Mohon tunggu...
Raflyzal Eltitan 419
Raflyzal Eltitan 419 Mohon Tunggu... Mahasiswa - NIM : 201910040311419

ILMU KOMUNIKASI. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Sejauh Mana Peranan Hukum Media Massa di Indonesia?

22 Juni 2021   22:12 Diperbarui: 22 Juni 2021   22:28 196
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Nama : Raflyzal Eltian Putra Chrisnanda

Kelas : Hukum Media Massa B

NIM : 201910040311419

SEJAUH MANA PERANAN HUKUM MEDIA MASSA DI INDONESIA

Pertama sebelum beredar lebih jauh, alahkah lebih baiknya kita menelateni berpunca pokok subjek yang akan di bahas, yaitu resam corong komposit itu sendiri. Apa sih itu resam corong komposit? Hukum Media Massa adalah arti berpunca semua segi yang berhubungan tambah akidah resam dan budi pekerti corong komposit, yang menangkap pers dan penyiaran. Terdiri berpunca tiga fragmen besar, yaitu menguliti pendapa skop resam secara umum, serupa gerbang gerbang menghunjam ke tuju bahasan hukumdan budi pekerti corong komposit. Kedua, mengoperasi resam corong komposit yang melingkupi resam pers dan dan penyiaran. Ketiga, mengungkap sudut terdalam dan gaib berbagai kisah budi pekerti dan suruhan etos corong komposit. 

Media komposit di Indonesia terjalin berpunca sejumlah kategori, ganggang lain corong cetak dan elektronik. Dalam perkembangannya, corong komposit tak semata-mata mengikhlaskan pangan keterangan untuk kebanyakan atau komposit, tetapi juga kursus dan hiburan. Saat ini, corong komposit berpedoman elektronik teka menjamur di berbagai kalangan. Media komposit menakhlikkan kejahatan esa kebiasaan penting bagian dalam turut mencerdasakan beiring praktis kegiatan bangsa, dan semata-mata bisa terjadi bila corong komposit mendeteksi tanggungjawab profesinya beiring nilai resam maslahat mempertinggi jasa serupa mubalig infpormasi yang obyektif, menggelindingkan angan rakyat, memperluas persentuhan dan kesertaan publik, terlebih lagi mengamalkan control sosial terhadap kesahihan yang kulur bercorak gelagat-gelagat yang dikhawatirkan bisa mencantumkan suatu hasil yang klise. Ketika corong komposit menghunjam bagian dalam domain sosial berwai corong komposit terbiasa diatur menjelang memelihara kontribusinya terhadap jasa publik. Struktur resam dan jasa adalah konvensi berlaku yang harus disepakati supaya corong dan publik menggapai domain sandar resam yang mesti. Berdasarkan UU Pers No.40 Tahun 1999 dan UU Penyiaran No.32 Tahun 2002, bisa tersua sejumlah desain resam corong komposit, ganggang lain:

Dalam posisinya serupa kebiasaan sosial, corong komposit bersangkut tambah kebiasaan sosial lain. Ia menguasai dan dipengaruhi kebiasaan lain. Dalam suasana beginilah ia memegang regulasi. Regulasi ini upas saja berpotongan kaidah pemerintah, ketetapan pemerintah, dan hela-hela (UU). Regulasi yang bercorak UU inilah yang nanti disebut resam corong komposit. Bila dilihat lebih jauh, sebenarnya target resam corong komposit upas dikelompokkan berperan, pertama, menjelang membereskan corong komposit. Dalam kondisi ini, resam corong komposit menakhlikkan perkakas menjelang merintangi corong komposit agar tidak bercelengkak-celengkok berpunca kemauan, misalnya pemerintah. Pada loreng inilah resam corong komposit disebut memegang susila politik.

Kedua, menjelang menata corong komposit agar berwatak wajar akur tambah kemauan publik. Agar corong komposit tidak menyengsarakan publik. Dalam kondisi inilah resam corong komposit disebut memegang susila sosial. 

Jadi serupa individu, nyamuk pers upas dikenakan gelagat resam bila dia mendurhaka sejumlah keterangan yang tersedia bagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dengan begitu, resam kita menunjukkan bahwa terdapat gelagat spesialis kaki tangan corong komposit yang upas digolongkan serupa serbuan resam. Kalau seorang nyamuk pers berhenti dianggap mendurhaka resam, berwai dia upas dikenai bala pidana. Sebelum bertekad terlalu berlebihan dekat corong komposit, cobalah beraksi realists. Betul, bahwa pranata corong komposit serupa molekul yang menguasai khalayaknya. Akan tetapi tambah sifat perhati lain juga upas dilihat corong komposit serupa kaca berpunca publik, keterangan dia tidak berdomisili di pendapa hampa. Bahkan keberadaannya ditentukan oleh nilai publik yang melingkupinya. 

Apakah tidak terdapat perihal musim pengaplikasian Hukum Media Massa terhadap publik atau corong yang bersangkutan? Tentu saja mesti terdapat saja tembelang bagian dalam pokok resam atau keterangan keterangan yang teka ditetapkan pemerintah. Seperti cetakan nya Undang Undang ITE ( Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik ). Undang-hela Informasi dan Transaksi Elektronik menakhlikkan Undang-hela yang menata peri Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik. Informasi Elektronik diartikan serupa esa atau rombongan petunjuk elektronik, terhitung tetapi tidak tergalang dekat tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic petunjuk interchange (EDI), keterangan elektronik (electronic mail/e-mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang teka terjamah yang memegang juntrungan atau bisa dipahami oleh suku yang mampu memahaminya. Sedangkan Transaksi Elektronik adalah tabiat resam yang dilakukan tambah memperuntukkan Komputer, ikatan Komputer, dan/atau corong elektronik lainnya. 

Berdasarkan pengaduan berpunca Institute for Criminal Justice Reform, tersedia problematika dekat Pasal 27 poin (3) jo. Pasal 45 poin (1) UU ITE, karena beberapa celoteh bagian dalam keterangan termuat, sebagai mengalokasikan dan transmisi, menakhlikkan celoteh teknis yang bagian dalam praktiknya tidak serupa di kawasan teknologi keterangan dan kawasan nyata. Model pokok delik bagian dalam Pasal 27 poin (3) ko. Pasal 45 poin (1) UU ITE menyeru balasan terasing karena dekat praktiknya pun Pengadilan menghapuskan secara berbeda-selisih terhadap pokok delik termuat. Berdasarkan bayangan berpunca Southeast Asia Freedom of Expression Network, sejumlah kisah terhadap UU ITE adalah Pasal 27 mendarat Pasal 29 UU ITE bagian dalam putaran Kejahatan Siber, dan juga Pasal 26, Pasal 36, Pasal 40, dan Pasal 45. Persoalan yang tersedia di antaranya adalah ihwal eksposisi resam, dimana pokok keterangan-keterangan bagian dalam UU ITE termuat tidak ketat (karet) dan tidak betul beiring memunculkan ketidakpastian resam (multitafsir).

Selain itu, dekat penerapannya, kurangnya pengetahuan Aparat Penegak Hukum di lapangan. Yang keladak adalah hasil sosial yang ditimbulkan, dimana keterangan-keterangan termuat bisa memunculkan balasan klise sebagai wadah tangkisan dendam, barter kejadian, beiring berperan aparat shock therapy dan mencantumkan chilling effect.

Berdasarkan cetakan kejadian yang kelahirannya belum tempo ini yang dikutip berpunca taman laporan TEMPO.CO, seorang musisi Indonesia yaitu Ahmad Dhani tertindas Pasal 27 poin 3 jo. Pasal 45 poin 3 UU ITE tambah sangkaan pengotoran label hormat, di mana tertuduh membimbing konten video yang mengandung kata "idiot" yang dianggap memunggungi label hormat anggota unjuk muka di bagian luar penginapan wadah tertuduh menginap. Apabila mengawasi berpunca kejadian termuat, tertuduh bisa dipidana jika membolehkan bagian yang terdapat bagian dalam Pasal 27 poin (3) UU ITE, di mana pengenalan berpunca pengotoran label hormat menunjuk dekat keterangan- keterangan ihwal pencercaan yang diatur bagian dalam KUHP. Dalam mengetahui apakah adanya pencercaan atau pengotoran label hormat, konten dan kondisi berpunca suatu keterangan dianggap penting menjelang ditelaah dan penilaiannya bersemangat subjektif karena semata-mata bisa dinilai oleh suku yang bersangkutan.

Artinya, target sasaran dari konten itulah yang menjadi korban dan hanya korban yang dapat menilai apakah konten tersebut mengandung unsur penyerangan terhadap kehormatannya. Sedangkan secara konteks, dapat dinilai secara objektif melalui maksud dan tujuan pelaku atas pembuatan dan penyebarluasan konten tersebut. Atas pernyataannya, kelompok yang menamakan Koalisi Bela NKRI melaporkan Dhani ke Polda Jawa Timur pada 30 Agustus 2018. Kelompok itu merasa Dhani melakukan pencemaran nama baik. Karena kasus inilah Ahmad Dhani dikenakan tuduhan atas Pasal 27 ayat (3) UU ITE yang merujuk pada Pasal 311 KUHP, yang dimaksud menyebarkan tuduhan pencemaran nama baik adalah menuduhkan suatu perbuatan bukan penghinaan.

Salah satu contoh lainnya adalah Buni Yani sehubungan dengan penyebaran video pidato Basuki Tjahaja Purnama ("BTP") ketika masih menjabat sebagai Gubernur DKI pada tahun 2016. Berdasarkan laman berita nasional.kompas.com, Buni Yani diduga mengedit video BTP ketika sedang berpidato, dimana pidato tersebut menggunakan salah satu ayat Surat Al Maidah. Video tersebut diduga diedit sehingga dianggap memiliki makna berbeda, meskipun Buni Yani membantah melakukan hal tersebut. Perbuatan Buni Yani tersebut dinilai memenuhi unsur Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 28 ayat (2) UU ITE dengan melakukan ujaran kebencian dan mengedit isi video pidato BTP. Atas perbuatannya tersebut, Buni Yani divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara 1,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Bandung.

Menurut saya harus ada penyesuaian lagi terkait Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, agar niat baik pembuatan Undang Undang ini tidak jadi boomerang kepada masyarakat dan media terkait dan dapat melindungi semua masyarakat. Pasal pasal karet yang kurang jelas takaran seberapa seberapa tingkat kesalahan agar dapat terjerat hukum/ pasal tersebut. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun