Tak ada yang menemaninya, sebagaimana bangsal-bangsal disekitarnya yang ramai oleh celoteh percakapan keluarga pasien yang sedang menjenguk.
"Keluarganya mana bu?" tanyaku saat menjenguknya.
"Belum datang lagi, nak. Sejak mereka mengantar saya untuk dirawat disini tiga hari yang lalu. Saya cuma punya satu anak perempuan. Dia tidak bisa menemani dan menunggu karena harus merawat suaminya yang juga lagi sakit. Cucu saya masih kecil. Yah, cuma mereka itu satu-satunya keluarga saya....".
Perempuan tua itu lalu menoleh kesekitarnya, ke tempat pasien lain yang ramai dijenguk keluarga-keluarga mereka. Lalu, matanya menerawang melintasi tembok ruang, mungkin berpikir dan berharap, kapan putri satu-satunya bisa menemani dan menjaganya di bangsal rumah sakit ini.
Teringat akan perempuan tua yang sendirian itu, aku lalu menjenguk ke bangsal yang ditempatinya. Tak ada siapapun disana. Tempat tidurnya rapi, seolah tak pernah ditempati.
Kuberitahu hal ini pada istriku.
"Kosong, gak ada orangnya."
"Masak sih mas? Siang tadi aku masih sempat bercakap-cakap dengan dia loh?" kata istriku tak percaya.
"Iya, beneran kosong. Nih lihat sendiri."
Aku lalu menyibakkan tirai yang membatasi bangsal kami.
"Tuh lihat, tempat tidurnya sudah rapi."
"Apa dia sudah pulang ya Mas? Dijemput sama keluarganya?"