Yang pada akhirnya kelak dikemudian hari Plato dan Aristoteles mengembangkan sekolah dan sistem pendidikannya masing-masing. Plato menjadi guru besar sekaligus pendiri sekolah bernama Academia.Â
Sementara Aristoteles mendirikan sekolah yang diberinya nama Lyceum. Keduanya menyebarkan paham dan pengetahuan di sana. Dan belakangan pemikiran tiga intelektualis di atas akan menjadi pijakan bagi perkembangan peradaban dunia barat yang maju hingga masa sekarang ini.
Guru Sebagai Kaum Intelektual
Kita merindukan sosok para guru berjiwa intelektual dewasa ini. Para guru berjiwa kritis dan pembaharu dalam kerangka sistem pendidikan nasional kita.Â
Intelektualitas dan kritisisme itu tidak boleh pudar dan terkikis habis dari lubuk hati sanubari terdalam sang guru. Karena sejatinya dua unsur tersebut merupakan mahkota kehormatan bagi para guru itu sendiri.
Jelas para guru merupakan bagian dari sistem pendidikan yang ada. Bahkan sejatinya guru itu sendirilah merupakan inti dari sistem pendidikan pada unit terkecil. Karenanya nalar kritis mestilah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tubuh mulia sang guru.Â
Sang guru sejati harus berani mengatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Yang baik adalah baik dan yang kurang perlu dikoreksi dan dicari alternatif solusi.Â
Betapapun terkadang semua itu menjadi terasa sulit akibat impitan berbagai kepentingan politik dalam bingkai kebijakan negara. Tetapi guru tidak boleh menjadi pribadi partisan yang monoton dan mekanistis.Â
Guru sebagai kaum intelektual harus mampu berpikir mendalam dan lincah dalam mengetengahkan pemikiran-pemikiran alternatif demi kemajuan pendidikan bangsanya.
Bukankah dulu bapak pendidikan kita juga begitu kritis dan sangat berjiwa intelektual?Â
Ki Hajar Dewantara dalam bukunya jilid I "Pendidikan" mengkritisi sistem pendidikan barat yang saat itu dinilainya sangat mekanistis. Yang mendasarkan pendidikan pada model pemberian sanksi dan hukuman sebagai dasar membentuk kepatuhan dan ketertiban.Â