[caption caption="ilustrasi: Shutterstock | Admin"][/caption]Nyeri adalah tanda vital ke-5 yang saat ini menjadi sangat penting dalam praktek sehari-hari. Masalah nyeri sangat menjadi hal yang perlu diperhatikan karena nyeri ini bisa sangat mengganggu kehidupan dan kualitas orang yang mengalaminya. Dokter baik yang bekerja di bidang medis fisik sehari-hari dan juga psikiater yang lebih banyak berkutat di masalah kejiwaan pasien setiap hari mempunyai potensi untuk bertemu dengan pasien yang mengeluh nyeri. Dalam artikel ini akan dibahas lebih jauh tentang peran psikiater dalam tata laksana nyeri yang sering kali diabaikan sisi psikologisnya padahal nyeri sangat tergantung dengan masalah psikologis.Â
Definisi nyeri yang diberikan oleh International Association for the Study of Pain telah memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana nyeri dipandang dalam praktek sehari-hari. Definisi nyeri yang dikemukakan oleh IASP adalah "an unpleasant sensation and an emotional experience associated with a real or potential damage to tissue, or the equivalent of such damage". Dalam definisi ini nyeri tidak selalu digambarkan sebagai suatu masalah yang bersifat fisik yang ditandai dengan adanya kerusakan jaringan tetapi juga secara psikologis yang berkaitan dengan faktor emosional. Definisi ini juga memberikan gambaran bahwa nyeri juga dikaitkan dengan sesuatu yang setara dengan adanya kerusakan jaringan. IASP dalam hal ini lebih menekankan aspek penderitaan dari nyeri yang merupakan suatu perasaan yang tidak nyaman.
Kasus-kasus nyeri yang biasanya datang ke psikiater berhubungan dengan masalah nyeri yang tidak dapat ditanggulangi dengan cara konvensional biasa. Beberapa kasus yang datang ke saya di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera adalah kasus nyeri yang bersifat menahun (kronis) dan pada dasarnya tidak ditemukan adanya kerusakan jaringan yang mendasari nyerinya tersebut. Hal ini sering dikaitkan dengan masalah psikosomatik yang mungkin dialami pasien tapi dia tidak menyadarinya. Dalam bahasa keseharian nyeri ini disebut nyeri Psikogenik.
Dokter dalam praktek sehari-hari mengenal istilah nyeri nosiseptif, nyeri neuropatik dan nyeri non-neuropatik non-inflamasi. Untuk kategori yang terakhir, nyeri psikogenik adalah yang sering dihubungkan dengan hal ini. Nyeri psikogenik adalah gangguan nyeri yang dihubungkan dengan faktor psikologis (WebMD, 2015). Istilah ini sebenarnya bukan termasuk dalam diagnosis klinis yang baku. Kondisi nyeri psikogenik digunakan untuk menggambarkan gangguan nyeri yang berhubungan dengan faktor-faktor psikologis. Nyeri dapat dipengaruhi oleh kepercayaan yang salah, ketakutan dan perasaan atau emosi yang kuat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan, meningkatkan dan memperparah nyeri (Cleveland Clinic,2013). Istilah nyeri psikogenik biasanya dikaitkan dengan masalah psikologis. Gangguan cemas dan gangguan depresi sering dihubungkan dengan nyeri psikogenik.
Diagnosis Gangguan Jiwa?
Istilah Nyeri di dalam diagnosis manual gangguan jiwa telah ada sejak jaman DSM II. Istilah Nyeri Psikogenik mulai muncul dalam DSM III dan DSM III-R. Istilah ini kemudian diganti dengan istilah yang lebih luas yaitu Gangguan Nyeri (Pain Disoder) di dalam DSM IV dan DSM IV-TR. Â
Dalam diagnosis gangguan jiwa menurut PPDGJ 3 yang dipakai dalam keseharian diagnosis dokter di Indonesia, terdapat diagnosis gangguan nyeri sebagai bagian dari gangguan somatoform yaitu  F. 45.4 . GANGGUAN NYERI YANG MENETAP.
Sementara dalam kriteria diagnostik menurut DSM 5 yang baru dikeluarkan di tahun 2013 yang lalu, diagnosis gangguan somatoform sudah tidak ada lagi dan diganti dengan diagnosis Somatic Symptoms Disorder and Its Related Disorder. Gangguan nyeri yang dulu termasuk dalam gangguan somatoform juga mengalami perubahan. Jika dulu gangguan nyeri di dalam DSM-IV-TR dibagi menjadi gangguan nyeri karena kondisi medis umum, gangguan nyeri karena faktor psikologis dan gangguan nyeri akibat keduanya, maka di dalam DSM 5 Gangguan nyeri dimasukkan ke dalam kriterian Somatic Symptoms Disorder dengan predominan nyeri.Â
Walaupun demikian perlu diingat dalam banyak kriteria diagnosis gangguan jiwa, nyeri sebagai salah satu gejala sangat sering diungkapkan pasien terutama pasien yang mengalami gangguan depresi dan gangguan cemas. Sehingga nyeri yang dikatakan sebagai nyeri psikogenik atau nyeri yang dikaitkan dengan faktor-faktor psikologis memiliki arti yang cukup luas di bidang psikiatri apalagi dengan kenyataan sekarang bahwa hampir semua masalah terkait nyeri berkaitan dengan faktor psikologis.
Depresi dan Cemas Rentan Nyeri
Pasien yang mengalami masalah gangguan jiwa seperti depresi dan cemas sering kali mengeluh nyeri selain gejala psikologis yang dialaminya. Nyeri kepala, nyeri punggung, nyeri perut adalah beberapa gejala nyeri yang dialami pasien yang mengalami depresi. Pasien ini bisa mengalami gejala nyeri tanpa adanya dasar yang membuat nyeri tersebut. Dalam artian lain bahwa nyeri tersebut bukan disebabkan adanya masalah medis fisik yang mendasarinya.Â
Selain itu pasien gangguan depresi dan cemas juga bisa mengalami gangguan nyeri yang lebih berat daripada yang seharusnya terjadi. Hal ini disebabkan karena faktor penguatan (amplifikasi) nyeri yang diakibatkan karena ketidakstabilan sistem monoamine (yang salah satunya berkaitan dengan serotonin dan noradrenaline). Kita memahami bahwa nyeri faktor utamanya adalah persepsi nyeri yang dialami oleh pasien. Jika pasien mengalami masalah medis yang menyebabkan nyeri maka dengan adanya depresi dan cemas pasien akan bisa mengalami nyerinya lebih berat lagi.
Terapi Menyeluruh
Terapi yang bukan hanya berfokus dalam menghilangkan gejala nyeri adalah yang terbaik. Nyeri harus dipandang sebagai suatu kondisi yang perlu ditangani oleh ahli multidisplin dengan penanganan yang interdisplin. Ini mengartikan nyeri tidak bisa dipandang sebagai keluhan fisik semata tetapi juga sebagai bagian dari masalah mental emosional seperti definisi nyeri yang diungkapkan di atas. Peran psikiater dalam menangani kasus nyeri terkait dengan masalah psikosomatik, depresi dan cemas akan menjadi penting dalam penanganan kasus yang menyeluruh.Â
Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam Sehat JiwaÂ
Oleh : dr.Andri,SpKJ,FAPM (Psikiater Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H