Mohon tunggu...
Petrus Rabu
Petrus Rabu Mohon Tunggu... Buruh - Buruh

Harapan adalah mimpi dari seorang terjaga _Aristoteles

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kenapa Kita Tak Mensyukuri Kegagalan?

29 Januari 2019   00:19 Diperbarui: 29 Januari 2019   20:19 1742
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagi kebanyakan orang gagal adalah hal yang memalukan dan menyakitkan. Bahkan tak jarang orang frustrasi dan putus asa ketika mengalami kegagalan-kegagalan  dalam hidupnya.

Sebaliknya keberhasilan membuat orang berbangga, bersuka cita, bersenang-senang. Karena itu tak jarang orang mensyukuri atas keberhasilannnya baik dibidang ekonomi, pendidikan maupun sosial. Bahkan hingga ke hal-hal yang bersifat agama dan kepercayaan, termasuk cinta.

Contoh dalam doa-doa orang sering bersyukur atas keberhasilannya dalam seluruh aspek kehidupannya tapi sangat jarang orang bersyukur atas kegagalan dan kepahitan dalam hidupnya. Orang lebih memilih diam dan mengasingkan diri. Bahkan tak jarang menyalah sang pemberi hidup dan berkat.

Memang banyak kali kita mendengarkan pepatah atau petuah yang mengatakan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Namun itu tak cukup. 

Petuah itu  tak mampu membangkitkan jiwa, energi dan semangat untuk menerima dengan mudah kegagalan hidup. Pepatah itu tak mempan membuat orang bangkit dari kegagalan dan keterpurukan. 

Foto: Hatimerdeka.com
Foto: Hatimerdeka.com
Kebanyakan orang melihatnya motivasi belaka sebagai obat penghibur dan penenang hati.

Masih banyak yang menganggap sebelah mata soal kegagalan. Kebanyakan orang tidak melihanya dari sisi positif. Yah itukah sisi kemanusian Kita.

Sebagian orang masih terpaku pada paradigma dan cara pandang yang melihat kegagalan sebagai hal yang negative dalam Hidup. Masih banyak orang melihat kegagalan sebagai hal yang memalukan karena berhubungan dengan kemampuan dan kapasitas diri.

Pada prinsipnya manusia bukanlah makluk yang sempurna. Manusia adalah makluk yang memiliki keterbatasan dan kekurangan. Kekurangan dan keterbatasan itu adalah bagian penting dari kemanusian kita. 

Oleh karena itu, jika kita merayakan dan mensyukuri keberhasilan dengan acara luar biasa. Lalu kenapa kita tak mensyukuri kegagalan itu atau kemunduran dalam kehidupan ini. Bukankah itu bagian yang membuat kita ada.

Setiap perjuangan tak selamanya berakhir dengan keberhasilan. Setiap perjalanan tak selamanya berakhir bahagia. 

Kegagalan itu sebagai pelajaran penting bagaimana kita menata hidup, menata kerja, menata perjuangan dan menata pola hubungan. 

Karena itu, saya lebih condong dengan pepatah yang mengatakan bahwa kegagalan adalah guru yang baik untuk kita menimbah ilmu, pelajaran dan pengalaman guna meraih hari esok yang lebih baik.

Banyak kisah orang sukses didunia sejati berawal dari sebuah pengalaman kecil tentang kegagalan atau kepahitan. Kegagalan dan kepahitan itu menjadi cambuk dan pelecut semangat perjuangan. 

Kegagalan itu memiliki kekuatan besar dalam sejarah perjalanan manusia, tidak saja sebagai individu tetapi juga sebagai kelompok masyarakat. 

So, syukurin jika anda pernah gagal.  Belajarlah dari kegagalan itu meraih hari esok yang lebih baik, lebih sempurna seturut bakat dan kemampuan yang dimiliki.

Maaf ini bukan mengurui tapi itulah realita yang pernah saya lihat. Bagi orang yang sukses, teruslah bertahan dengan kesuksesan itu, bagi saya dan sahabat yang lagi berjuang, marilah kita terus berjuang. Syukurin semua keterbatasan dan kegagalan sambil menata hidup untuk hari esok yang lebih baik.

Waktu dan hidup terlalu singkat jika dimanfaatkan untuk meratapi masa lalu. Pandanglah kedepan dengan menata langkah untuk meraih harapan dan cita-cita dihari esok. 

January, 29-2019

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun