Siapapun jadi presiden perlu didukung asal:
Pejuang Pancasila bukan konsep dan wacana semata, dengan dikelilingi kelompok radikalis dan penuh kebencian rasis, suka kekerasan dari rekam jejak mereka. Rekam jejak dan lingkaran utama sangat menentukan jiwa mereka. Mengatakan atau melafalkan Pancasila namun hatinya busuk, apa beda dengan serigala berbulu domba. Tetap dia tidak doyan rumput selain daging.
Komitmen bagi bangsa dan negara di atas pribadi dan kelompok. Lihat saja selama ini bagaimana perilaku mereka itu. Rakyat diingat dan disebut hanya ketika menghadapi kesulitan dan dekat pemilu. Semua sudah terang dan bisa dilihat dari perilaku mereka selama ini. Jangan karena tiba-tiba makan di warung pasti merakyat atau panen di sawah sudah pasti memikirkan petani.
Tidak tersandera oleh masa lalu, baik kekerasan ataupun maling. Persoalan ini belum tersentuh sama sekali bagaimana maling makin menggila padahal kinerja penegak hukum makin membaik. Petinggi negeri maah antri masuk bui. Ke mana mereka selama ini?
Masalah terorisme, narkoba, dan maling berdasi sama sekali tidak menjadi pembicaraan elit negeri ini mengapa? Mereka tidak akan mampu memberikan solusi dan tidak seksi untuk pemilu mereka. Apakah mereka ini layak memimpin negeri? Jelas mereka mikir kursi sebagai tujuan, dan mencapai itu bingung.
Satu ton narkoba di depan pandangan, polisi mati di pelupuk mata karena teroris, dewan bancaan anggaran KTP-elsama sekali tidak mereka lihat. Mereka punya mata dan kuping namun buta dan budeg.
Salam
Artikel terkait: kompasiana.com/paulodenoven
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H