Gie, bahkan tetesan embun di selembar daun pada pagi hari tak mampu kalahkan sejuknya hatiku saat ini – ketika melihatmu kembali tentunya. Tak ada yang mampu gambarkan rasaku saat ini Gie. Bukan perasaan jijik ketika Mr. J menceritakan hal buruk itu padaku, yang membuat aku berteriak histeris, menangis meronta, bukan, kali ini aku sungguh bahagia, Gie, walaupun kau tak mengenalku sebagai Rhein.
“Oh iya, namamu siapa?” Tanyanya sambil tersenyum.
Senyummu Gie, andai saja senyuman itu untukku, untukku yang dulu, Rheinara, bukan untukku yang sekarang berubah menjadi..ah aku akan menjadi siapa? Bahkan pertanyaan Gie belum mampu aku jawab. Aku mendadak bisu. Mata Gie makin menyelidik, bibirku makin rekat, tak dapat bicara.
“Hello, kamu dengar aku bicara?” Ucap Gie sekali lagi.
“Iy..iya..aku dengar. Namaku Anna, ya panggil saja aku Anna.” Jelasku kepada Gie.
Selanjutnya kau membawakanku secangkir kopi. Dari aromanya aku tahu itu adalah white frappe, kesukaanku Gie. Lantas mengapa kau memberikan white frappe kesukaanku pada orang lain? Selain Rhein? Apakah kau tahu jika aku bukan Anna, melainkan Rhein-mu?
“Kau suka white frappe, Anna?”
Aku mengangguk, kemudian menggeleng,“sedikit.” Jawabku.
“Dulu aku pernah mencintai seorang gadis, bahkan aku masih mencintainya hingga saat ini. Gadis itu, suka sekali menghabiskan bercangkir-cangkir kopi. Seringkali aku mengingatkan – mengomelinya karena kebiasaan buruknya itu, tapi kau tahu apa yang ia katakan?”
Aku menggeleng – kikuk.
“Dia bilang, aku terlihat berkali-kali lebih tampan ketika aku mengomelinya. Hahaha..dasar gadis yang lucu.”