Ramai-ramai Bicara HP Jadul Karena Tergelincir Media Sosial, Solusi atau Melarikan Diri?
Miris sejatinya menyaksikan betapa orang dengan mudah menyatakan, sebaiknya kembali ke HP jadul, agar orang tidak tersesat dalam media sosial. Kembali menyelesaikan masalah dengan gampang namun bukan sebuah penyelesaian yang hakiki. Jadi ingat artikel lama, efektivitas pemblokiran porno dari internet.
Persoalan pornografi dengan cara memblokir situs dan halaman-halaman dalam internet. Ini sama dengan HP jadul dengan kebijaksaan dalam bermedia sosial. Benar seolah-olah itu adalah solusi, benar, sebagai upaya iya, namun bukan sebentuk penyelesaian menyeluruh.
Paling tidak sudah ada dua pejabat, Dandim Kuningan dan Ketua DPR RI yang menyarankan mak-mak menggunakan HP jadul saja. Mengapa ini bukan sebuah solusi?
Pertama, berapa banyak sih mak-mak yang terkena dampak kengawuran bermedia sosial? Apalagi berangkat dari kasus penikaman Wiranto. Lepas dari masalah lain karena keberadaan HP dan angka perceraian lho ya. Toh jauh lebih banyak yang aman dengan media sosial.
Kedua, mak-mak pelaku ekonomi kreatif yang sangat terbantu dengan HP modern tentu menjadi gerah jika ini adalah menjadi solusi paten. Berbagai tawaran menggiurkan bisa dilakukan oleh dan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan dunia informasi yang demikian pesat.
Ada blogger, vlogger, youtuber, pedagang online, yang sangat tergantung pada kecepatan dan ketepatan soal informasi dan hal-hal yang up to date, terlewat sekejab saja semua bisa melayang. Jangan sampai nanti ada gerakan antihape modern kan cilaka.
Ketiga, internet, media sosial, atau kemajuan apapun tetap bermakna ganda, bagaimana kita memaknai dan memanfaatkan itu menjadi penting dan mendesak untuk kita latihkan dan jadikan pembelajaran bersama.
Berangkat dari sana, beberapa hal cukup menarik
Keberadaan media sosial tidak salah. Yang salah adalah pelaku bermedianya. Mengapa demikian? Media ataupun media sosial adalah sarana, dan bisa dipakai untuk apa saja. Ketika orang tersesat, tentu bukan jalannya yang salah, namun orang yang memilih jalan yang salah. Mosok kita tersesat kemudian meminta jalannya ditutup, ini kekanak-kanakan.
Penting dan mendesak dilakukan adalah, pendidikan dan literasi bermedia sosial. Tentu lebay juga jika masuk dalam kurikulum sejak sekolah dasar misalnya, karena hal ini akan terus berkembang. Pemahaman soal etis dan nonetis itu ranah pendidikan kognisi sekolah, dan juga pendidikan agama.
Literasi dan pendidikan itu bisa lewat seminar, pertemuan dasa wisma, arisan dan pertemuan rutin ibu-ibu persit dan organisasi lain. Pengajian dan pendalaman iman juga sangat penting membahas penggunaan media sosial.
Gereja Katolik pernah mengangkat tema ini ketika Hari Komunikasi Sedunia, dengan tema, Media Sosial, bukan Media Soksial. Yang awalnya sosial, dari kata socius teman, dalam bahasa Latin, malah menjadi soksial, alias bencana.
Kebiasaan nonggo, berubah menjadi chatting, publish, menayangkan status, di mana tanpa jarak, tanpa sempat berbicara, dan ribuan, bahkan jutaan orang bisa langsung serentak menikmati. Â Dan kesempatan yang hanya seperkian detik itu pun bisa juga sudah terekam. Tabiat, kebiasaan, dan awalnya kebersamaan, bersama-sama dengan tetangga, kiri kanan, berinteraksi, toh bisa juga maksiat yang ada. Toh bertentangganya tidak dihapus bukan?
Masih gagap dalam penggunaan media, sangat mungkin. Orang bisa menjadi berani karena berjarak, dan minim pertimbangan karena pertimbangan viral, hot, dan terdepan. Hal-hal ini yang sering menjadi masalah dan gagal di dalam memanfaatkan media sosial yang sejatinya bisa sangat membantu dan berguna.
Membedakan mana yang penting dan  mana yang mendesak, mana yang penting namun tidak mendesak, mana yang tidak penting namun mendesak, mana yang tidak penting juga tidak mendesak  masih sering gagap. Kemampuan ini yang harus diolah, apalagi jika sekelas istri Dandim, tentu seyogyanya bisa memilah dan mimilih.
Gagasan mak-mak ber-hape jadul, sebagai sebuah upaya sih boleh-boleh saja, namun apakah itu menyelesaikan masalah? Jelas tidak. Malah mundur, menyelesaikan masalah tidak pada akar masalah.
Persoalannya adalah sikap bijak dan dewasa bermedia sosial, bukan soal hape modern atau jadul. Tidak salah juga media sosial atau tidak menggunakan media sosial. Ini yang harusnya disadari bersama. Lompatan  penyelesaian.
Membedakan mana baik buruk. Penting tidak, mendesak atau tidak masih sering salah, bahkan termasuk oleh pribadi berpendidikan tinggi. Berarti ada persoalan pada pendidikan yang harus dibenahi. Hal ini mengenai soal sikap batin di dalam mengambil keputusan dan memilih dan bersikap.
Menggunakan waktu dengan lebih bijaksana, memilih kegiatan yang bermanfaat, membaca, menulis, dan berdiskusi tentu memerlukan bekal pendidikan yang cukup dan kebiasaan ilmiah perlu dikembangkan terus menerus. Ini jauh lebih penting dari pada sekadar hape jadul.
Berbicara baik dan benar serta salah dan buruk berkaitan dengan ranah moral. Jika demikian berarti mengenai iman, agama, dan religiusitas. Agama tidak semata ritual dan ibadah dengan penuhnya rumah ibadah atau pakaian tertentu. Termasuk di dalamnya adalah pertimbangan baik dan buruk. Pemahaman yang menyeluruh akan sangat membantu bagi pribadi perpribadi untuk dapat bisa memilah dan memilih dengan dasar yang bertanggung jawab.
Bolehlah gagasan urgen, namun mosok ya harus mirip anak kecil begitu sih. Kepercayaan penting dan pendidikan itu utama.
Terima kasih dan salam
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI