Kondisi pohon padi saat ini sudah mengeluarkan bulir, dan sebagian mulai menguning. Ini rentan dari serangan hama burung. Tapi entah mengapa, tadi pagi tidak terlihat buruh penjaga sawah. Sehingga burung-burung bebas hinggap di ujung-ujung batang padi tanpa ada bunyi yang mengusir.
Cuma tadi pagi tetap sepi. Tak terlihat kendaraan yang mengantar ibu-ibu ke pasar. Juga tidak terlihat anak-anak yang tergesa-gesa ke sekolah, karena selain hari Minggu, aktivitas mereka juga sudah sebulan lebih diliburkan. Sementara, aliran air sungai tidak begitu deras. Permukaan air di Sungai Cipamokolan justru sangat rendah, mungkin di daerah hulu tidak turun hujan.
Melewati kebun liar itu, merupakan setengah dari perjalanan olah raga jalan kaki yang biasa rutin dilakukan setiap pagi. Lokasi yang berikutnya yang akan dilewati sedikit agak menyeramkan. Namun karena kami sudah terbiasa, jadi tidak merasakan apa-apa.
Lepas dari area perkuburan, kami melewati Ruman Susun Sewa (Rusunawa) Rancacili. Beberapa blok rusunawa itu sudah penuh dengan penguni. Di lokasi yang sama ada Pusat Kesehatan dan Sosial (Puskesos). Namun di beberapa blok lainnya, rusunawa justru mangkrak pembangunannya. Jadi pemandangan yang kumuh, juga bisa menyerampkan karena tak terurus.
Akhirnya kami sampai juga di tujuan utama jalan kaki. Jalan Raya Ciwastra saat itu masih terlihat sepi. Biasanya di pagi hari sudah terjadi kemacetan karena banyak orang yang hendak belanja ke Pasar Ciwastra. Jalan Ciwastra juga menjadi area pusat pendidikan karena banyak sekolah dibangun di sana.
Kali ini, kendaraan yang melintas di Jalan Ciwastra tidak begitu banyak. Jalanan cenderung terlihat lengang. Kondisi itu tentunya sangat menyenangkan pagi penggemar olah raga jalan kaki. Karena polusi kendaraan belum banyak mengganggu udara yang segar di pagi hari. Oh nikmatnya, hari ini masih bisa jalan kaki. (Anwar Effendi)***