Mohon tunggu...
Pudji Widodo
Pudji Widodo Mohon Tunggu... Lainnya - Pemerhati Kesehatan Militer.

Satya Dharma Wira, Ada bila berarti, FK UNDIP.

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Dari Si Mungil Nomad Sampai Hercules Jumbo, Menyadarkan Terbatasnya Kehidupan

29 Januari 2021   13:28 Diperbarui: 29 Januari 2021   13:55 1123
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Helikopter TNI AL sebagai ambulan udara KRI dr. Soeharso 990, dok.pri.

Setelah era Nomad berakhir, saya baru mengenal pesawat Cassa NC-212 saat bertugas menyertai kadet Korps Marinir AAL menjalani latihan terjun para dasar di kawasan Juanda pada tahun 2006 - 2009. Sebagai Kakes AAL saya masih bertugas mengawal latihan kadet AAL. Hal tersebut saya lakukan untuk memberi kesempatan para dokter yunior mendapat tambahan pengalaman dan pendapatan melalui praktek pribadi dan jaga IGD rumah sakit. Dengan pesawat Cassa NC-212 pula, pada tahun 2007 penulis mendapat tugas khusus ke Cimahi, via Bandung. 

Penerbangan ke Bandung itu membuat saya teringat pesawat Cassa maskapai Merpati Airlaines yang jatuh di lereng gunung Papandayan, Garut akibat cuaca buruk. Dari berbagai sumber media tercatat musibah pesawat Merpati tersebut terjadi pada tahun 1992 dengan tipe pesawat  Cassa CN-235, dan diterbangkan pilot wanita Captain Fierda Basaria Panggabean. Musibah pesawat Cassa sipil sebelumnya adalah  NC 212 PK PCM milik Pelita Air Service yang jatuh di laut Jawa pada tahun 1990.   Selama menjadi alutsista TNI, terdapat 3 unit pesawat NC 212 yang mengalami musibah jatuh. Cassa TNI AL NC 212 U-614 jatuh pada tahun 2001 di Kurima, Wamena Pegunungan Jayawijaya, NC 212 Penerbad jatuh di wilayah Semarang pada tahun 2006 dan NC 212 TNI AU A-2106 jatuh di lereng Gunung Salak Cibitung Bogor pada tahun 2008.

Bertugas bersama pesawat NC 212 kembali saya alami saat melaksanakan survei mempersiapkan Operasi Bakti Surya Baskara Jaya (SBJ) LXIV Sail Tomini 2015. Daerah sasaran survei adalah Tolitoli, Tahuna, Gorontalo, Tojo Una Una dan Banggai Laut. Untuk menuju Kabupaten Banggai laut, tim survei harus berganti menggunakan kapal motor, dan pesawat menunggu di bandara Tanjung Api Tojo Una-Una. 

Selain data profil wilayah dan koordinasi dengan berbagai instansi, tujuan survei juga untuk memastikan kelak kapal rumah sakit KRI dr. Soeharso 990 dapat merapat di dermaga pelabuhan, sehingga pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan efektif dan efisien. Saat kembali ke Surabaya, kami transit di Lanal Balikpapan. Cuaca yang tidak bersahabat membuat pilot memutuskan menunda jadwal penerbangan sehingga tim survei menambah semalam singgah di Balikpapan. 

Helikopter, dari bantuan kemanusiaan dalam negeri sampai misi PBB

Pada 2 Juli 2017, satu pesawat helikopter Basarnas yang akan melaksanakan evakuasi korban akibat meletusnya kawah Sileri Dieng jatuh di Temanggung. Pada musibah tersebut gugur 4 personel TNI AL dan 4 personel Basarnas. Pilot helly Basarnas tersebut adalah Kapten Laut (P) Haryanto anggota Puspenerbal. Kebetulan kami sering bertemu pada berbagai kesempatan latihan dan helikopter Puspenerbal sering memperkuat KRI dr. Soeharso 990 (SHS). 

Fungsi asasi helikopter di kapal rumah sakit adalah sebagai ambulan udara untuk evakuasi medik dengan peran tambahan pergeseran logistik dan observasi daerah operasi. Sebagai contoh, KRI dr. SHS-990 hanya bisa lego jangkar jauh dari pantai P. Mutus Waigeo Barat, Raja Ampat pada Opsbak SBJ LXIII/2013. Maka pasien pasca operasi dan perawatan di kapal dikembalikan ke pulau dengan helly Bell dan sebagian menggunakan LCU. Pada Desember 2004, helikopter Bell 212 yang mendukung Operasi Bakti SBJ penanggulangan gempa Nabire, jatuh di sungai Siriwo Nabire.


Helikopter TNI AL sebagai ambulan udara KRI dr. Soeharso 990, dok.pri.
Helikopter TNI AL sebagai ambulan udara KRI dr. Soeharso 990, dok.pri.
Pengalaman naik helly terbanyak bagi saya adalah saat tergabung dalam Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda XX-B/MONUC di Kongo, baik untuk kepentingan pergeseran personel, logistik maupun evakuasi medis. Salah satu personel Garuda XX-B mengalami evakuasi medis udara dari kota Beni ke Bunia yang berjarak 155 km karena sakit radang usus buntu. Pada tahun 2006 pesawat rotary wing PBB MONUC Aviation berjumlah 62 helikopter, yang terdiri dari pesawat militer negara partisipan dan pesawat sipil yang disewa PBB.  

Angkatan Udara Bangladesh berpartisipasi menyediakan helikopter angkut Mi-17, sedang India berperan sebagai penyedia helikopter serbu Mi-35 <3>. Untuk mendukung mobilitas satuan MONUC khususnya di wilayah Provinsi North Kivu, Kompi Zeni TNI Garuda XX-B bertugas membangun landasan pacu lapangan terbang Mavivi di Kota Beni. Hal tersebut dilaksanakan pada semester kedua penugasan.

Penulis bersama pilot sipil PBB MONUC Aviation di lapter Mavivi Beni, Provinsi Kivu Utara, Kongo, dokpri.
Penulis bersama pilot sipil PBB MONUC Aviation di lapter Mavivi Beni, Provinsi Kivu Utara, Kongo, dokpri.

Sepanjang kami bertugas tahun 2004 - 2005, tidak ada serangan langsung ke moda transportasi udara PBB. Resiko serangan senjata lintas datar dan lintas lengkung justru dialami oleh unit-unit patroli pengintai satuan infanteri mekanis. Batalyon Infanteri Bangladesh mengalami kerugian terbesar ketika 9 personelnya gugur akibat serangan milisi. Meskipun demikian saat mendampingi Dansatgas Garuda XX/B Mayor CZI. Harry Pahlawantoro ke Mabes MONUC di Kinsasha, dengan pesawat fixed wing Antonov 24, sempat terbersit di  ingatan saya bagaimana tragedi genosida pada konflik politik suku Hutu-Tutsi diawali dengan tertembaknya pesawat yang ditumpangi Presiden Rwanda dan Presiden Burundi pada April 1994.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun