Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Jokowi Blunder

20 Mei 2021   09:10 Diperbarui: 20 Mei 2021   09:31 912
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Jokowi Blunder

Senang, tiap kali Jokowi mengatakan atau membuat kebijakan, kemudian dijadikan bahan dan  label blunder. Tentu bukan oleh oposan atau barisan sakit hati yang mengatakan itu. Saat  yang bicara adalah pendukung Jokowi. Menglaim garis keras pula.

Tidak lama kemudian, mereka-mereka ini paling kenceng juga membela dan mengatakan Jokowi cerdas dengan langkah kudanya. Ha...ha..pret. Rekam jejak digital ada kog. Syukur bahwa mereka ini punya ingatan pendek, beda dengan saya yang karena pengaruh scorpio jadi ingatan kuat dan panjang.

Salah satu saja contoh, ketika Rizieq Shihab pulang, membuat kerumunan, kerusakan pula, berbondong-bondong pejabat dan mantan pejabat menyambangi. Suara pendukung ini mengatakan, sebentar lagi akan datang pembelaan langkah kuda Jokowi. Orang ini melanjutkan dengan cemoohan dan kekecewaan.

Percuma berdarah-darah masa pilpres dan kemudian kalah hanya dengan satu orang saja. Narasi kekecewaan dan kemarahan lebih kuat. Sama juga ketika pegawai KPK akan menjadi ASN, orang ini mengatakan independensi akan hilang jika demikian.

Eh kini keluar lagi, karena pernyataan soal pembinaan ke-75 orang yang tidak lolos TWK. Jokowi blunder, Jokowi membiarkan keberadaaan orang yang tidak loyal. Lagi-lagi kekecewaaan, dan kemarahan. Identik soal dukungan dan pembelaan masa pilpres.

Mereka ini lupa, Jokowi itu Presiden RI bukan presiden pendukungnya saja. Ini yang harus dicamkan. Jangan sampai orang sudah sedih kalah pilpres kemudian disakiti lagi dengan sadis. Kadang sikap mengalah untuk menang tidak banyak dipahami oleh pihak-pihak yang menggunakan kaca mata picik.

Parameter, instrumen, dan alat kelengkapan presiden itu amat lengkap. Beda dengan pengamat sekalipun, apalagi hanya pegiat media sosial, paling banyak berapa sih yang bisa dipantau dan itu menjadi bahan simpulan? Paling banter juga dari media arus utama, dibumbui media sosial, kadang juga sas-sus dari sini dan situ.

Siapa yang tahu di balik presiden itu ada tekanan ormas, parpol, kadang juga mafia dengan kamuflase pegiat ini dan itu? Apakah mereka ini semudah lalat yang ditepuk mati? Tidak lah, mereka ini ditepuk menggigit, dielus menggeliat, bisa-bisa menikam.

Konsekunsi demokrasi di tengah masyarakat yang masih belum begitu maju dan lemah literasi ya seperti ini. Semua merasa  berhak bicara, tahu, dan benar, masalahnya, kapasitas yang minim, enggan baca pula. Ini persoalannya.

Belum lagi, kubu sebelah, ini bisa siapa saja yang memang menantikan keberadaan Jokowi untuk jatuh sesegera mungkin. Begitu banyak pihak yang memang mengintai dan menunggu momenuntuk mendepak ini. Siapa mereka tidak perlu disebutkan, bisa dipancung artikelnya. Ha..ha..ha..

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun