Lalu, apa kesalahan PB Djarum dan KPAI?
Industri dan perdagangan rokok telah menjadi selingkuhan abadi di berbagai negara di dunia. Di satu sisi rokok tidak dilarang beredar dan dikonsumsi karena banyak mendapatkan cukai/pajak untuk menambah pundi penerimaan resmi negara.Â
Namun di sisi lain pemerintah "malu" menempatkannya pada posisi resmi yang terhormat.Â
Terlebih ketika perkembangan dunia terkini yang gencar memusuhi rokok. Dalam kemasan rokok wajib ada peringatan "Merokok membunuhmu" ; "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, Â impotensi dan gangguan kehamilan dan janin", dan seterusnya.
Bandingkan dengan narkoba yang secara hukum dilarang diproduksi, diperdagangkan dan dikonsumsi. Padahal kalau saja diperbolehkan resmi seperti industri rokok, banyak bandar narkoba bersedia bayar pajak resmi ke negara.
Kesalahan PB Djarum bukan pada dugaan eksploitasi anak, melainkan "takdirnya" sebagai perusahaan industri rokok. Â Djarum (dan perusahaan industri rokok lainnya) merupakan selingkuhan resmi pemerintah sejak jaman baheula.
Kegiatan audisi bulutangkis itu tanpa gambar orang merokok, tanpa ajakan untuk merokok, tanpa bagi bagi-bagi, dan tanpa simbol simbol rokok sedikitpun namun secara marketing sangat signifikan membesarkan Branding Djarum.Â
Tampil bak malaikat penyelamat nama baik bangsa di dunia bulu tangkis, mau tidak mau, kebesaran branding itu akan mengarah pada rokok.
Pisau bedah KPAI sebenarnya mengarah pada upaya pembesaran Branding Djarum selaku industri rokok yang dianggap haram dilakukan lewat agenda mengangkat anak-anak kelak menjadi pembawa nama baik bangsa dimasa depan.Â
Kenapa KPAI tak ingin Branding Djarum jadi besar? Dunia rokok makin sulit dihilangkan, sehingga kelak anak-anak di luar audisi menjadi familiar dengan rokok. Â
Kesalahan KPAI adalah hasil bedah nya tidak langsung menyasar pada upaya pembesaran Branding tersebut. Entah kenapa. Mungkin tersipu malu melihat kemolekan selingkuhan pemerintah. Celakanya, Â KPAI jadi malu-maluin menelanjangi PB Djarum dengan diksi "Eksploitasi anak". Mungkin agar tampak lebih heroik di ruang publik, tapi justru bikin KPAI telanjang bulat di depan publik yang tak melihat eksploitasi itu. Malahan mereka telah merasakan jasa besar PB Djarum membawa bulutangkis Indonesia ke kancah dunia.
Ibarat pepatah, KPAI "menepuk air di dulang, terkena wajah sendiri". Siapa yang salah? Jawaban picisannya ; Salahkan air itu! Kenapa berada di dulang? Heu heu heu....
Di sudut lain, sebagai si Molek selingkuhan pemerintah, posisi Djarum "maju kena mundur kena". Goyang dianggap tak sopan, diem-diem bae disangka sombong. Kesian yaa? Kalau aku sih rapopo.