Mohon tunggu...
Subhan Riyadi
Subhan Riyadi Mohon Tunggu... Lainnya - Abdi Negara Citizen Jurnalis

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan (Pramoedya Ananta Toer). Portal berita: publiksulsel.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Hotel Berdiri Kupu-kupu Dikebiri

17 Januari 2016   19:18 Diperbarui: 19 Januari 2016   10:10 231
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="dokumen pribadi/subhan"][/caption]Lanjutan cerita petualangan berkunjung ke Bantimurung, dibuang sayang setahun lalu 24 Desember 2015, di Taman wisata alam Bantimurung. Bertepatan liburan Maulid Nabi Muhammad SAW, saya bersama putera kedua berumur 13 tahun mengunjungi Bantimurung.

Kali ini merupakan kunjungan kedua kalinya, sebelumnya saya pernah menginjakkan kaki disini dalam rangka berwisata melupakan kepenatan diklat 3 (tiga) bulan lamanya, bersama rombongan Diklat Calon Pustakawan Tingkat Ahli (CPTA) Tahun 2008 yang diselenggarakan oleh Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Setelah tujuh tahun lamanya, kami kembali menyambangi “kerajaan kupu-kupu” terkaget-kaget dengan kemajuan “pembangunan” dalam areal obyek wisata. Dengan suasana yang berbeda. Kali ini, masih melalui obyek yang sama tentu dengan cerita yang berbeda, saya bersama sang junior melakukan fieldtrip ke Bantimurung. Kami berdua juga wisatawan lain, suasana tidak terlalu padat dikarenakan bulan Desember merupakan bulan dengan curah hujan paling ekstreme, walau begitu kami tetap menikmati keindahan alam disini. Taman Nasional Bantimurung terkenal dengan ciri khas fauna kupu-kupunya.

Keheranan saya memuncak ketika memandang berdiri megah Hotel tepat bersebelahan dengan museum kupu-kupu yang letaknya paling ujung dan kurang strategis, sehingga keberadaannya menghalangi museum kupu-kupu yang tidak tersentuh “renovasi” seperti dikebiri. “Apa salahnya hotel berdiri megah di areal obyek wisata Bantimurung?” tanya saya bingung. Tentu jawabannya tidak salah bagi mereka yang berorientasi “profit.”

[caption caption="dokumen pribadi/subhan"]

[/caption]Namun dalam hati saya mengungkapkan, tujuh tahun silam tempat tersebut masih alami, rimbun oleh semak belukar tempat berlindung reptil habitat Taman Nasional Bantimurung, merupakan habitat asli dari ekosistem kera. Namun, semenjak orang-orang ramai berwisata ke Bantimurung, habitat asli kera serta reptil/kadal mulai tergerus, mereka kebingungan mencari suaka bahkan makan pun sulit, seiring pembangunan tersebut.

Mereka mulai menutup diri dari kawanan manusia. Yah, saya membuktikan hal itu ketika sempat menyaksikan seekor kera bergelantungan disalah satu rimbunnya pepohon dekat hutan. Realitasnya, tidak hanya habitat kera yang sudah mulai langka ditemukan disana. Spesies jenis kupu-kupu yang menjadi ikon khas Bantimurung juga sudah mulai menemui kepunahan. Saat berkunjung kedua kalinya, sudah mulai sulit ditemukan kupu-kupu beterbangan “menyambut” kedatangan wisatawan pada pintu masuk sekitar taman nasional itu.

[caption caption="penangkaran"]

[/caption]Padahal menurut salah satu pegawai Taman Nasional Babul yang saya temui, dahulu “baru memasuki kawasan Bantimurung, sudah ada banyak sekali kupu-kupu menyambut disekitar kita. Berbeda jauh dengan kondisi sekarang,” ungkapnya, seharusnya Bantimurung menjadi habitat asli dari kupu-kupu di Kabupaten Maros, bukan menjadi ajang eksploitasi manusia mengeruk “rejeki” dengan membabi buta, sehingga kekaguman peneliti asal inggris opa wallace (1890), memberi julukan Bantimurung dan sekitarnya sebagai “The Kingdom of Butterfly” tinggal sejarah.

Dalam hati kecil saya, alangkah bijaknya untuk lebih merenovasi museum kupu-kupu serta lebih memperhatikan pusat penangkaran demi keberlangsungan hidup kupu-kupu, ketimbang membangun “keuntungan” bagi mereka yang berkantong tebal, sehingga keberlangsungan hidup identitas kupu-kupu punah didepan mata.

Dalam benak saya, nasi sudah menjadi bubur, hotel mewah telah berdiri keras, kuat, kokoh tidak memungkinkan untuk dipugar.

[caption caption="patung kupu-kupu"]

[/caption]Memang benar, seharusnya di Bantimurung banyak beterbangan kupu-kupu. Toh, sejak saya menginjakkan kaki di Bantimurung, cerita tentang keindahannya bergitu melegenda terutama kehidupan kupu-kupunya.

