Setiap orang punya kesempatan yang sama untuk jadi pahlawan. Syaratnya cuma satu: harus berani radikal.
Radikal (dari kata latin "radix" yang artinya "akar") bisa diartikan "sesuatu yang secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip)". Orang yang radikal adalah orang yang maju dalam berpikir atau bertindak.
Contoh sederhananya bisa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, di lingkungan sekitar rumah, saluran pembuangan air macet karena banyak sampah menumpuk di dalamnya.
Orang yang radikal tentu akan berpikir dan bertindak maju. Dia akan membersihkan saluran pembuangan air, sekalipun harus dilakukannya sendiri. Dia akan menasihati tetangga-tetangganya agar tidak membuang sampah di sembarangan, terutama di got.Â
Dia akan menggerakkan warga di lingkungannya untuk bergotong royong menjaga kebersihan agar lingkungan mereka nyaman ditinggali. Dia adalah pahlawan.
Dalam lingkup yang lebih luas, kita bisa mengamati perilaku radikal ini pada pahlawan-pahlawan bangsa. Di negara manapun juga, para pahlawan adalah orang-orang yang baik pikiran maupun tindakannya senantiasa bertujuan untuk melakukan perubahan. Tidak ada pahlawan yang pemikirannya mundur ke belakang, atau menerima nasib dan keadaan begitu saja.
Kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh berkat jasa orang-orang radikal. Kalau tidak ada peristiwa Rengasdengklok, di mana sekelompok pemuda radikal menculik Sukarno dan Hatta lalu mendesak para pemimpin konservatif agar mempercepat proklamasi kemerdekaan, sejarah bangsa kita tidak akan sama.
Bahkan seorang Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita adalah sosok yang pemikirannya radikal. Di masanya, kaum perempuan pribumi tidak memiliki hak dan kesempatan yang sama dengan kaum pria, terutama di bidang pendidikan. Kartini tidak terima dengan kenyataan ini. Dia menggugat lewat pemikiran radikalnya.
Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.
Bapak dan ibu guru, yang selalu kita anggap pahlawan tanpa tanda jasa, juga sosok yang radikal. Guru yang baik punya pemikiran dan tindakan radikal. Dia tidak akan membatasi kreativitas siswa berdasarkan buku teks semata.
Guru yang radikal mampu  mengajar lebih dari sekadar memberi tahu dan menunjukkan pada siswa bagaimana melakukan sesuatu. Guru yang radikal punya kemampuan untuk bisa turun ke tingkat siswa dan membangun jembatan untuk membawa mereka dari tempat mereka berpijak ke tempat baru yang mereka inginkan berbekal pengetahuan yang dibagikan.
Sayangnya, pengertian radikal kini disalahartikan. Kata radikal dan turunannya, radikalisme, dengan mudahnya disematkan pada orang dan golongan yang berbeda pendapat dengan arus utama.
Radikalisme juga menjadi senjata ampuh bagi pemerintah untuk membatasi ruang gerak dan hak asasi rakyat. Dengan kekuasaannya, pemerintah bisa memberikan definisi "semau gue" tentang apa dan siapa saja yang terpapar radikalisme.
Padahal tanpa orang-orang radikal jaman dulu, yang kemudian pada hari ini kita beri gelar sebagai pahlawan, bangsa kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang besar.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI