Mohon tunggu...
Panggah Ardiyansyah
Panggah Ardiyansyah Mohon Tunggu... -

seorang anak bangsa yang berusaha mengenal dan mencintai beragam budaya Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Travel Story

Bayat, Sang Pelestari Tradisi Putaran Miring

14 Februari 2012   08:55 Diperbarui: 25 Juni 2015   19:40 2470
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Teknik Putaran Miring

Adalah hal yang lumrah apabila kita menyaksikan pembuatan gerabah dengan menggunakan roda putar datar. Hal ini banyak dijumpai di berbagai daerah penghasil keramik seperti halnya menjadi scene yang paling diingat dari film "Ghost". Akan tetapi bila kita berkunjung ke Bayat, kita akan menemui hal yang sedikit berbeda dari biasanya. Roda putar yang mereka gunakan dimiringkan beberapa derajat ke depan sehingga teknik pembuatannya disebut teknik putaran miring.

[caption id="attachment_171141" align="aligncenter" width="300" caption="Foto: Panggah Ardiyansyah"]

1329270902914935309
1329270902914935309
[/caption]

Lempengan bundar yang digunakan biasanya terbuat dari kayu jati atau mahoni dengan diameter 35-40 cm dan tebal 5-6 cm. Untuk memutar lepengan bundar yang condong ini diperlukan tali, yang biasanya terbuat dari pohon waru yang diikatkan ke tangkai roda putar. Tali tersebut kemudian diikat pada sebilah bambu pada kedua sisinya dan digerakkan menggunakan kaki dalam memutar lempengan bundar. Para pengrajin biasanya duduk di dingklik (bangku kecil) menyerong ke kiri dan memedal tali untuk memutar lempengan bundar.

[caption id="attachment_171142" align="alignright" width="180" caption="Foto: Panggah Ardiyansyah"]

1329270978572893859
1329270978572893859
[/caption]

Apa yang menginspirasi masyarakat Bayat untuk menggunakan teknik putaran miring ini? Menurut keterangan dari Bapak Sumilih, Ketua Desa Wisata Melikan, teknik ini digunakan dikarenakan dahulu banyak pengrajin gerabah berasal dari kaum perempuan. Mereka biasa bekerja membuat gerabah dengan menggunakan kebaya dan kain jarik. Untuk menjaga kesopanan, para perempuan ini menggunakan teknik putaran miring yang mengharuskan mereka duduk miring. Dengan posisi miring seperti itu, mereka menjaga etika kesopanan dengan tidak membuka paha ketika bekerja. Ditambah lagi, secara ergonomis, teknik putaran miring memberikan kemudahan kaum perempuan yang memakai kain jarik panjang untuk bekerja karena mereka tidak harus menekuk kakinya.

Teknik putaran miring memudahkan tanah liat yang akan dibentuk untuk melebar karena adanya gaya gravitasi sehingga produk dapat dibuat dengan mudah dan cepat tanpa mengeluarkan tenaga yang lebih seperti pada teknik putaran datar. Untuk membuat satu produk gerabah dengan menggunakan putaran miring diperlukan waktu sekitar 3-5 menit tergantung tingkat kesulitannya. Adapun kelemahan dari teknik putaran miring ini adalah gerabah yang dihasilkan harus dalam ukuran kecil dan pendek dan tidak bisa digunakan untuk membuat gerabah dalam ukuran besar dan tinggi. Ukuran maksimal gerabah yang dihasilkan adalah dengan lebar maksimal 23 cm dan tinggi maksimal 30 cm.

Epilog

"Professor Chitaru Kawasaki pernah datang ke Melikan untuk meneliti tentang teknik putaran miring karena di sini merupakan satu-satunya daerah yang masih menggunakan teknik ini. Kalau tidak salah beliau pertama datang ke sini pada tahun 1992," demikan diungkapkan oleh Bapak Sumilih mengawali obrolan santai dengan kami di laboratorium gerabah yang terletak di seberang jalan Balai Desa Melikan. Fakta ini menggambarkan betapa teknik putaran miring mendapatkan perhatian dari dunia internasional. Professor Chitaru Kawasaki adalah ketua jurusan keramik di Universitas Kyoto Seika yang terletak di Kyoto, Jepang. Selain meneliti teknik putaran miring Bayat, dia juga berjasa dalam mengembangkan teknik dan desain gerabah yang dihasilkan.

[caption id="attachment_171143" align="aligncenter" width="300" caption="Foto: Panggah Ardiyansyah"]

13292710582109100444
13292710582109100444
[/caption]

Bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke Desa Wisata Melikan untuk melihat kerajinan gerabah, Bapak Sumilih menjelaskan bahwa mereka dapat berkunjung kapan saja. "Selama ini yang berkunjung ke Melikan lebih banyak dari siswa-siswa sekolah karena masyarakat masih belum menganggap wisata seperti ini sebagai kegiatan wisata. Masyarakat biasanya pergi melihat Candi Borobudur dan Candi Prambanan serta tempat-tempat yang serupa sebagai pilihan untuk berwisata," kata Bapak Sumilih menyambung obrolan dengan kami.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun