Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Bui ES, BN di Arab, Cekal Sehari KZ, Hukum-Politik Campur Aduk

14 Mei 2019   12:04 Diperbarui: 14 Mei 2019   12:21 763
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Kelompok ini cukup banyak, bukan hanya pribadi, namun ada juga ormas yang gemar menggunakan dalih ini. Ketika terpojok atas perilaku kriminalinya, akan ngompor-ngompiri pihak lain sebagai pelaku kejahatan pada agama. Penggunaan label dan kesamaan pakaian ini sangat berguna dalam beberapa tahun terakhir ini, ketika mau ditegakkan ya sudah, banyak yang ngamuk dan enggan dibetulkan.

Politik dan kepentingannya. Ini lebih susah lagi karena hukum itu jelas dan pasti, sedangkan politik itu abu-abu. Kepentingan politik sekian lama menjadi panglima kini kena batunya. Orang sudah terbiasa memakai kedok politik dalam berbagai-bagai kepentingan pribadi.

Saling sandera dalam posisi elit sangat menghambat banyak hal. Apalagi jika sudah politisasi agama juga masuk di sana. Repot dan ribet, memfitnah namun merasa itu kehendak Tuhan dan banyak dukungan politik di sana. Risiko hitung-hitungan politik menjadi masalah.

Jangan salah semata hitungan politik, ada juga risiko adanya aksi dan reaksi yang bisa memecah-belah bangsa, ingat masih campuraduknya kepentingan dan banyak hal saling silang tidak jelas.  Waktu terakhir sudah semakin banyak harapan baik dibangun dan dijalankan.

Kesadaran bersama membedakan antara perilaku dan asal-usul, sebagaimana pernyataan Hendropriyono soal keturunan Arab. Dukungan positif jauh lebih banyak dan tidak menjadikan sentimen negatif berlebihan. Sudah mulai nalar, meskipun mau dicoba-coba benturkan, ingat soal kepentingan  politik juga.

Tim hukum nasional bentukan Wiranto, ini juga penting karena selama ini elit begitu leluasanya mengatakan ini dan itu serta berdalih sebagaimana di atas. Tim yang terdiri atas berbagai pihak yang berkompeten, tentu tidak akan asal-asalan, dan juga cenderung lebih bisa dipercaya daripada hanya satu dua pihak yang cenderung mudah kalah dengan keadaan, baik kekuasaan atau kekuatan gerudugan. Harapan ini jangan sia-sia karena ulah banyak pihak yang mau berlindung dari kebiasaan lama.

Presiden mengatakan sudah tidak ada beban lima tahun ke depan. Hal yang jelas sangat baik bagi tumbung kembang demokrasi yang bermartabat, bukan malah penuh hujat tidak bermanfaat. Sebenarnya hal yang memalukan sebagai bangsa besar harus berkata demikian.

Sikap tanggung jawab perlu ditekankan terutama pada elit. Yang kecil-kecil, tidak punya jaringan, koneksi, apalagi kemampuan untuk berkelit sudah banyak masuk bui, jangan enak-enak bicara dan lepas tanggung jawab. Kalianlah yang menularkan virus itu, dan siaplah bersama kroco yang sudah masuk duluan.

Demokrasi itu siap kalah, jangan ada dalam kamus demokrasi kog kudu, pokoke, harus menang, tidak ada istilah kalah, ndhasmu, kata Prabowo. Hal yang perlu dipelajari dan dicamkan oleh elit negeri ini.  Sikap sederhana yang tidak dimiliki justru oleh elit.

Demokrasi juga ada periodisasi, siapkan pertarungan untuk lima tahunan, jangan hanya maunya jatuh di setiap saat, pas kontes aslinya tidak siap, membentuk berbagai-bagai opini menyesatkan. Kalau mau jujur, mereka tahu kog Prabowo kalah dan Jokowi menang. Hanya karena malu bahwa mereka malas selama ini berupaya mendapatkan  kemungkinan sekecil apapun. Masih ditingkahi banyaknya kepentingan yang bertautan.

Terima kasih dan salam

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun