Muslimah itu lalu berteriak meminta tolong. Seorang pemuda muslim mendengar teriakannya lalu menolong wanita muslimah tersebut hingga mengakibatkan orang Yahudi yang mengganggu itu terbunuh. Mengetahui rekan mereka terbunuh, serta merta kaum Yahudi menyerbu lelaki Muslim itu sehingga meninggal juga. Peristiwa ini akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW.
Dalam bukunya Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam, Buya Hamka menuturkan kisah ini secara khusus dan gamblang. Oleh Buya Hamka, peristiwa penghinaan muslimah hingga memantik kemarahan seorang pemuda muslim disebut sebagai Ghirah (cemburu; menjaga syaraf diri).
Bagaimana kemudian akhir ceritanya?
Kalau menuruti "logika kekinian", kita mungkin mengira Rasulullah memaafkan kaum Bani Qainuqa. Seandainya Nabi hidup di masa kini, mungkin kita akan mendengar komentar-komentar seperti ini:
"Nabi kok keras dan pemarah kayak gitu, mestinya Nabi mengayomi dan mudah memaafkan."
"Nabi kok hobinya perang, mestinya Nabi itu mengajarkan kedamaian, toleransi, persatuan dan kesatuan."
Tapi, kita sudah tahu akhir peristiwa tersebut. Setelah mendengar berita terbunuhnya seorang pemuda muslim karena menolong muslimah yang dihina, seketika itu juga Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk mengepung Bani Qainuqa hingga mereka terusir dari Madinah.
Sekarang, mari kita simak kisah lainnya yang menunjukkan kemarahan Rasulullah.
Untuk  menyebarluaskan ajaran Islam, Rasulullah SAW mengirim utusan ke beberapa pemimpin negara dengan maksud berdakwah kepada mereka. Satu di antaranya adalah utusan yang menemui Kisra (Sultan/Kaisar) Persia.
Utusan itu membawa sepucuk surat dari Rasulullah SAW yang isinya ajakan untuk memeluk agama Islam. Lazimnya, setiap utusan dari negara lain tentu akan diperlakukan dengan hormat. Akan tetapi, Kisra Persia menghina utusan itu dan merobek surat dari Rasulullah SAW.
Apa yang kemudian dilakukan Rasulullah SAW?