Dan nyatanya, setelah saya berkunjung ke sana, yang mencirikan “kupu-kupu” hanya souvenir-souvenir yang dijajakan oleh pedagang-pedagang disekitar taman nasional itu. “kurang sekali kupu-kupu, tidak seperti saat saya berkunjung tujuh lalu,” tutur saya siapa tahu suatu saat bisa bermalam di hotel tersebut bersama keluarga atau teman kerja. Hidup bukan hanya urusan perut yang menyeret kita menjadi manusia moderen tak peka, tak berperasaan dan egois.

Kokohnya hotel didalam areal wisata menurut saya kurang “etis” mengundang tanya besar, sebuah spekulasi tidak relevan antara pemasukan dan pelestarian lingkungan. Saat berjalan-jalan di obyek wisata saya menyaksikan seekor kucing tergolek pingsan dibawah terik mentari, nafasnya kembang kempis tersengal-sengal, entah kelelahan atau kelaparan, rasa penasaran begitu tinggi, kondisi kucing “kurang beruntung” tersebut sempat saya abadikan, sebagai pengingat ternyata manusia itu memang kejam, termasuk saya.

[caption caption="Kucing Menggelepar"]

[/caption]
Kerajaan kupu-kupu kian murung seiring peradaban jaman, tentu hal ini berbanding terbalik dari keberadaan museum kupu-kupu, yang memang keberadaannya kian terkubur. Sepanjang area parkir pedagang-pedagang souvenir-souvenir, saya kepo sendiri, “Kupu-kupu yang diawetkan seperti itu, bukankah merupakan salah satu bentuk eksploitasi? Beragam jenis kupu-kupu diawetkan demi meraup keuntungan semata. Malah, kebanyakan dari kupu-kupu yang diawetkan itu merupakan jenis-jenis langka.

Apakah pemangku kebijakan tak berdaya, terbuai dengan keuntungan sebanyak-banyaknya untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan mengidahkan kelestarian habitat Bantimurung. Tentu tidak ada larangan memanfaatkan sumber daya alam pemberian Alloh SWT, ketika sudah terlalu over eksploitasi pantas sekiranya kita sebut “rakus” dalam mengelola obyek wisata secara sepihak.

Manusia paling berkontribusi besar atas berkurangnya spesies kupu-kupu langka, bukan tanpa sebab, kehidupan hewan berkepompong ini menyusut, sebagai barang dagangan dalam bingkai.

Terbangunnya hotel tersebut merupakan daya pikat tersendiri bagi pengunjung untuk rehat menikmati malam di Bantimurung. Lain pihak ancaman menghadang didepan mata, seiring telah beroperasionalnya hotel, mengurangi angka reproduksi kupu-kupu karena tempatnya terusik. Hal ini berkorelasi pada berkurangnya pakan, berkurangnya area berlindung, semakin menyempitkan daerah jelajah kupu-kupu, adanya perubahan bentang alam dan peruntukan lahan. Perubahan iklim berindikasi pada perubahan habitat disekitarnya, perubahan iklim yang terkadang sangat ekstreme turut mengancam kehidupan kupu-kupu secara umum, juga mengganggu ritme hidup kupu-kupu. Terlepas dari semua itu, sebenarnya banyak hal harus dipelajari terkait dengan dinamika hubungan antara pertumbuhan pengunjung dan perubahan lahan.

[caption caption="Pedagang kaki lima sekitar halaman parkir"]

[/caption]Jika dipikir-pikir para pedagang bisa memperoleh keuntungan yang sangat besar dengan usaha souvenir itu karena menangkap kupu-kupu hanya dengan modal dengkul. Dan mungkin inilah penyebab punahnya ekosistem kupu-kupu di Bantimurung. Mereka hanya berpikir soal untung-rugi terus-menerus menangkapi kupu-kupu di alam Bantimurung. Keberadaan penangkaran kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung paling tidak cukup membantu. Namun kenyataannya, proses penangkaran itu tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang menjadikan usaha “mengawetkan kupu-kupu” sebagai mata pencahariannya. Semakin banyak saja orang-orang di sekitar Bantimurung yang tergiur dengan usaha souvenir pengawetan kupu-kupu itu.

Dalam kaitan diatas terdapat beberapa yang perlu mendapat perhatian, pertama hal-hal yang mengancam keberlanjutan kupu-kupu Bantimurung hanya dongeng pengantar bobo malam, dari balik selimut tempat tidur mewahnya sebuah hotel. Boleh jadi kupu-kupu sesungguhnya kalah pamor dari "kupu-kupu malam."

Mengutip ungkapan kekaguman wallace saat menikmati indahnya suasana alam Bantimurung “ketika matahari bersinar terik, seputar siang hari bantaran sungai yang lembab diatas air terjun menghadirkan pemandangan indah. Kilauan sekumpulan kupu-kupu orange, kuning, putih, biru dan hijau-yang ketika diganggu akan beterbangan ratusan kupu-kupu diudara membentuk awan yang berwarna-warni" (wallace, Juli-November 1857)

Sebagai penutup nesahat bijak Mahatma Gandhi berkata “Bumi cukup persediaan untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak akan cukup untuk memenuhi keserakahan kita”.

Tragis!!!

Makassar, Januari 2016

 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun