Terpaksa Pede
Beruntunglah mereka yang merasa pede walaupun dengan terpaksa. Setidaknya pernah pede. Kerabat dan teman-teman saya sendiri mengaku mereka terpaksa pede, bahkan terpaksa pergi ke tukang cukur.
Penting bagi mereka mewujudkan keinginan orang lain untuk melihatnya lebih rapih dan tampan. Sungguh mulia. Contohnya orang tua dan pacar. Tidak hanya perintah untuk bercukur, namun model rambut pun si pria tidak mendapat kewenangan untuk menentukan.
Momen saat mereka terpaksa pede adalah setelah bercukur dan si pasangan mengemukakan pernyataan ‘tuh kan bagus, ganteng gini kan kamu yaank..’.
Dan momen mereka menyesal dengan tindakan mulianya adalah ketika temen-temennya bilang ‘bagusan rambut lu dulu deh, ini aneh..’
Â
Pede jadi dendam
Berujung dendam dengan tukang cukur. Orang seperti ini merasa berhasil diperdaya tukang cukur.
Saat di eksekusi semua tampak baik-baik saja. Dan hasilnya woow tidak pernah sebagus ini. Rambut ditata sekeren mungkin, tambah pembasah dan spray, lalu saran dan sugesti-sugesti tukang cukur pun menghujani pikiran bawah sadar. Terlihat sempurna.
Namun berbeda ketika di rumah, ‘kok beda yaa’, ‘nggak bisa kayak tadi sih’, ‘waah kok bisa sih.’ Saat itu juga dendam pun tertanam kepada tukang cukur dan memutuskan tidak lagi ke tukang cukur yang sama.
Â