Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Dongeng

Dongpol, Pohon Beringin Tua di Pojok Desa

21 Desember 2017   05:49 Diperbarui: 21 Desember 2017   06:13 624
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pohon Beringin Tua di Pojok Desa

Pohon beringin tua di pojok desa itu, sebuah tanda akan sejarah panjang kampung yang kaya raya. Di sisi barat ada rawa yang memberikan begitu limpah ikan gabus, nila, mujair, udang rebon, dan tidak kalah asyiknya telor ikan wader yang gurih dan menggoda itu. Tidak heran kampung dengan pohon beringin itu kaya raya. 

Di sisi timur yang berkontur bukit penuh dengan pohon durian dan kelengkeng. Lambang manis dan mewahnya desa di lereng bukit yang menghijau itu. Di sisi selatan, berdiri dengan gagah gunung berapi yang masih aktif. Untuk sampai ke sana, kampung itu berbatasan dengan hutan yang masih begitu banyak munyuk, kera, dan aneka satwa hutan, ular besar pun masih sering datang dan menyambangi kampung. Kijang, rusa, dan beruk pun masih sering tersesat dan lari terbiri-birit jika ketahuan manusia.

Beringin yang kini menua itu, jika dilihat dari sisi barat yang berawa itu seolah  gumpalan awan namun berwarna hijau. Sulur-sulut akar gantungnya menjadi mainan anak-anak kampung dengan koreng dan kudis di sana-sini namun riang gembira. Kadang berebut pula dengan anak munyuk ataupun bajing dan tupai. Sejak demang pertama kampung itu, beringin itu masih ada. Memang ernah tumbang dan membaw banyak korban, namun akarnya menumbuhkan kembali pohon yang tidak kalah besarnya.

Namanya pohon besar dan rimbun, akarnya sampai ke mana-mana. Tidak heran belik di sisi-sisi pohon begitu banyak. Dari sisi timur yang berbukit, gerumbul pohon itu bak payung raksasa dengan genangan air di sisi kanan dan kiri serta agak jauh di sana untuk beli mandi bapak, ibu dan gadis, serta anak-anak. Anak-anak perlu tempat sendiri karena kesukaan mereka berenang dan main kadang membuat keruh kedung yang jernih itu. 

Ki demang memang membuat itu untuk pemandian anak dan disalurkan untuk pengairan sawah. Sidat di kedung itu besar-besar, belut di sawah tidak kalah besarnya. Caping para petani penuh dengan belut saat membajak.

Berdiri gagah dan menjulang, biasa klenik dan mistik selalu mengitari keberadaan pohon beringin itu. Dulu, seorang tentara katanya bisa sukses dan menjadi raja di tempat jauh sana karena pernah nenepi di sana. Si raja itu sering datang membawa sesajen, yang jelas jadi jarahan munyuk kalau belum keduluan anak-anak bengal yang memang mengintai dari jauh. Angkernya beringin mana menjadi pertimbangan mereka.

Juragan perahu di rawa juga konon karena mendapat wangsit daripohon beringin itu. Jangan heran perahu yang ada di rawa itu hampir seluruhnya milik Juragan  Karyo. Setiap sore dan pagi ia mendapatkan bagi hasil dari para nelayan. 

Memang ada yang berangkat pagi, tapi tidak sedikit yang berangkat sore. Juragan berbadan kecil namun murah senyum itu paling bersih di kampung. Iyalah ia tidak pernah pergi ke rawa, makanan jelas terjamin hasil dari ladang yang digarap kerabat dan tetangganya. Lauk ikan segar dari rawa dari para penyewa perahu.

Kini pohon itu menua. Kuning di sana sini, keropos dalam, semut dan ulat ternyata tidak takut pada getah beringin apalagi ulah usil munyuk yang suka melempari gadis mandi dengan buah kecil lengket itu.  

Ternyata para munyuk juga tahu kalau kedung gadis dan ibu-ibu itu lebih menarik, dan menjadi ajang godaan mereka. Sesepuh desa tidak berani mengusir kera jahil itu, karena konon mereka lebih dulu ada daripada para warga. 

Anehnya tidak pernah ada bangkai monyet atau kera satupun. Padahal paling tidak ada dua keluarga besar satu ekor panjang dan satu ekor pendek yang tidak pernah akur, tapi tidak pernah juga mereka bertikai secara brutal. Pun tupai dan bajing tidak pernah ada bangkainya. Ini membuat makin mistis si beringin.

Calo macam calo juga biasanya bisa ditemui pas siang hari sedang duduk-duduk sambil ngopi dan ngobrol ngalor kidul mengenai jelas apa yang menaungi merek. Dari sanalah mereka mendapatkan catutan banyak hal, biasanya tidak jauh dari ladang dan kebun. Paling banter juga menjualkan tanah bagi orang sana. Itu pun tidak jauh. Namun nama mereka yang sering lebih tenar dari pada penduduk kampung yang kesohor sekalipun seperti Juragan Karyo itu. 

Mereka kini sedang kasak-kusuk mau mengusulkan bahwa belik itu dibangun lebih tertutup sehingga para gadis aman dan nyaman mandi. Padahal selama ini juga tidak ada masalah. mereka jugalah yang usul untuk membuat gapura di jalan masuk kampung, mau memagari sekeliling pohon, dan bahkan ada yang mau membuat saung dan dangau biar bisa disewakan kalau ada "peziarah" yang mau beristirahat. Perilaku ugal-ugalan mereka ini meresahkan warga kampung yang telah sekian lama hidup dengan harmoni bersama di ringin dengan segala eksotikanya.

Paham mereka yang sederhana ini membawa simpulan, kalau kuningnya banyak daun, dahan yang mulai banyak kering, dan botak di sana-sini, paling parah jelas bolong di batang utama, karena perilaku para pencatut yang dompleng ngisis namun merasa memiliki itu.  Munyuk pun mulai jarang nungul. Sidat di belik makin sedikit padahal mana ada anak yang berani mengambil apalagi memasakanya. 

Usai si Polem panas dingin bertahun lalu memanggang sidat usai ia kedinginan kelamaan main di kedung. Ia kelamaan menunggu para perawan mandi, ternyata hari itu mereka tahu polah si Polem maka tidak mandi. Dari sana panas dingin dan sidat keramat itu aman terjamin, hingga kini pecatut datang dan tiba-tiba hilang.

Rapat sesepuh dan pak demang susah tercapai kata sepakat, karena banyak yang sudah mendapatkan rokok atau roti dari para pencatut itu. Mereka mempertahankan ide dan gagasan siapa yang memberikan apa kepada mereka. Akhirnya diputuskan sepekan lagi akan diadakan pembicaraan dan mengambil tempat di bawah beringin, dan warga asing tidak boleh terlibat sama sekali, apalagi ikut di sana.

Sehari sebelum rapat, angin dan hujan deras luar biasa. Derak dahan patah diikuti suara gemuruh ternyata beringin tua itu tercerabut dengan akar-akarnya. Hampir seluruh penduduk menyaksikan sambil menggigil, karena rumah mereka bermuka ke beringin keramat itu. Melingkar dengan apik dan rapi, kini semua tinggal kenangan.

Salam

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Dongeng Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun