9 Rajab 1442 H tepat 93 tahun yang lalu, Al Jam'iyatul Washliyah lahir sebagai ormas Islam berbasis dakwah di Sumatera Utara. Al Washliyah hadir ditengah masa pra kemerdekaan, dengan membantu para tokoh-tokoh kemerdekaan dalam menyampaikan pesan pentingnya persatuan melawan pejajahan.Â
Tokoh-tokoh pendiri Al Washliyah tak lelah dari satu tempat ke tempat lain demi menyampaikan pesan dakwah dan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia. Selepas kemerdekaan NKRI 1945 pun Al Washliyah tetap menjadi mitra pemerintah dalam membantu percepatan transisi kemerdekaan. Baik dibidang sosial, pendidikan, serta keagamaan masyarakat. Tak ayal dalam beberapa moment tampak pendiri Al Washliyah menemui presiden Soekarno untuk berdiskusi tentang permasalahan bangsa dan keumatan Indonesia pada saat itu.
Generasi tokoh Al Washliyah kala itu memiliki pesan bahwa Islam harus diajarkan secara rahmatan lil alamin. Sebagai ormas yang bersikap "Washal" Al Washliyah memiliki peran untuk menjadi jembatan baik bagi kaum islamis maupun kaum nasionalis yang terkesan sulit untuk berkolaborasi. Memasuki masa orde baru, Ormas Islam Al Washliyah masih tetap menjadi pilar penting kebangsaan dan keumatan kala itu. Al Washliyah mulai mengembangkan sayap-sayap dakwah seantero nusantara.Â
Beberapa wilaya-wilayah AW didirikan pada masa orde baru. Al Washliyah juga aktif dalam percaturan organisasi Islam yang dinaungi oleh MUI. Bahkan Al Washliyah juga tercatat sejarah sebagai salah satu pendiri organisasi MUI. Tak sedikit moment kala itu Alwashliyah menjadi penengah umat dalam perbedaan pendapat antara NU dan Muhammadiyah. Hingga pada saat reformasi digaungkan pada 1998, Al Washliyah tetap pada habitatnya yaitu menjadi mitra independen pemerintah serta masyarakat dalam menentukan sikap menghadapi permasalahan kebangsaan dan keislaman.
Tak terasa memasuki tahun 1442 H Al Washliyah berusia 93 tahun hijriyah. Artinya hampir satu abad Al Washliyah mewarnai kehidupan kebangsaan dan keislaman di negara Indonesia. Banyak dinamika yang telah dilalui oleh generasi bulan sabit lima dari masa ke masa. Lantas bagaimana seharusnya sebagai warga Washliyah memaknai 93 tahun kiprah Al Washlyah dalam mewarnai negeri tercinta ini? Berikut adalah poin-poin yang dapat menjadi ibrah bagi warga Alwashliyah khususnya dan untuk perkembangan Al Washliyah kedepannya.
1. 93 tahun berkhidmat untuk Ibu Pertiwi
Sudah banyak kegiatan positif yang sudah dilakukan Al Washliyah pada negeri ini, akan tetapi apakah mayoritas ikhtiar kita telah berpengaruh terhadap keharmonisan umat dalam menjalankan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan di Indonesia? Tentu belum maksimal. Harapan inilah yang mesti ditangkap generasi Al Washliyah kedepannya. Dimasa yang akan datang, Al Washliyah diharapkan dapat lebih berperan aktif dalam pengembangan dakwah, pendidikan, amal sosial di kalangan masyarakat pedalaman dari sabang hingga merauke. Sebenarnya pola tersebut sudah dilakukan oleh Washliyah belakangan ini.
 Akan tetapi kualitas serta kuantitas ritme dakwah mesti di poles menjadi sistem baru agar dapat mengalami perkembangan yang efektif. Teknisnya, Al Washliyah diharapkan memiliki suatu akademi modern dalam menyeleksi, melatih, memproduksi Dai-Dai berkualitas. Tentunya dengan mempunyai sistem yang modern dalam mencetak dai-dai berkualitas untuk ditempatkan didaerah terpencil, tentunya akan sangat membantu pemerintah dalam mengurangi ketimpangan sosial pada semua lapisan masyarakat.
2. Al Washliyah mesti memiliki ciri khas dakwah tersendiri
Dakwah, Pendidikan, Amal Sosial merupakan 3 grand design Al Washliyah selama perkembangannya. Secara umum pola tersebut sangat berimplikasi positif terhadap masyarakat. Disisi lain, Al Washliyah hadir dengan tokoh kharismatik nan cerdas yaitu Tuan Syekh Arsyad Thalib Lubis yang terkenal sebagai ulama terkenal di Sumatera Utara. Tuan Arsyad juga terkenal sebagai ahli kristologi dalam mengcounter iklim kristenisasi yang marak terjadi pada saat itu.Hal tersebut merupakan keunggulan Al Washliyah dari ormas islam lainnya yang dapat dikembangkan kedepannya. Dengan kata lain Al Washliyah mesti memiliki konsep yang merangkul para mualaf yang ingin belajar keislaman. Konsep dakwah yang diajarkan Tuan Arsyad sangat disukai oleh mualaf pada saat itu.Â
Harapannya Al Washliyah memiliki semacam Al Washliyah Mualaf Centre. Rumah mualaf sangat dibutuhkan para mualaf belakangan ini. Banyak mualaf-mualaf didaerah yang kebingungan untuk belajar tentang agama secara tertata. Kalangan mualaf memilih untuk belajar kepada personalia ustadz-ustadz tanpa konsep yang terukur. Alhasil terbentuklah kelompok-kelompok mualaf yang berpemahaman tekstual dalam memahami agama Islam. Harusnya Al Washliyah hadir dalam membentuk program dakwah bagi mualaf secara nasional. Al Washliyah dapat mendirikan rumah-rumah mualaf di berbagai pengurus wilayah di Indonesia. Diikuti dengan dibuatnya kurikulum pembelajaran yang diperuntukkan bagi muallaf. Ciri khas tersebut dapat menjadi keunggulan utama Al Washliyah ketimbang ormas islam lainya di Indonesia.
3. Digitalisai Al Washliyah
Permasalahan organisasi bahkan perusahaan hampir semua sama yaitu, Old System atau sistem yang telah usam. Begitu juga yang terjadi pada ormas islam Al Jam'iyatul Washliyah. Beberapa sistem dakwah yang selama ini digunakan oleh Al Washliyah sepertinya mesti mengalami improvisasi atau pembaharuan.Â
Di era industry 4.0 Al Washliyah diharapkan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tak hanya soal media sosial yang sudah seharusnya dijadikan media dakwah.akan tetapi new system harus meliputi sistem administrasi, digitalisasi pendidikan, dan aset yang dimiliki Al Washliyah. Kedepannya, Al Washliyah diharapkan dapat memiliki sistem administrasi yang terkoneksi antara penguru besar, wilayah hingga ranting di seluruh Indonesia. Seluruh warga Al Washliyah di harapkan memiliki portal tersendiri mengenai data diri, aktivitas, hingga kreativitas yang terhubung dengan program organisasi.Â
Kemudian digitalisasi aset mesti dilakukan dengan cara mendata, mengkelompokkan aset-aset Al Washliyah kedalam satu platform digital yang dapat diakses secara umum dan transparan oleh warga Al Washliyah. Sistem digitalisasi pendidikan Al Washliyah juga harus hadir untuk memudahkan pendidik serta peserta didik.Â
Teknisnya, diharapkan kampus, sekolah, bahkan lembaga non formal yang bernaung di Al Washliyah membiasakan pelatihan teknologi pada praktek-praktek pembelajarannya. Peserta didik dan tenaga didik diberikan insfrastruktur teknologi yang cukup guna digunakan saat proses belajar mengajar. Tak cukup itu, diperlukan pelatihan berkala teknologi, design grafis, komunikasi visual bagi guru, dosen Al Washliyah yang dimungkinkan untuk berkolaborasi bersama ISARAH, IGDA.
Kesimpulannya, 93 tahun Al Washliyah telah menorehkan sejarah panjang bagi bangsa Indonesia, torehan positif masih banyak yang harus dilanjutkan serta dibumbui oleh inovasi para kader Al Washliyah. Kedepannya aktor intelektual Al Washliyah diharapkan tak hanya menjadi penonton global melainkan menjadi pemain penting dalam pengembangan peradaban kebangsaan serta keislaman dimasa depan. Selamat milad Al Jam'iyatul Washliyah ke 93 Hijriyah, Jayalah Washliyah Zaman Berzaman...
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H