Selanjutnya, terdapat latar waktu, yaitu empat tahun, sore hari, siang, dan seminggu lalu.
Terakhir, terdapat latar suasana, yaitu bingung, yaitu perasaan uda Zul. Bingung harus memilih yang mana, antara menikahi Rat dan mematuhi adat istiadat yang berlaku. Cemas, yaitu perasaan Rat yang merasa tidak menyanggupi uang jemput, tetapi disisi lain ia juga sangat menginginkan pernikahan tersebut. Murung dan sedih, yaitu saat Rat mencari sendiri solusi terbaik untuk masalah ini, Rat yang merasa sedih, setelah uda Zul tidak berkenan untuk membantunya menyanggupi uang jemputan. Dan rasa sedih Rat saat ia tahu uda Zul sudah dijemput gadis lain, yang artinya, ia akan ditinggalkan oleh uda Zul, orang yang amat dicintai. Ragu, yaitu uda Zul. Ia ragu dalam mengambil keputusan. Dalam cerita pendek tersebut pun, uda Zul terlihat ragu dengan perasaannya pada Rat.
Cerita pendek ini mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu aku atau Rat.
Amanat dari cerita pendek berjudul “RAT” ini, jika memang tidak memiliki niat ke jenjang yang lebih serius dengan seseorang, jangan jadikan adat istiadat sebagai alasannya. Karena sejatinya pernikahan merupakan hal yang menjadi tanggung jawab kedua belah pihak. Tidak hanya salah satu pihak saja. Jika memang ada suatu adat istiadat berpaku pada satu pihak, seharusnya pihak satu lagi membantu, setidaknya membantu mencari jalan keluar, itu sudah cukup. Tidak dengan ragu dan meninggalkan salah satu pihak begitu saja.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H