Mohon tunggu...
Parlin Pakpahan
Parlin Pakpahan Mohon Tunggu... Lainnya - Saya seorang pensiunan pemerintah yang masih aktif membaca dan menulis.

Keluarga saya tidak besar. Saya dan isteri dengan 4 orang anak yi 3 perempuan dan 1 lelaki. Kami terpencar di 2 kota yi Malang, Jawa timur dan Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Pilgrimage dan Percikan Ilahi dalam Diri Kita

27 Januari 2024   14:14 Diperbarui: 27 Januari 2024   14:18 178
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Meskipun panggilan untuk berziarah hadir untuk semua orang, tidak semua orang dapat atau mau menjalankannya. Ada realitas keterbatasan, tantangan, dan pilihan dalam kehidupan. Namun, bahkan dalam keterbatasan tsb, setiap individu memiliki kesempatan untuk menjalani perjalanan spiritualnya masing-masing, sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.

Betapa pentingnya kesadaran terhadap kehidupan sehari-hari dan keterlibatan penuh dalam pengalaman hidup. Dengan menghadirkan diri sepenuhnya dalam momen-momen kecil, seseorang dapat menemukan kehadiran Ilahi di setiap detik kehidupan.

Secara keseluruhan, ini mengajak kita untuk merenungkan makna hidup, menjalani perjalanan spiritual secara interior, dan menjalin hubungan yang bermakna dengan alam, sesama, dan Yang Mahakuasa dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan menuju ke hati kita sendiri, bahkan dapat dilakukan katakanlah di sebuah kamar khusus di rumah kita, atau dengan berjalan melalui jalan-jalan kota. Ke mana pun kita pergi, kita berjalan dengan telanjang kaki - dalam kemiskinan rohani - dan karena kita akhirnya berjalan ke dalam pecahan batu dan batu tajam di hati orang lain, kaki kita berlumuran darah.

Perjalanan ke dalam diri sendiri adalah inti dari ziarah. Tidak perlu berpindah tempat secara fisik, yang penting adalah perjalanan bathin yang membawa seseorang menuju pemahaman diri, makna hidup, dan hubungan yang lebih dalam dengan keilahian.

Perjalanan dengan bertelanjang kaki adalah metafora kemiskinan rohani. Ini bukan hanya keadaan fisik, tetapi lebih pada sikap hati yang rendah hati dan terbuka. Menjadi telanjang kaki di dalam perjalanan spiritual menunjukkan ketidakberdayaan, keterbukaan, dan keikhlasan untuk menerima pengalaman dengan segenap hati.

Dalam perjalanan hidup dan spiritual, kita tidak selalu dihadapkan pada kelembutan dan kemudahan. Metafora pecahan batu dan batu tajam di hati orang lain mencerminkan konflik, tantangan, dan penderitaan yang dapat kita alami dalam berinteraksi dengan sesama. Ketika kita berjalan melalui pengalaman-pengalaman ini, kita mungkin mengalami rasa sakit dan kesulitan, seperti kaki yang berlumuran darah.

Darah dari kaki yang terluka adalah simbol pengorbanan dalam perjalanan spiritual. Pengalaman penderitaan dan kesulitan yang kita temui dapat menjadi bagian dari proses transformasi dan pertumbuhan bathin, mirip dengan pengorbanan yang terjadi dalam perjalanan rohaniah.

Lihatlah seekor burung berkali-kali terbang dan berhenti di sebuah gedung tua, dengan panik membenturkan tubuhnya dengan rasa putus asa yang mengerikan ke jendela yang berdebu. Ia terbang sepanjang bangunan itu hanya untuk terbang lagi ke penghalang cahaya lain ... Ada lubang dan ruang, kalau saja ia bisa melihatnya. Setiap kali gagal, jeda dan keheningan menjadi lebih lama, dan keputusasaan yang menakutkan pada burung itu terasa semakin besar.

Bagaimana jika Tuhan menyaksikan dalam diri setiap manusia ada percikan ilahi, yang terbang dalam diri kita secara membabi buta, seperti burung itu, terhempas ketakutan, ditinju dan dihantam dari dinding ke dinding, dibutakan oleh rintangan dan debu, namun, Tuhan tahu, bahwa ada jalan menuju kebebasan alami dan penerbangan menaik.

Percikan ilahi mengisyaratkan setiap individu membawa kehadiran Tuhan atau aspek spiritual dalam dirinya. Ini adalah kekuatan bathin, intuisi moral, atau kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. Meskipun mungkin terkubur dalam kesulitan dan keputusasaan, namun percikan ilahi ini tetap ada sebagai potensi dalam diri manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun