yang berkata buruk dan tidak sopan. Ulama tadi pun masuk dan dijamu oleh istri sahabatnya dan berbincang-bincang sembari menunggu suaminya datang yang tak lain sahabatnya.

Tak lama kemudian, datanglah sahabatnya tersebut  dengan membawa kayu bakar yang berada di punggungnya. Kemudian, sahabatnya tadi meletakkan kayu tersebut dan langsung menemui sahabatnya yang telah menunggu kehadirannya. Keduanya pun berbincang-bincang dan saling bertukar cerita satu sama lain.

Setelah asik berbincang-bincang, tibalah ulama tadi pamit untuk pulang.

Ketika ulama tadi ingin pamit pulang, ulama tadi pun bertanya akan singa yang telah menolongnya tahun lalu yang membuat ulama tersebut keheran-heranan.

Sahabat ulama:"wahai saudaraku!, wanita yang buruk akhlaknya kemarin telah  dicabut nyawanya , dan aku adalah orang sabar dalam menghadapi keburukan akhlaknya. Maka Allah Ta'ala menundukkan kepadaku seekor singa atas  kesabaranku dalam menghadapi buruknya istriku. Lalu, setelah kematiannya akupun menikah lagi dengan wanita yang sholeh baik akhlaknya, dan aku tenang hidup bersamanya, maka terputuslah dariku seekor macan yang setia membawakan kayu bakar untukku. Dan aku sekarang membawa kayu bakar di punggungku sendiri karena aku sudah tenang bersama istriku yang sholehah sekarang".

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi,(syarh fii 'uquud al-lujain fii bayaan huquuq az-  zaujain,toko kitab al-hidayah,surabaya),dengan arti yang disederhanakan, hlm 5

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun