Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mutasi Virus dan Kebebalan Manusia

4 Januari 2021   21:00 Diperbarui: 4 Januari 2021   21:08 175
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Mutasi Virus dan Kebebalan Manusia

Dua hari yang lalu, awal tahun 2021, ketika tahlilan pada hari ketujuh tetangga mendengar percakapan, tokoh agama masih relatif muda, usia belum sampai setengah abad.  Ia mengatakan covid memangnya ada. Sempat panas mau menjawab, wong gara-gara model demikian Misa Natal batal diadakan.  Siapa yang tidak jengkel coba, lha virus yang awalnya setahun lalu kini sudah mulai ada varian baru, mutasi virus sudah nyata, tapi pola pikir dan sikapnya sama saja.

Miris karena memang pendidikan dan pengalaman sangat minim.  Sejatinya, mau percaya atau tidak, terserah asal tidak menyatakan pendapatkan secara publik, apalagi memiliki pengikut, pendengar, dan murid yang cenderung taklid atau membabi buta di dalam meyakini pendapat guru, atau tokoh panutannya. Salah satu yang menghambat penghentian penyebaran covid 19.

Beberapa hari lampau Pak SBY mengingatkan pemerintah untuk memberikan perhatian karena adanya laporan dari London bahwa ada varian baru covid 19 yang lebih menular. Penularannya lebih mudah, namun soal mematikannya sama. Tingkat risiko kematian tidak demikian signifikan perubahnnya.

Respons dari pemerintah dengan pembatasan kedatangan apapun yang dari luar negeri, hanya selevel menteri ke atas yang boleh masuk. Artinya, pelancong, pebisnis, atau hanya sekadar pejabat biasa tetap dilarang. Mutasi virusnya jauh lebih cepat dari sikap manusia meresponsnya.

Cukup menarik, kemarin dalam membaca tayangan pada media sosial, bagaimana priyayi Jawa dulu menolak diberi fasilitas telpon. Suatu hari Bule Belanda datang ke rumah salah  seorang pejabat-priyayi, dering telpon berbunyi, tetapi didiamkan saja dan tidak diangkat. Si Bule bertanya mengapa tidak dijawab panggilan itu. Si Pejabat dengan enteng menjawab, karena ia tidak tahu di seberang sana si penelpon itu menghubungi sambil duduk bersila dan menyembah atau tidak?

Sikap feodal dan merasa diri lebih. Hal yang membuat penyebaran covid seolah tidak terkendali. Padahal jika mau sedikit saja berubah, sikap dan perilakunya. Mau mengenakan masker, cuci tangan, dan tidak berkerumun, sebentar saja, pandemi bisa diputus kog jauh-jauh hari yang lalu.

Sikap tegas memang sudah dimulai dengan pemaksaan masker bagi para tamu yang melayat atau ikut tahlilan.  Duduk juga diberi jarak dengan kursi 2-3, yang biasanya untuk tiga orang menjadi  hanya dua orang. Sudah lumayan ada perubahan sikap dan perilaku. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Berbeda dengan beberapa waktu yang lalu, hanya sebagian kecil yang mau bermasker ketika acara yang sama, duduk juga biasa dengan kursi bakso plastik tanpa jarak. Perlu menunggu virus mutasi dulu orangnya ikutan bermutasi daya nalar dan pikirnya.

Jika saja mau sedikit taat, ikuti protokol kesehatan, dan jaga diri dengan sebaik-baiknya, jauh lebih baik kondisi bangsa ini di dalam penanganan covid. Sudah terlihat dengan gamblang dalam ilustrasi pejabat tidak mau menerima telpon, bagaimana sikap kita, bangsa ini di dalam menghadapi masalah.

Abai yang esensial namun riuh rendah pada yang artifisial. Mencari-cari dalih dan pembenar untuk kebebasan diri, tidak mau tahu kondisi orang lain. Ingat saja bagaimana pemuka dan pegiat agama, apapun agamanya toh banyak yang memiliki pemahaman sesat dan menjerumuskan jemaatnya.

Kesadaran itu penting. Masih ditingkahi pula para politikus yang mau mencari panggung demi kepentingan sendiri.

Dua pihak besar pemicu gedenya angka covid bangsa ini. adalah kaum agamis fanatis sempit, feodal, dan hanya memikirkan sepihak, sektarian, dan pokok e menjadi andalan. Ingat ini soal semua agama saja saja.

Kedua adalah orang-orang politik yang hendak mencari panggung. Perilaku mereka ugal-ugalan menunggangi covid demi keuntungan, nama diri, dan capaian politis mereka. Mau rakyat atau masyarakat jadi korban mereka tidak akan peduli, karena fokusnya  adalah nama diri mereka.

Kesadaran memang datangnya bisa terlambat. Tapi mau apa lagi. Lumayan ada kesadaran meskipun terlambat dari pada tidak sama sekali, kan ribet. Apa yang perlu dilakukan adalah;

Tidak menjadikan keyakinan dan kepercayaan diri pribadi sebagai keyakinan umum dan mengatakan itu sebagai kebenaran dan sahih bak ahli. Contoh ketika saya sehat, kuat, dan tidak comorbid, bukan berarti juga demikian semua orang.  Menahan diri untuk tidak mengajak orang ikut pedoman pribadi.

Taati petunjuk pemerintah, karena mereka yang memiliki lebih banyak sumber analisis, jejaring, dan data yang pastinya lebih lengkap dari apa yang kita miliki. Pemerintah itu diperlengkapi dengan instrumen komplet, jadi seahli apapun tokoh agama, atau seahli apapun pakar itu, tetap lebih bisa diyakini kata pemerintah, karena ahli dan pakarnya  lebih banyak dan menyeluruh.

Tidak perlu sok tahu dan merasa diri paling tahu dan benar. Virus saja mutasi, lha orangnya malah enggan berubah. Pasti akan terlindas zaman jika sikapnya selalu saja demikian.

Waktunya berubah dan bermutasi menjadi lebih baik, bukan malah mundur dan merasa diri paling, padahal tidak tahu apa-apa.  Jika tidak bisa membantu, minimal tidak mengganggu.

Terima kasih dan salam

Susy Haryawan

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun