Fenomena memprihatinkan yang dapat disaksasikan jutaan pasang mata masyarakat Indonesia adalah ketika yang berdebat adalah sosok dengan titel yang sangat panjang di depat atau belakang namanya namun tidak menunjukkan kebesaran hati dan hanya mengedepankan emosi serta arogansi. Diberikan gambaran nyata untuk diperbaiki bersama namun tidak terima dan kembali menyalahkan satu sama lain. Bahkan ketika dibuktikan benar-benar salah masih saja berkelit, berputar-putar, dan tidak mau mengakui kesalahan.
Keharmonisan antaran mendidik pikiran dan hati adalah keutamaan dalam mewujudkan manusia yang beradab dan berhati nurani. Seperti apa yang dikatakan oleh Aristoteles, dengan begitu yakinlah maka manusia yang ada akan menjadi manusia.
Kemashlahatan adalah KeutamaanÂ
Bangsa ini sedang tidak baik-baik saja namun apakah masih harus saling menjatuhkan sesama saudara sebangsa dan setanah air?
Kondisi yang ada saat ini sungguh memprihatinkan, namun apakah masih tega untuk hanya mengedepankan isi perut pribadi dengan penuh keserakahan? Saling memberi masukan dengan cara yang baik serta saling menerima demi kebaikan dan kemashlahatan masyarakat.Â
Perdebatan yang terjadi sangat sering berkaitan dengan layanan publik yang tidak optimal. Tidak optimal dikarenakan banyak hal, contonhya birokrasi yang ruwet dan berbelit. Pendistribusian bantuan yang tidak merata dan tidak tepat sasaran. Lalu ditemukannya pungutan liar yang benar-benar meresahkan. Hal-hal tersebut merupakan wujud kelakuan oknum yang tidak memiliki integritas tinggi.Â
Permasalahan di Akar Rumput, Namun Hanya Menjadi Bahan Debat Kusir
Permasalahan yang di masyarakat nyatanya adalah permasalahan klasik yang tak kunjung diselesaikan dengan cepat. Permasalahan-permasalahan itu selalu menjadi bahan perbincangan dan perdebatan, namun hanya debat kusir belaka dan perubahannya belum dapat dirasakan secara nyata di masyarakat. Masih saja ditemui oknum yang tega tidak menyalurkan bantuan sosial dengan sebagaimana mestinya. Begitulah, keadaannya.
Mari Duduk Berembug !Â
Kalau sudah seperti ini sebaiknya memang harus berkumpul, duduk bersama, berembug mencapai mufakat dengan mengesampingkan ego serta kepentingan pribadi dan golongan. Mengedepankan nilai-nilai luhur Pancasila, musyawarah untuk mufakat demi memperbaiki kondisi negeri yang semakin memprihatinkan.
Menyampaikan kritik dibarengi dengan solusi serta mengedepankan etika dan juga menerima masukan serta kritik dengan lapang dada dan berjiwa besar mengakui kesalahan. Prinsi memanusiakan manusia dan demi kemashlahatan adalah keutamaan.