Telah 18 bulan engkau berpulang, aku sungguh sangat rindu kepadamu.
Rinduku tidak lain karena engkau ayahku.
Rinduku tidak lain pula karena aku rindu kasih sayangmu yang apa adanya, tulus, iklhlas juga sabar melayaniku yang selalu rewel.
Rinduku padamu, rindu kami sekeluarga kepadamu.
Mungkin rinduku tidak sebanding dengan pengorbananmu selama engkau bersama ibu  mengasuh, merawatku dari kecil hingga aku dewasa.
Rinduku ingin bertemu, ingin becengkrama, bertutur dan saling menyapa.
Rindu nasehat, rindu akan ayah yang tak pilih kasih kepada anak-anaknya.
Ayah, aku sungguh rindu. Rindu tentang ceritamu dulu tentang pesan-pesanmu yang bukan hanya sangat berarti tetapi tentang engkau yang membentuk kami anak-anakmu untuk belajar mandiri kepada diri sendiri dan belajar bersyukur walau acap kali lupa.
Mungkin rinduku tidak sebanding dan tidak bisa membalas seperti kebaikanmu yang tanpa lelah mencari nafkah bagi kami.
Aku rindu Ayah, Aku ada karena engkau. Engkau pemberi semua yang engkau punya. Kasihmu pun belum sempat aku membalas.
Rinduku karena aku ingin mengadu. Mengadu karena aku masih belum bisa sepertimu.
Bagiku rindu buat ayah sebagai obat penawar yang tak ubah sebagai jamu alami penyegar tubuh. Racikan nasehatmu berupa arti hidup dan nafas hidup saban waktu begitu berarti hingga kini dan nanti bagiku.
Ayah, rinduku padamu karena kita di alam yang berbeda.
Ayah, aku rindu ayah. Inginku engkau selalu hadir dalam setiap waktu. Inginku rindu itu nyata bertemu atau jika boleh lewat mimpi. Tidak hanya rindu tetapi juga aku sayang ayah. Semoga engkau istirahat tenang di Sisi Kanan Allah Bapa. Amin..
Ketapang, Kalbar, 7/9/2016
Petrus Kanisius- Yayasan Palung
(Puisi ini ditulis dalam rangka even lomba fiksi Rindu di Kompasiana)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H