Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Raihan Luis Milla

28 Agustus 2018   09:00 Diperbarui: 28 Agustus 2018   09:47 966
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bola. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Susah memang jika paradigma instan diterapkan dalam dunia yang memerlukan proses panjang. Bulutangkis saja, yang sudah sekian lama jadi jaminan mutu, tetap masih naik turun grafiknya, meskipun masih lah dalam taraf yang sangat wajar. 

Apalagi sepak bola yang pembinaannya tidak jelas, lebih kental aroma kolutifnyanya, dan liga yang sama tidak memberikan gambaran seperti apa sih sepak bola yang mau diraih. 

Dua tahun Luis Milla, statistik kemenangan tidak menjanjikan, apalagi gelar, namun toh tetap ada kualitas yang tidak dimiliki timnas selama ini, belum pernah sebagus ini menghadapi tim besar dan level Asia lagi. Biasanya menghadapi Thailand, Vietnam, dan Malaysia saja ketar-ketir, ini menghadapi UEA, kalah dramatis, dan "kontoversial" sangat bisa diterima akal sehat.

Permainan tim ini memiliki karakter, jika menggunakan analogi, kelas sekolah, naik dua tiga tingkat dari yang biasanya. Beberapa hal perubahan signifikan yaitu, sepanjang 120 menit, pemain tidak banyak perubahan permainan, terutama stamina. Biasanya menit 70 ke atas sudah jauh menurun, apalagi sampai babak perpanjangan. Hal positif.

Permainan kolektif saling melengkapi dengan kemampuan individual yang bagus. Jarang permainan kolektif yang ditunjang bakat alami potensial ini bisa sinergi, biasanya malah bisa saling meniadakan. Tampil individu yang merusak tim, atau bergantung pada satu sosok dan malah tidak mengembangkan kedua belah pihak.

Menyerang dan bertahan sama baiknya, umpan panjang dan variasi pendek menjadi andalan. Sangat padu, di mana bisa menjadi kekuatan tersendiri dengan memberikan kesempatan dan jam terbang. Kebersamaan yang makin lama akan membuat makin padu dan solid.

Ketinggalan pun tidak panik, bahkan hingga detik terakhir masih berjuang dan bisa membalikan keadaan. Sepanjang Asian Games, paling tidak dua kali situasi sangat krusial dan bisa dikejar di menit akhir. Ini hal yang tidak mudah.

Membuktikan soal fisik kecil bukan masalah besar. Selama ini kiblat Eropa, Timur Tengah yang tinggi besar bisa berjaya, toh dengan pemain asli Indonesia, yang ya segitu itu tetap bisa berjibaku dengan lawan yang lebih gede dengan cara yang baik dan benar. Ini soal keuletan, kualias teknik, dan kemampuan. 

Dulu dengan tetangga UEA, Bahrain, pernah dibantai 10, jelas bukan perbandingan yang sangat linier, banyak faktor, paling tidak sudah ada perubahan. Hal yang tidak bisa diubah dalam kurun waktu singkat soal fisik, toh bisa diatasi. Berhadapan dengan yang diluar kemampuan bisa menemukan cara terbaik dan realistis.

Pembinaan tidak serta merta bisa dipotong kompas dengan menyewa pelatih kaliber dunia,  wacana Guus Hiddink, Mou, atau siapapun bahkan malaikat sekalipun jika tidak melakukan pembinaan dan proses yang berjalan, tetap tidak bisa membawa prestasi. Luis Milla pernah membawa juara, di mana negara tersebut telah membina dan memiliki akademi sepak bola yang baik dan modern. Bagaimana bisa membangun kesebelasan yang semata mengandalkan "keberuntungan" dan tidak mau kerja keras.  Sama sekali tidak bisa.

Bakat alam dan pelatih baik perlu pembinaan yang berkelanjutan. Bakat-bakat pemain Indonesia tidak pernah kurang, ada era Anjasmara, Iswadi Idris, Beni Dollo, Rully Nere, Marjuki Nyakmat, Ribut Waaidi, Rocky Putiray, Widodo C Putra, Primavera, Bareti, Bambang P, Sudarsono, kini era Evan Dimas, dan generasi mendatang pun sudah nampak. Itu semua perlu proses. Tidak bisa hanya lahir dan kemudian juara. Kombinasi pemain, pelatih, dan tentunya pembinaan. Pemain bakat alam masih perlu sentuhan agar bisa makin baik.

Tanah liat untuk jadi keramik, atau hanya gumpalan tanah liat, atau gerabah, kan perlu sentuhan tangan, alat dan teknologi, serta kreatifitas. Nah tanah liat itu melimpah, sentuhan tangan dingin sudah mulai menampakkan hasil, dan evaluasi pada pembinaannya.

Selama ini PSSI demikian berkuasa, seolah mengganti pelatih adalah cara jitu. Memberi target tinggi karena melihat bakat  pemain dan pelatih menjanjikan. Padahal jika mau realistis, mau mengadakan evaluasi dan melihat dengan sangat luas, sebenarnya masalah itu pada organisasi dan pengurusnya.

Liga jelas belum banyak berkontribusi pada keberadaan tim nasional yang bisa berbicara lebih jauh lagi. Akan selalu demikian jika tidak ada perubahan yang signifikan dalam menyelenggarakan liga. Liga masih sebatas ramai penonton, soal kualitas masih belum banyak berubah.

Pengurus lebih banyak petualang yang tidak tahu bola, tahunya uang dan menghasilkan uang. Ini tidak salah, namun  tidak tepat. Prestasi dulu pasti uang akan datang, itu pardigmanya, jangan berpikir uang dan uang, padahal kualitas ya masih begitu-begitu saja.  Boleh berkaca pada Eropa atau Amerika Latin, namun jangan tutup mata, mereka melakukan pemmbinaan dengan intensif dan jelas.

Regulasi klub memiliki SSB binaan, apalagi jika mempunyai akademi sendiri-sendiri. Sayang jika takenta dini dan muda hilang karena tidak terpantau dan terbina dengan baik. Tugas pengurus itu di sana, bukan malah menonton kalau menang dan pergi pas butuh dukungan.

Apresiasi untuk Luis Milla dan tim nasional yang dibentuknya, apapun ke depan, siapapun pelatihnya, jangan lupakan proses. Instan tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Terima kasih dan salam

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun