Mohon tunggu...
Raisa Zahira
Raisa Zahira Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa - MAHASISWI UNIVERSITAS MERCU BUANA | S1 AKUNTANSI | NIM 43223010052

Mata Kuliah: Pendidikan Anti Korupsi dan Kode Etik UMB. Dosen Pengampu: Prof. Dr. Apollo Daito, S.E., Ak., M.Si., CIFM., CIABV., CIABG

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Kebatinan Ki Ageng Suryomentaram pada Upaya Pencegahan Korupsi dan Transformasi Mempimpin Diri Sendiri

28 November 2024   20:05 Diperbarui: 28 November 2024   20:05 336
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Latar Belakang Ki Ageng Suryomentaram (KAS)

Ki Ageng Suryomentaram, yang bernama asli Bendoro Raden Mas Kudiarman, lahir pada 20 Mei 1892 di lingkungan Keraton Yogyakarta. Ia merupakan salah satu putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VII, sultan yang bertahta di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. dan merupakan keturunan keluarga bangsawan Jawa. Meskipun lahir sebagai pangeran, perjalanan hidupnya menempuh jalur yang unik karena ia memilih meninggalkan gelar kebangsawanannya untuk menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa untuk hidup sederhana dan mendalami ilmu pengetahuan serta kehidupan masyarakat. Ki Ageng Suryomentaram (1892--1962) adalah seorang tokoh filsuf, budayawan, dan pemikir yang terkenal karena gagasan-gagasannya tentang psikologi Jawa dan konsep keseimbangan hidup.

Sebagai seorang pangeran, seperti saudara-saudaranya yang lain, Bendara Raden Mas Kudiarmadji bersama-sama belajar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan kraton. Tingkat pendidikan sekolah ini kurang lebih sama dengan sekolah dasar sekarang. Selepas dari Srimanganti, dilanjutkan dengan kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Setelah selesai kursus, bekerja di gubernuran selama 2 tahun lebih. BRM Kudiarmadji mempunyai kegemaran membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan agama Islam dan mengaji didapat dari K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Awal mula Ki Ageng Suryomentaram meninggalkan kebangsawanannya.

Pada usia 20-an, ia memutuskan untuk meninggalkan status kebangsawanannya. Awalnya, Ki Ageng Suryomentaram bergelar Pangeran Surya Mataram. Ia menanggalkan gelar kepangeranannya. Keputusan ini didasari oleh keinginannya untuk hidup sederhana dan mendalami pengalaman sebagai rakyat kecil. Nama "Ki Ageng Suryomentaram" ia pilih untuk mencerminkan identitas barunya sebagai seorang guru dan pembelajar kehidupan, bukan lagi sebagai pangeran. Keputusan ini bermula saat ia melihat betapa beratnya hidup petani yang bekerja di sawah.

Ki Ageng berkomitmen untuk memahami kehidupan manusia melalui interaksi langsung dengan rakyat kecil. Ia percaya bahwa kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh pemahaman mendalam tentang diri sendiri dan kehidupan yang seimbang.

Ki Ageng Suryomentaram menjadi guru dari suatu aliran kebatinan yang bernama Kawruh Jiwa atau Ilmu Jiwa. Salah satu ajaran moral dari Kawruh Jiwa yang sangat populer pada masa itu adalah Aja Dumeh yang artinya jangan menyombongkan diri, jangan membusungkan dada, jangan mengecilkan orang lain karena diri sendiri lebih berpangkat tinggi, berkuasa atau kaya raya, sebab manusia itu pada hakikatnya adalah sama.

Pemikiran kebatinan Ki Ageng Suryomentaram memiliki relevansi yang kuat dalam upaya pencegahan korupsi dan transformasi kepemimpinan diri. Ajarannya, yang berakar pada kawruh jiwa (ilmu tentang jiwa atau kesadaran diri), menawarkan pendekatan mendalam untuk memahami bagaimana individu dapat mengelola dirinya sendiri berupaya membantu individu mencapai ketenangan batin, kebahagiaan sejati, dan harmoni dalam kehidupan melalui pemahaman mendalam tentang diri sendiri sehingga terhindar dari perilaku destruktif seperti korupsi dan menjadi pemimpin yang efektif.

Menurut Ki Ageng Suryomentaram, cara mengolah diri dan batin dapat dilakukan dengan Enam "SA" yaitu,

  • Sa-butuhne (sebutuhnya),
  • Sa-perlune (seperlunya),
  • Sa-cukupe (secukupnya),
  • Sa-benere (sebenarnya),
  • Sa-mesthine (semestinya),
  • Sak-penake (seenaknya).

Enam "SA" Ki Ageng Suryomentaram dapat dijadikan penalaran Rasionalitas Reflektif dan Rasionalitas Akomodatif. Dalam setiap tulisannya, Ki Ageng selalu mengajak kita untuk berpikir rasional, memeriksa ulang keyakinan-keyakinan yang kita miliki secara cermat dan teliti, membuka selubung-selubung yang menutupinya, hingga kita mendapatkan saripati pengetahuan yang terang dan jernih. Pengetahuan yang jernih inilah yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan.

Namun, rasionalitas pemikiran Ki Ageng tersebut berbeda dengan rasionalitas Barat yang secara umum bercorak egosentris. Rasionalitas yang dimaksud Ki Ageng adalah rasionalitas yang reflektif, di mana ia meliputi dimensi rasa, potensi reflektif dan intuitif dari rasio manusia, serta rasionalitas yang akomodatif, yang menempatkan rasa orang lain sebagai bagian tak terpisahkan dalam upaya mencapai kebenaran dan kebahagiaan. 

Jika dibenturkan dengan isme-isme rasional, model berpikir Suryomentaram masuk dalam katagori nalar rasional reflektif. Berbeda dengan rasional egoistik, tipe rasional reflektif tidak saja memberikan perhatian kepada logika semata, tetapi juga pada kemaslahatan sosial. Sebagai ilustrasinya, 2+3 jika dijawab melalui rasional egoistik, maka jawabannya pasti 5. Namun, saat dijawab melalui rasional reflektif, bisa saja jawabannya 11, bisa juga 8, dan sebagainya. Model nalar rasional reflektif ini sangat bergantung pada konteks yang melingkarinya.

Lebih jauh, dalam klasifikasinya, di sini terdapat tiga nalar yang bersifat hirarkis, yaitu rasional egoistik, reflektif, dan akomodatif. Pertama, itu bisa disebut sebagai model nalar yang masih ingusan. Andai itu naik tingkat, maka sampai pada nalar level II, yaitu reflektif. Saat nalar pertama masih kaku, acuh tak acuh dengan kebenaran lain, maka nalar kedua lebih bisa menerima kebenaran di luar dirinya. Kemudian keduanya mencapai puncaknya pada nalar rasional akomodatif. Pada tataran nalar tertinggi ini, orientasinya bukan lagi benar atau salah, tetapi pada sesuatu yang melebihi keduanya, yang melebihi kebenaran. 

Modul Prof. Apollo
Modul Prof. Apollo

Konsep Enam "SA" versi Ki Ageng Suryomentaram ini adalah panduan hidup sederhana tetapi mendalam, yang bertujuan untuk mengolah diri dan batin agar seseorang dapat hidup secara seimbang, bahagia, dan harmonis. Setiap elemen dalam Enam "SA" ini menekankan kesadaran, pengendalian diri, dan penerimaan terhadap keadaan dengan tetap menghormati prinsip-prinsip etis.

  • Sa-butuhne (sebutuhnya)

Memiliki arti memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan kebutuhan nyata, tanpa berlebihan atau kurang. Prinsip ini mengajarkan manusia untuk tidak terjebak dalam keinginan (nafsu) yang melebihi kebutuhan dasarnya.

Contoh: Jika makan hanya butuh untuk mengenyangkan perut, tidak perlu berlebihan untuk pamer atau sekadar memuaskan ego dan Membeli pakaian yang sesuai kebutuhan, tidak harus mengikuti tren yang mahal jika fungsinya sama.

  • Sa-perlune (seperlunya)

Memilik arti melakukan sesuatu sesuai dengan keperluannya, tanpa melakukan hal-hal yang tidak penting atau tidak mendesak. Mengajarkan efisiensi dalam tindakan dan keputusan, serta fokus pada hal-hal yang benar-benar penting.

Contoh: Dalam bekerja, seseorang cukup fokus pada tugas utamanya tanpa membuang waktu untuk hal yang tidak produktif dan Membeli barang hanya jika benar-benar diperlukan, seperti membeli buku karena ingin belajar, bukan karena diskon semata.

  • Sa-cukupe (secukupnya)

Memiliki arti merasa cukup dengan apa yang dimiliki tanpa memaksakan diri untuk mendapatkan lebih, baik dalam hal materi, waktu, maupun kesempatan. Mengajarkan rasa syukur dan penerimaan terhadap rezeki yang sudah ada, tanpa terus-menerus merasa kurang.

Contoh: Merasa cukup dengan penghasilan yang ada, tanpa harus memaksakan diri untuk mengambil jalan pintas, seperti korupsi atau utang berlebihan dan Menggunakan waktu istirahat secukupnya, tidak berlebihan sehingga mengabaikan tugas, tetapi juga tidak terlalu sedikit sehingga mengorbankan kesehatan.

  • Sa-benere (sebenarnya)

Memiliki arti bersikap, berbicara, dan bertindak sesuai dengan kebenaran yang ada, tanpa manipulasi atau kebohongan/kepalsuan. Mengajarkan kejujuran, integritas, dan keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan.

Contoh: Menyampaikan laporan yang jujur di tempat kerja, tanpa merekayasa data untuk keuntungan pribadi.

  • Sa-mesthine (semestinya)

Memiliki arti menjalankan peran, tanggung jawab, dan tindakan sesuai dengan aturan, moral, norma, atau kodrat yang berlaku. Mengajarkan kesadaran akan tugas dan tanggung jawab, tanpa melampaui batas atau mengambil hak orang lain.

Contoh: Memimpin organisasi dengan adil sesuai mandat yang diberikan, tanpa menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan Mengikuti aturan lalu lintas saat berkendara, tidak melanggar hak orang lain.

  • Sak-penake (seenaknya)

Memiliki arti memberikan ruang bagi diri sendiri untuk menikmati hidup dengan cara yang tidak memberatkan atau melanggar batas. Mengajarkan pentingnya keseimbangan antara tanggung jawab dan waktu untuk diri sendiri agar hidup tidak menjadi beban.

Contoh: Mengambil waktu istirahat setelah bekerja keras tanpa merasa bersalah dan Tidak terlalu memaksakan diri untuk diterima oleh orang lain, cukup menjadi diri sendiri dengan sikap yang santai dan nyaman.

Kawruh Jiwa

Kawruh Jiwa adalah konsep inti dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram yang berfokus pada pengenalan dan pengelolaan diri melalui pemahaman batin (jiwa). Istilah ini secara harfiah berarti ilmu tentang jiwa dan berupaya membantu individu mencapai ketenangan batin, kebahagiaan sejati, dan harmoni dalam kehidupan melalui pemahaman mendalam tentang diri sendiri (ngelmu kasunyatan).

Kawruh Jiwa merupakan rangkuman pengetahuan yang lahir dari pengalaman hidup Ki Ageng Suryomentaram, uraian mendalam tentang hakikat jiwa dan rasa manusia. Ki Ageng Suryomentaram meneliti selama empat puluh tahun lebih tentang kedalaman rasa, hingga melahirkan pengetahuan yang jernih untuk memahami manusia apa adanya, menuntun sesamanya agar sanggup memahami rasa dalam dirinya sendiri dan orang lain tanpa balutan citra, yang ikhlas berdamai dengan segala hal tanpa penghakiman, yang mengerti hakikat pengabdian kepada Gusti Yang Mahasuci.

Ki Ageng Suryomentaram, mengatakan bahwa Kawruh jiwa adalah ilmu tentang "rasa" (raos) atau kawruh raos. Belajar Kawruh jiwa adalah belajar mengenai jiwa dengan segala wataknya (meruhi jiwa lan sawateg-wategipun). Belajar Kawruh jiwa, diharapkan seseorang dapat hidup jujur, tulus, percaya diri (tatag), tentrem, tenang, penuh kasih sayang, mampu hidup berdampingan secara baik dengan sesamanya dan alam lingkungannya, serta penuh rasa damai. Keadaan tersebut mengantarkan seseorang kepada kehidupan yang sejati, tidak tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan. (Mboten gumantung papan, wekdal, lan kawontenan). Inti pelajaran Kawruh jiwa adalah belajar memahami diri sendiri (meruhi awakipun piyambak) secara tepat, benar, dan jujur, sebagai bekal untuk mampu memahami atau mengerti orang lain serta alam lingkungannya. Kawruh jiwa, salah satu sarana penting agar seseorang dapat hidup berdampingan secara damai dan bahagia dengan sesamanya.

Modul Prof. Apollo
Modul Prof. Apollo

Trait Theories of Leadership

Trait Theories of Leadership adalah teori yang berfokus pada karakteristik atau sifat bawaan yang dianggap penting untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif. Teori ini mengusulkan bahwa individu tertentu memiliki sifat atau ciri kepribadian tertentu yang secara alami membuat mereka lebih cocok untuk memimpin. Trait Theory atau yang sering kita sebut sebagai teori sifat kepribadian ini meyakini bahwa orang yang dilahirkan atau dilatih dengan kepribadian tertentu, akan menjadikan mereka unggul dalam peran kepemimpinan. Hal ini dapat diartikan sebagai, kualitas kepribadian tertentu seperti keberanian, kecerdasan, pengetahuan, kecakapan, daya tanggap, imajinasi, fisik, kreativitas, rasa tanggung jawab, disiplin dan nila-nilainya lainnya dapat membuat seseorang menjadi pemimpin yang baik. Teori kepemimpinan ini fokus terhadap analisis karakteristik mental, fisik dan sosial guna mendapatkan lebih banyak pemahaman dan pengetahuan tentang karakteristik dan kombinasi karakteristik yang umum di antara para pemimpin.

Hubungan Trait Theories of Leadership dengan Kawruh Jiwa

Walaupun Trait Theories of Leadership berangkat dari asumsi bahwa sifat kepemimpinan cenderung bawaan, ada kaitannya dengan Kawruh Jiwa dalam hal pengelolaan sifat-sifat individu untuk kepemimpinan yang efektif. Berikut adalah beberapa keterkaitan antara keduanya:

a. Pengenalan Diri dalam Kawruh Jiwa. 

Kawruh Jiwa menekankan pentingnya mengenali dan memahami sifat serta potensi diri. Hal ini sejalan dengan prinsip Trait Theories yang menyebutkan bahwa pemimpin perlu memahami sifat-sifat mereka untuk memanfaatkan kekuatan tersebut secara efektif.

Contoh: Seseorang yang sadar bahwa ia memiliki sifat kepercayaan diri yang tinggi dapat memanfaatkannya untuk memimpin tim dengan lebih baik.

b.Pengendalian dan Pemanfaatan Sifat.

Kawruh Jiwa mengajarkan pengelolaan sifat-sifat seperti ambisi, emosi, atau rasa iri agar tidak menjadi penghalang dalam mencapai kebahagiaan dan harmoni. Dalam kepemimpinan, ini relevan untuk memastikan sifat-sifat tertentu, seperti keberanian, tidak berubah menjadi arogansi atau keputusan impulsif.

Contoh: Pemimpin dengan kecenderungan dominan belajar untuk menggunakan sifat tersebut untuk mengarahkan tim tanpa menjadi otoriter.

c. Keseimbangan Sifat dan Perilaku Kepemimpinan.

Dalam Kawruh Jiwa, seseorang diajarkan untuk hidup seimbang melalui prinsip sa-cukupe (secukupnya) dan sa-mesthine (semestinya). Hal ini membantu pemimpin memanfaatkan sifat-sifat bawaan mereka secara proporsional, tidak berlebihan, dan sesuai dengan kebutuhan situasi.

Contoh: Pemimpin dengan sifat keberanian dapat menyesuaikan keberaniannya agar tetap sesuai dengan kondisi dan tanggung jawabnya.

d. Kejujuran dan Integritas. 

Kawruh Jiwa dan Trait Theories sama-sama menempatkan kejujuran sebagai sifat utama dalam kepemimpinan. Melalui prinsip sa-benere (sebenarnya), Kawruh Jiwa mengajarkan pentingnya bertindak sesuai dengan kebenaran, yang menjadi landasan kepemimpinan yang dapat dipercaya.

Contoh: Pemimpin yang bertindak berdasarkan prinsip kebenaran akan mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari timnya.

e. Transformasi Kepemimpinan Melalui Pengolahan Jiwa.

Jika Trait Theories cenderung memandang sifat sebagai sesuatu yang tetap, Kawruh Jiwa menawarkan pendekatan dinamis, di mana individu dapat mengenali sifat-sifat yang mereka miliki, mengolahnya, dan menggunakannya untuk menjadi pemimpin yang lebih efektif. 

Contoh: Seseorang yang kurang percaya diri dapat mengembangkan rasa percaya diri melalui kesadaran diri dan praktik bertahap.

Trait Theories of Leadership dan Kawruh Jiwa saling melengkapi dalam konteks kepemimpinan. Trait Theories menekankan pentingnya sifat-sifat tertentu dalam kepemimpinan, sementara Kawruh Jiwa menyediakan pendekatan praktis untuk mengenali, mengelola, dan memanfaatkan sifat-sifat tersebut secara bijaksana. Melalui pemahaman Kawruh Jiwa, pemimpin dapat mengembangkan kesadaran diri yang mendalam dan memastikan bahwa sifat-sifat bawaan mereka digunakan untuk kebaikan, keseimbangan, dan keberhasilan dalam memimpin.

 

Pangawikan Pribadi 

Pangawikan Pribadi adalah konsep yang berasal dari ajaran Ki Ageng Suryomentaram dalam Kawruh Jiwa, yang berfokus pada pengenalan mendalam terhadap diri sendiri. Istilah pangawikan dalam bahasa Jawa berarti "pengetahuan" atau "pemahaman," sedangkan pribadi mengacu pada diri seseorang. Dengan demikian, Pangawikan Pribadi adalah proses atau usaha untuk memahami dan menyadari sifat, pikiran, perasaan, dan perilaku individu secara utuh.

Rasa itu menandai hidup orang. Kalau hanya badan saja tanpa rasa, disebut bangkai. Mempelajari tentang rasa adalah mempelajari tentang orang. Mempelajari tentang orang berarti mempelajari tentang manusia. Jadi mempelajari tentang orang, dapat dikatakan mempelajari diri sendiri, sehingga mampu memahami diri sendiri, yang disebut Pangawikan pribadi. Menurut Ki Ageng, bisa disamakan dengan mempelajari manusia dan kemanusiaan. Karena kita semua adalah bagian dari makhluk bernama manusia, maka ketika kita mempelajari rasa diri sendiri dan berhasil memahaminya dengan tepat, tomatis kita akan memahami manusia pada umumnya.

Maka, Pangawikan Pribadi itu, mesti dimulai dari sekarang, di sini, dan dengan penuh keberanian menghadapi segala yang ada di hadapan kita secara apa adanya (saiki, ing kene, lan ngene) = sekarang, di sini, begini/dengan cara ini. Prinsip ini menjadi cara untuk mengajarkan manusia agar lebih hadir dalam momen hidupnya, tanpa terjebak dalam masa lalu atau kekhawatiran akan masa depan.

  • Saiki (Sekarang): fokus pada waktu sekarang, yaitu detik ini, bukan kemarin atau besok. Memiliki pesan bahwa masa lalu tidak bisa diubah, masa depan belum tentu terjadi, maka kebahagiaan hanya bisa dirasakan di saat ini.
  • Ing Kene (Di Sini): Kesadaran bahwa kehidupan terjadi di tempat di mana kita berada saat ini, bukan di tempat lain yang diidamkan atau dikhawatirkan. Memiliki pesan bahwa kita harus menghargai dan memahami lingkungan sekitar kita sebagai bagian dari kehidupan yang nyata.
  • Lan Ngene (Dengan Cara Ini): Kesadaran bahwa kondisi saat ini adalah yang sedang terjadi, tanpa berusaha melarikan diri ke keinginan yang tidak realistis. Memiliki pesan bahwa kita harus menerima apa yang ada saat ini dengan ikhlas, tanpa terlalu menghakimi atau membanding-bandingkan.

"Saiki, Ing Kene, Lan Ngene" adalah bagian integral dari Kawruh Jiwa, karena Menguatkan kesadaran diri (Pangawikan Pribadi) dan Membantu melepaskan obsesi terhadap Semat, Derajat, Keramat yang sering kali berkaitan dengan masa depan atau keinginan yang belum terpenuhi.

Modul Prof. Apollo
Modul Prof. Apollo

Dalam upaya mengetahui diri sendiri tidak perlu saling mencocokkan dengan orang lain. Yang paling perlu adalah mencocokkan dengan diri pribadi. Bila diperlukan saksi dalam pangawikan pribadi, cukup dengan beberapa orang saja.

"Di atas bumi dan di bawah langit ini tidak ada yang pantas dicari-cari (diburu) ataupun ditolak (disingkiri) secara mati-matian." (Ki Ageng Suryomentaram)

Meskipun demikian manusia itu tentu berusaha mati-matian untuk mencari, menghindari atau menolak sesuatu, walaupun itu tidak sepantanya dicari, ditolak atau dihindarinya.

Padahal jika orang berhasil memperoleh apa yang dicari-cari atau diburunya, tidak lantas membuat orang tersebut bahagia. Kalau ia merasakan kebahagiaan, rasa itu biasanya hanya berlangsung sebentar dan selanjutnya ia akan kembali merasakan susah. Tetapi pada waktu orang menginginkan sesuatu, pasti ia mengira atau berpendapat bahwa "jika keinginanku tercapai, tentulah aku Bahagia dan senang selamanya; dan jika tidak tercapai tentulah aku celaka dan susah selamanya".  Sebaliknya, bila hal yang tidak diinginkan, ditolak, atau disingkiri itu terjadi pada dirinya, apa yang terjadi itu tidak lantas membuat orang tersebut menjadi susah. Kalau ia merasakan susah, rasa itu biasanya hanya berlangsung sebentar dan selanjutnya ia akan kembali merasakan bahagia.

Keinginan

Sumber ketidakbahagiaan menurut Ki Ageng Suryomentaram adalah keinginan. Wujud keinginan itu ada semat, drajat dan kramat. Keinginan muncul atau lahir dalam usaha mencapai semat (kekayaan), drajat (kedudukan), dan kramat (kekuasaan).

  • Mencari semat adalah mencari kekayaan, keenakan, dan kesenangan.
  • Mencari drajat adalah mencari keluhuran, kemuliaan, kebanggaan, dan keutamaan.
  • Mencari kramat adalah mencari status sosial, kekuasaan, kepercayaan, agar disegani, agar dipuja-puji.

Bila keinginan-keinginan mencapai semat, drajat, kramat, salah satu atau dua di antaranya tercapai pasti keinginan itu akan mulur sampai mentok, kemudian akan mungkret lagi sampai mentok juga. Keinginan yang sifatnya mulur dan mungkret membuat orang sebentar bahagia dan sebentar susah.

Mulur -- Mungkret

Mulur-Mungkret adalah sebuah konsep dalam ajaran Ki Ageng Suryomentaram yang menggambarkan dinamika batin atau perasaan manusia yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini menyebutkan dua keadaan emosional yang sering dialami oleh manusia: mulur (meluas) dan mungkret (menyempit).

Yang menyebabkan senang lalah tercapainya keinginan. Keinginan tercapal menimbulkan rasa senang, enak, lega, puas, tenang, gembira. Padahal keinginan ini bila tercapai pasti mulur, memanjang, dalam arti meningkat. Ini berarti bahwa hal yang dinginkan itu meningkat entah jumlahnya entah mutunya sehingga tidak dapat tercapai dan hal ini akan menimbulkan susah. Jadi senang itu tidak dapat berlangsung terus-menerus.

Demikian pula rasa susah pun tidak tetap. Karena susah itu disebabkan tidak tercapainya keinginan yang berwujud rasa tidak enak, menyesal, keewa, tersinggung, marah, malu, sakit, terganggu dan sebagainya. Padahal keinginan itu bila tidak tercapai pasti mungkret (menyusut), dalam arti bahwa apa yang dinginkan itu berkurang, baik dalam jumlah maupun mutunya, sehingga dapat tercapai, maka timbulah rasa senang. Jadi rasa susah itu tidak tetap.

Pentingnya Mengelola Mulur dan Mungkret dalam Kehidupan

Dalam ajaran Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram, mulur dan mungkret menggambarkan dua kutub perasaan manusia yang dapat saling mempengaruhi satu sama lain. Jika seseorang terjebak dalam mulur (keinginan yang berlebihan), ia bisa merasakan kekosongan atau ketidakpuasan. Sebaliknya, jika seseorang terlalu sering dalam keadaan mungkret (rasa takut atau merasa tidak mampu), ia akan terhambat dalam perkembangan dan pencapaian tujuannya.

Prinsip dalam Kawruh Jiwa mengajarkan bagaimana seharusnya kita menyeimbangkan keduanya:

  • Menghindari mulur yang berlebihan dengan mengenali batas kebutuhan (misalnya melalui prinsip sa-cukupe dan sa-perlune).
  • Mengatasi mungkret dengan meningkatkan kesadaran diri (melalui Pangawikan Pribadi) dan penerimaan terhadap diri sendiri, serta hidup sesuai dengan kenyataan saat ini (saiki, ing kene, lan ngene).

Modul Prof. Apollo
Modul Prof. Apollo

Kesementaraan Senang-Susah

Keinginan (karep) kalau tercapai dirasa senang-bahagia, kemudian mulur. Kalau tidak tercapai, susah, kemudian mungkret. Jadi, keinginan apa pun boleh saja muncul, tidak ada yang mengkhawatirkan. Maka senang dan susah itu tidak tetap.

Senang itu disebabkan karena keinginan tercapai, dan keinginan yang tercapai ini mesti mulur sehingga yang dinginkan tidak mungkin tercapai, maka timbullah rasa susah.

Kesusahan itu disebabkan karena keinginan tidak tercapai, padahal keinginan yang tidak tercapai ini mesti mungkret sehingga apa yang dinginkan itu mungkin tercapai, maka akan tercapailah keinginan itu dan rasa senang timbul, jadi keinginan itu bila mungkret akan mencapai apa yang dinginkan maka timbullah rasa senang, dan keinginan itu mulur. Mulur ini berlangsung sehingga tidak tercapai apa yang dinginkan maka timbul rasa susah dan keinginan itu mungkret.

Mungkret, tercapai, senang, mulur lagi. Mulur, tidak tercapai, susah, mungkret lagi.

Rasa Sama

Semua manusia di dunia ini memiliki 'rasa sama' yang sama saja, yakni pasti sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah. Mau orang itu orang kaya, orang miskin, raja, kuli, wali, bajingan, semuanya memiliki rasa hidup yang sama, ialah sebentar senang lalu sebentar susah. Rasa hidup yang kita alami mungkin tidak jauh berbeda satu sama lain, yaitu senang dan susah (rasanya senang-susah, lama-cepatnya, berat-ringannya). Sedanglan yang berbeda adalah hal-hal yang kita anggap menyenangkan atau menyusahkan, apa yang dianggap berharga, penting, atau diinginkan oleh setiap individu. Misalnya, bagi seorang kaya, kekayaan bisa menjadi sumber kebahagiaan, sedangkan bagi orang miskin, mungkin justru kekurangan harta yang menjadi penderitaan.

Apabila mengerti bahwa rasa orang di dunia sama saja, yakni sebentar senang, sebentar susah, bebaslah kita dari penderitaan neraka iri hati dan kesombongan. Iri hati dan kesombongan adalah dua perasaan yang sering muncul karena perbandingan dengan orang lain. Seseorang yang merasa lebih tinggi atau lebih baik daripada orang lain mungkin jatuh dalam kesombongan, sementara yang merasa kurang beruntung atau tidak sebanding bisa terperangkap dalam rasa iri. Ajaran ini mengajarkan untuk melepaskan perasaan iri dan sombong dengan menyadari bahwa semua orang merasakan pasang surut kehidupan yang serupa. Tidak ada kehidupan yang sempurna tanpa kesulitan, dan tidak ada kebahagiaan yang bertahan selamanya. Dengan menyadari hal ini, kita bisa lebih bijaksana dan tidak terjebak dalam perasaan negatif yang timbul akibat membandingkan diri dengan orang lain.

Maka dari itu, semua manusia memiliki 'rasa sama' yang sama sesuai dengan enam "SA" menurut Ki Ageng Suryomentaram. Bahwa apabila orang mengerti bahwa semua rasa orang di dunia ini sama maka teranglah pandangannya, bebaslah ia dari penderitaan neraka iri hati-sombong yang kemudia bisa masuk surga ketentrman. Artinya, dalam segala hal bertindak seenalnya, sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, semestinya, dan sebenar-benarnya, yaitu pasti sebentar senang, sebentar susah.

Neraka Dunia

Dengan bekal memahami mulur-mungkret dan senang-susah, kita bisa terhindar dari neraka dunia.

Nerakanya dunia yang pertama adalah Meri (iri) lan pambegan (sombong). Iri adalah tanda level kita lebih rendah dibandingkan dengan orang yang kita irikan. Begitu kita merasa meri, tiap hari akan seperti neraka, tiap hari kita akan memikirkan bagaimana bisa menyamai semat, drajat, dan kramat kita bisa naik dan menandingi orang yang kita irikan.

Neraka dunia kedua adalah pambegan, sombong (merasa tinggi). Merasa menang terhadap orang lain. Orang yang sombong juga neraka bagi dirinya sendiri. Merasa lebih baik, merasa lebih utama, dibandingkan dengan orang lain.

Ketiga, Rasa Getun (kecewa). Takut akan pengalaman yang sudah dialami. Orang yang selalu meratapi masa lalu tidak akan bahagia. "Coba kemarin saya begini, tidak akan seperti ini sekarang." "Coba kemarin saya begitu, sekarang tidak akan seperti ini" dan seterusnya. Menyesali masa lalu secara terus menerus (getun keduwung) tidak akan membuat kita bahagia.

Keempat, Sumelang (khawatir/was-was). Takut akan pengalaman yang akan dialami alias keadaan yang belum terjadi. Mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi pada masa yang akan datang juga menyebabkan kita berada dalam kesusahan bahkan sebelum sesuatu itu terjadi. Ini yang dimaksud magang cilaka. Peristiwanya belum terjadi tapi sudah merasa susah. Kalau keempat itu ada di diri kita, kita akan hidup seperti di nerakanya dunia, kata Ki Ageng. Ini rumus negatifnya.

Kempat inilah yang menyebabkan raos tatu (merasa terluka) dan ciloko peduwung (merasa celaka yang berkelanjutan).

Maka nikmati saja saat ini. Masa depan mungkin akan mengkhawatirkan, tapi akan ada senang dan susahnya. Menikmati masa sekarang bisa dilakukan dengan cara meminimalkan atau menolkan rasa "Sesal-Khawatir".

Modul Prof. Apollo
Modul Prof. Apollo

Sesal-Khawatir

Menyesal ialah takut akan pengalaman yang telah dialami. Khawatir ialah takut akan pengalaman yang belum dialami. Menyesal dan khawatir ini yang menyebabkan orang bersedih hati, prihatin, hingga merasa celaka.

Perasaan menyesal itu seperti: "Andaikata dulu aku bertindak demikian, bahagialah sudah aku ini, tidaklah celaka begini." Bila orang mengerti bahwa manusia itu "abadi", dapatlah ia menasehati dirinya sebagai berikut: "Walaupun dulu bagaimana saja, pasti rasanya sebentar senang sebentar susah."

Bila kita sudah mencapai tahap menyadari atau memahami gagasan/pemikiran diri sendiri maka disebut Meruhi Gagasane Dhewe. Meruhi gagasane dhewe, maksudnya individu sudah berhasil memisahkan antara dirinya dan perasaannya. Apa yang dia rasakan, senang-susah hanyalah perasaan

Selain senang-susah yang berupa perasaan, manusia terlahir di dunia memiliki atribut-atribut yang seringkali sulit ditanggalkan, misalnya semat (kekayaan), derajat (kedudukan), dan kramat (kekuasaan), padahal atribut tersebut hanya semu. Orang dengan ketiga atribut tersebut, apabila belum bisa memahami khayalannya sendiri akan merasa waswas (sumelang) bahwa atribut yang dibanggakannya itu bisa sewaktu-waktu dicabut. Ketika seseorang sudah memisahkan aku (diri sendiri) dan aku (atribut-atribut duniawi), maka orang itu akan lebih merasa damai, percaya diri, dan lebih bahagia. Tingkatan ini dalam Kawruh Jiwa disebut "menungso tanpo tenger" atau manusia tanpa ciri. Maksudnya manusia tanpa ciri adalah mereka yang usai berhasil melepaskan semua belenggu topeng-topeng kehidupan kemudian pure menjadi manusia otentik.

Mawas Diri 

Mawas Diri menurut ajaran Ki Ageng Suryomentaram adalah kemampuan untuk memahami dan mengenali keadaan diri sendiri, baik dari segi pikiran, perasaan, maupun tindakan. Dalam ajarannya, Ki Ageng menekankan pentingnya kesadaran penuh terhadap diri sendiri, tanpa terjebak pada penilaian atau penghakiman, sebagai cara untuk mencapai kedamaian batin dan kebijaksanaan dalam hidup.

Mawas diri berarti mengenali apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan, tanpa menyalahkan diri sendiri atau mencari pembenaran. Ini mencakup kesadaran terhadap rasa senang, susah, iri (meri), sombong (pambegan), kecewa (getun), atau khawatir (sumelang), dan menyadari bahwa semua perasaan tersebut bersifat sementara.

Mawas diri membantu seseorang mengenali keinginan terhadap semat (kekayaan), drajat (kedudukan), dan kramat (kekuasaan) yang sering menjadi penyebab ketidakseimbangan batin, apakah dorongan tersebut memang kebutuhan sejati atau hanya keinginan berlebihan. Mawas diri juga melibatkan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan seperti apakah tindakan itu membawa kebaikan atau justru menimbulkan masalah dan apakah tindakan itu sejalan dengan nilai-nilai kebenaran atau hanya didorong oleh hawa nafsu.

Proses dari mawas diri merupakan proses menuju kebahagiaan yang dicapai Ketika seseorang berhasil menjadi manusia tanpa ciri karena manusia tersebut terbebas dari karep (keinginan) yang meliputi:

  1. Nyowong karep

Nyowong karep atau yang memiliki arti menyadari keinginan atau "memberi wajah" kepada keinginan kita sendiri. Proses ini melibatkan pengenalan dan pemahaman terhadap apa yang sebenarnya diinginkan oleh diri kita.

Nyowong karep di sini adalah bagaimana kita penting untuk selalu berusaha memahami diri sendiri, menguasainya, dan kemudian mengontrolnya. Karena yang bisa mengontrol manusia adalah keinginannya. Dengan lain ucapan, sebagai alternatif langkah saja, kita perlu memahami diri kita terlebih dahulu, menguasainya, baru bisa menginjak level mengontrol.

Nyowong karep memiliki tujuan untuk mengetahui apa yang menjadi akar dari rasa puas atau rasa kurang. Dengan nyowong karep, seseorang tidak menolak keinginan, tetapi memahaminya dengan jernih.

  1. Memandu karep

Memandu karep atau yang memiliki arti (Mengendalikan Keinginan). Setelah menyadari keinginan, langkah selanjutnya adalah memandu karep, yaitu mengarahkan keinginan agar tidak membawa kita pada penderitaan atau konflik.

Ini berarti kita harus mampu mengelola keinginan sesuai dengan kebutuhan nyata dan tidak berlebihan, seperti yang diajarkan dalam prinsip Enam "SA". Keinginan tidak dihilangkan sepenuhnya, tetapi diarahkan agar selaras dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

Memandi karep memiliki tujuan untuk menyeimbangkan antara keinginan dan realitas, sehingga hidup tetap harmonis dan tidak terganggu oleh hasrat yang tidak terkendali.

  1. Membebaskan karep

Membebaskan karep atau yang memiliki arti (Melepaskan Keterikatan pada Keinginan). Membebaskan karep adalah tahap tertinggi, yaitu melepaskan keterikatan pada keinginan atau hasil dari keinginan itu sendiri.

Ini berarti pada dasarnya keinginan bersifat sementara dan sering kali membawa penderitaan jika tidak tercapai atau hilang. Membebaskan karep berarti tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada terpenuhi atau tidaknya keinginan tersebut. Bukan berarti tidak memiliki keinginan, tetapi tidak terikat atau tergantung pada hasilnya.

Membebaskan karep memiliki tujuan untuk menghindari penderitaan yang timbul dari rasa kecewa (getun), iri (meri), atau khawatir (sumelang) terhadap hal-hal yang belum terjadi. Lalu, mencapai kebebasan batin, di mana seseorang dapat hidup dengan penuh kedamaian tanpa terbelenggu oleh hawa nafsu.

Modul Prof. Apollo
Modul Prof. Apollo

Intersubjektif/menelaah diri secara kognitif melalui dimensi juru catat/jiwa tumbuhan. Catatan jiwa Binatang, kramadangsa egoism, manusia tanpa ciri

Dalam melakukan mawas diri, terdapat beberapa strategi secara intersubjektif atau menelaah diri secara kognitif melalui beberapa dimensi. Ki Ageng menggolongkan kesadaran manusia pada beberapa tingkatan.

  • Dimensi I adalah kesadaran sebagai juru catat dalam diri.
  • Dimensi II adalah kumpulan catatan-catatan yang dicatat oleh si juru catat.
  • Dimensi III adalah kesadaran sebagai si kramadangsa alias pelaksana/pelayan dari seluruh catatan-catatan tersebut.
  • Dimensi IV adalah kesadaran puncak manusia menuju kondisi bahagia yang disebut sebagai manusia tanpa ciri.

Sejak bayi, manusia menjadi juru catat atas segala yang terindera lalu mewujud pada keinginan. Ia merekam segala kejadian dan peng'alam'an dalam memori. Menurut Ki Ageng, setidaknya ada 11 jenis catatan yang mendorong manusia bergerak, antara lain harta benda, kehormatan, kekuasaan, keluarga, golongan, kebangsaan, jenis, kepandaian, kebatinan, ilmu pengetahuan, dan rasa hidup. Setiap saat seseorang selalu digerakkan menjadi pelaksana atas catatan-catatan tersebut. Si kramadangsa adalah pelayan bagi tuan-tuan seluruh catatan itu. Dalam catatan 'rasa hidup', misalnya, seorang bayi akan merengek sebagai kode untuk meminta ASI saat merasa haus dan lapar. Persis pada saat itu, catatan 'rasa hidup' si bayi sedang butuh perhatian dan kemudian si kramadangsa dalam diri si bayi akan melayani catatan itu dengan cara mendorong si bayi tadi menangis. Pelaksana catatan inilah yang disebut sebagai si kramadangsa yang ada dalam diri setiap orang. Si kramadangsa selalu saja punya cara untuk melayani catatan-catatan itu.

Selagi seseorang belum mati, kesadaran Dimensi I alias si juru catat dalam diri akan terus melakukan pencatatan dan mengelompokkannya pada 11 jenis catatan tersebut. Sementara kesadaran Dimensi III/si kramadangsa dalam dirinya akan terus melayani seluruh catatan-catatan itu. Begitu seterusnya. Meski seluruh catatan-catatan tersebut bersifat mulur (mengembang)-mungkret (menyusut). Mana dan kapan saja catatan-catatan yang bisa memberi keuntungan dan kenyamanan terbesar bagi diri sendiri yang akan mendapat perhatian lebih besar dari si kramadangsa.

Jika catatan itu diberi perhatian, dihidupi, maka si kramadangsa akan senang. Sebaliknya, jika catatan itu ada yang mengganggu, maka si kramadangsa akan merasa susah, benci, dan marah.

Pada momen seperti inilah seseorang hidup pada kesadaran Dimensi III sebagai 'aku kramadangsa'. Salah satu pijar penting psikologi kawruh jiwa adalah kemampuan mengawasi gerak si kramadangsa terhadap karep/keinginan yang mewujud dalam seluruh catatan tersebut. Kawruh jiwa adalah kemampuan yang akan mengantar manusia menuju kondisi bahagia manusia tanpa ciri. Sebuah kondisi diri yang tidak lagi melekat pada kesadaran Dimensi III/si kramadangsa.

Permisalan lain, dalam catatan 'harta benda'. Ketika seseorang kedapatan barang miliknya dicuri, ia akan merasa sedih dan susah. Sebabnya, catatan 'harta benda' dalam dirinya terganggu. Otomatis akan memerintahkan si kramadangsa dalam dirinya untuk bereaksi. Misalnya, dengan merasa susah dan bahkan marah. Jika kesusahan dan kemarahan tersebut tidak lekas disadari maka akan membuat dirinya menderita. Dalam kasus ini, 'diri' dikuasai oleh si kramadangsa yang sedang diperbudak catatan 'harta benda'.

Kemelekatan rasa kramadangsa dan 'diri' inilah yang menghalangi seseorang menggapai Dimensi IV. Maka, keberhasilan melepas pada yang melekat itu disebut Ki Ageng sebagai pencapaian kondisi manusia tanpa ciri yang tenteram dan bahagia. Kita tahu, setiap hari begitu banyak tumpukan catatan-catatan yang gampang membuat diri kian kalap dan gelap. Maka butuh perjuangan untuk tidak melekat pada itu semua. Oleh karenanya, pencapaian manusia tanpa ciri tidak bisa dengan cara instan. "Kramadangsa dan manusia tanpa ciri lahir silih berganti mengikuti siklus yang abadi". Sebab, kesadaran butuh direngkuh. Setelah diwacanakan ke dalam diri, juga butuh diterapkan dalam pelatihan rutin sehari-hari.

Referensi

Ki Ageng Suryomentaram. (2024, Juli 23). Diambil kembali dari wikipedia: https://id.wikipedia.org/

Kisah Ki Ageng Suryomentaram, Filsuf Jawa yang Memilih Jadi Rakyat Biasa. (2022). Diambil kembali dari merdeka.com: https://www.merdeka.com/

Muhammad, S. (2021). Kaweruh Begjo Ki Ageng Suryomentaram (2). Diambil kembali dari masjid jendral sudirman: https://mjscolombo.com/

sobatku. (2015, Agustus 13). Pangawikan Pribadi (Pengenalan Diri). Diambil kembali dari cinta merah putih: https://cintamerahputih.blogspot.com/

ustpsikologiadmin. (t.thn.). Mengenal Ajaran Ki Ageng Suryomentaram (KAS). Diambil kembali dari Fakultas Psikologi UST Jogja: https://psikologi.ustjogja.ac.id/

V, N. (2021). Pengertian dan Macam-macam Teori Kepemimpinan. Diambil kembali dari gramedia blog: https://www.gramedia.com/

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun