Pendahuluan
Artikel singkat ini membicarakan penerapan ilmu linguistik dalam pendidikan. Yang menjadi topik adalah bagaimana menyukseskan pendidikan sesuai dengan trilogi pendidikan yang diajarkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Deawantoro dengan menerapkan ilmu linguistik, dalam hal ini wacana kelas.
Sebelum kita bahas bagaimana wacana itu dan ap aitu wacana kelas, kita bahas dulu apa dan bagimana trilogi pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro yang menjadi landasan filosofi pendidikan Indonesia. Trilogi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Ing ngraso sung tulodo
Ing madya mbangun kerso
Tutwuri Handayani
Bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia maka kita bisa temukan maknanya adalah:
Di depan menjadi teladan
Di tengah membangun karsa
Di belakang memberi dorongan
Trilogi pendidikan di atas menjadi filosofi bagi praktisi pendidikan, khususnya guru dalam menjalankan profesi mengajarnya. Makna dari trilogi di atas adalah saat -saat tertentu seorang guru di depan memberikan instruksi sekaligus menjadi teladan. Di saat yang lain dia berada di tengah-tengah peserta didik, membaur Bersama mereka dan membangun karsa atau kemauan atau semangat belajar. Saat itu dia berbaur dan belajar bersama para siswanya. Pada saat yang lain dia berada di belakang para siswa memberikan dorongan atau motivasi belajar, pada saat itu para peserta didik didorong untuk menjadi mandiri dan guru menjadi motivator.
Untuk membuat pendidikan sukses sesuai dengan trilogy pendidikan, maka peran waca kelas sangat diperlukan. Wacana memegang peranan yang sanagt penting dalam keberhasilan proses pendidikan (Katili, 2021). Wacana kelas menjadi penentu dalam proses interaksi kelas dan interaksi itu menjadi faktor penentu keberhasilan tujuan pembelajaran kelas.
Sekarang apakah wacana itu? Wacana adalah pemakaian bahasa dalam konteks tertentu. Locke mengatakan bahwa konteks adalah kondisi saat peristiwa tuturan terjadi. Konteks terdiri dari mereka yang terlibat dalam percakapan, misalnya guru dan murid, tempat di mana tuturan terjadi, misalnya ruang kelas, dan topik yang menjadi bahan percakapan, misalnya mata pelajaran yang sedang dipelajari (Katili, 2007).
WACANA DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS
Sekarang kita bahas bagaimana wacana kelas untuk kesuksesan pembelajaran di kelas sesuai dengan trilogi pendidikan. Tapi sebelumnya mari kita lihat bagaimana wacan kelas sangat berpengaruh pada proses pembelajaran. Kita lihat dari dua model pertanyaan yang diajukan oleh guru mengenai makna gravitasi bumi.
- Anak-anak, apa yang dimaksud dengan gravitasi bumi?
- Anak-anak, apa yang akan terjadi bila kalian melompat dari tempat tidur? (Rymes, 2008).
Sekarang kita lihat perbedaan dari kedua pertanyaan itu. Pertanyaan pertama lebih berorientasi pada hapalan. Pada tahap ini peserta didika hanya diajarkan menghapal pengertian-pengertian atau definisi tanpa melibatkan proses berpikir.
Pertanyaan model kedua lebih mengerahkan peserta didik untuk berpikir. Dalam pendidikan disebut HOTS yang berarti High Order Thinking Skill atau ketrampilan berpikir Tingkat tinggi. Pada kterampilan ini peserta didik dilatih untuk menganalisis untuk memperoleh pemahaman tentang sesuatu fenomena atau konsep. Denga pertanyaan ini peserta didik akan berpikir untuk memperoleh pemahaman tentang gravitasi bumi.
Sekarang kita lihat bagaimana wacana pembelajaran yang sesuai dengan trilogy pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Wacana dalam proses pembelajaran menggunakan bahasa among. Bahasa among adalah bahasa yang mengayomi, mendidik (Heri Suwignyo, 2012).
Menurut Suwigno, bahasa dengan menggunakan bahasa among, maka proses pembelajaran akan lebih edukatif, terutama menurut trilogy pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Yang pertama kita lihat trilogy yang pertama, Ing Ngarso sung Tulodo.
Bila kita berkata pada peserta didik, "Perhatikan apa yang saya katakan lalu lakukan seperti contoh yang saya berikan." Kita lihat ucapan "Perhatikan". Ucapan ini berarti instruksi. Kata ini lalu diikuti dengan instruksi selanjutnya, "...lakuakn seperti yang contoh yang saya berikan". Kedua perintah ini diucapkan saat guru berada di posisi depan. Dia menjadi contoh dalam proses belajar.
Ketika seorang guru berkata, "Sekarang mari kita sama-sama membahas persoalan ini." Mari kita perhatikan kata "Mari kita bersama-sama..." Berlainan dengan ungkapan pertama, "...perhatikan..." dalam perkataan kedua guru berkata ..."Mari kita bersama-sama..." Ini menempatkan guru pada posis di tengah-tengah para peserta didik. Dia belajar bersama para peserta didik demi membangun karsa belajar. Dengan keterlibatannya dalam proses belajar Bersama-sama para peserta didik, guru bisa membangu karsa belajar.
Saat guru berkata, "Yah, ceritakan kembali cerita yang barusan kalian baca dengan kata-kata sendiri. Saya yakin kamu bisa." Saat inilah guru berdiri di belakang para peserta didik. Dalam posisi itu dia menjadi motivator. Ini tampak pada kalimat terakhir, "Saya percaya kamu bisa."
PENUTUP
Dengan tulisan ini, diharapkan akan semakin jelas betapa pentingnya wacana dalam kelas. Wacana sangat penting bagi keberhasilan pendidikan. Terlebih di era merdeka belajar, wacana kelas apakah guru bisa menjadi teladan, pembangun semangat, atau menjadi motivator yang mengarahkan peserta didik untuk mandiri.
DARTAR PUSTAKA
Heri Suwignyo. (2012). Wacana Kelas: Substansi, Modus, dan Fungsi Edukatif Bahasa Among. PT Reflika Aditama.
Katili, A. A. (2007). RELEVANCE IN ARTHUR MILLER’S DRAMA “DEATH OF A SALESMAN”: A STUDY OF LANGUAGE USE BASED ON SPERBER’S AND WILSON’S THEORY OF RELEVANCE. State University of Malang.
Katili, A. A. (2021). Discourse Analysis on Classroom Interaction. State University of Gorontalo.
Rymes, B. (2008). Classroom Discourse Analysis: A Tool for Critical Reflection. Hampton Press.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI