Mohon tunggu...
QayyumNaya
QayyumNaya Mohon Tunggu... Penulis - Hanya Penulis

Hanya Penulis biasa yang suka menulis. Hobi membaca dan menulis. Dan biasa saja dalam menulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Senyuman Canda Manis di Pinggir Jalan

21 Juni 2023   12:30 Diperbarui: 21 Juni 2023   12:36 130
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Dua orang laki-laki muda yang terbilang sukses sedang berbincang didalam kantornya. Perbincangan mereka kali ini tidak fokus pada usaha yang mereka geluti tapi lebih pada aspek tuntutan ekonomi yang sekarang meresahkan banyak masyarakat karena pengaruh persaingan pendidikan.

Laki-laki pertama dengan senyuman indah itu, gantengnya luar biasa itu mirip Sharuhkan memulai ceritanya.

"Tadi malam sekitar jam 01.00 dini hari, tengah malam saat aku lewat dipinggiran jalan layang, aku melihat seorang wanita yang cantiknya luar biasa. Akupun mendekati wanita itu dengan tujuan ingin menanyakan padanya mengapa selarut ini masih disini berdiri ? Apakah ada yang ditunggu ?"_

"Akupun membuka pintu mobilku. Namun apa yang aku dapatkan pas pintu mobil itu terbuka dan aku keluar dari dalam mobil. Wanita itu tersenyum kearah ku dengan begitu manisnya. Sebelum aku bertanya padanya, Dia lebih dulu berkata padaku, "Mas, ada yang bisa saya bantu ?"_

Aku sempat membalas senyuman indah itu padanya dan akupun menjawabnya, "E Mbak, disini sama siapa ? Kenapa belum pulang ? Ini sudah jauh malam. Kalau mau pulang, biar aku antarin ?."

Dari sedikit percakapan itu, aku menjadi tahu kalau wanita itu lagi menunggu seseorang yang dianggapnya bisa menolongnya untuk melunasi hutang nya pada seseorang yang pernah ia mintai tolong untuk membantu persalinan anak pertama nya.

Dia mengatakan segalanya padaku bahwa sebenarnya ia pernah mengajukan lamaran pekerjaan keberbagai perusahaan tapi karena hanya bermodalkan ijasah SMP sampai saat ini, lamarannya tidak ada yang direspon oleh perusahaan yang pernah ia datangi.

Setelah mendengar penjelasan dari wanita itu, kemudian aku memutuskan untuk mengantar nya pulang. Rumahnya tidak terlalu jauh dari tempatnya nongkrong, hanya beberapa kilo sudah sampai. Ternyata rumahnya berada dibelakang gudang tempat penampungan sampah organik.

Disana aku melihat anaknya yang hanya tidur beralaskan apa adanya. Bukan rumah kalau menurutku, paling cocok disebut gubuk karena dinding dan atapnya terbuat dari gardus.

Miris, tapi itulah kenyataannya yang aku lihat. Seorang wanita yang begitu cantik, berjuang seorang diri untuk menghidupi anak-anaknya penuh kasih sayang. Tidak memandang rasa lelah, apakah malam atau siang, ia bekerja dengan kedua tangannya. Sungguh luar biasa !.

Respon luar biasa dari laki-laki yang kedua setelah mendengar cerita itu.

"Hamm...! Aku tahu Yel, kamu bukan merasa kasihan pada wanita nya tapi dari caramu menyampaikan cerita itu, ada segumpal rasa yang berbeda. Kamu jatuh cinta ya ?."

"Ah ! Kamu. Masa aku jatuh cinta pada wanita itu. Kalau masih gadis ia, tapi sudah punya anak. Tapi senyuman nya itu yang tidak bisa aku lupakan." Jawabnya pada temannya.

"Itu-kan, benar toh ! Kalau sedang jatuh cinta pada wanita itu." Temannya masih memojokkan nya.

"Sejujurnya, aku masih ingin melihat wanita itu. Hal menarik yang tidak hilang dimataku adalah senyum nya itu yang mempesona." Katanya sambil tertawa kecil.

"Gimana kalau sebentar malam kita tunggu wanita itu, Yel. Setelah kita dapat kan, kita ajak dia kerja di perusahaan kita. Ijasah lain urusannya asal kita bisa membantu orang."

"Serius Doo ?."

"Ya, aku serius. Ini susahnya sekarang, dimana-mana cari kerja yang dilihat dulu adalah ijasah. Kasian yang tidak memiliki pendidikan, mereka akan melakukan pekerjaan apa adanya asal bisa makan. Padahal mereka adalah tanggungjawab Negara. Mestinya Negara hadir lebih luas untuk memberikan pekerjaan pada mereka yang membutuhkan kan."

"Doo, kalau aku hanya peduli, wanita itu bisa setiap hari menampakan senyumnya padaku. Bagiku, dia sudah bekerja dan aku akan menggajinya lebih dari yang ia pikirkan."

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun