Proses memola daun dan meletakkan daun di kain bahan ecoprint, siswa melakukannya dengan dipandu oleh narasumber. Begitu pun proses-proses berikutnya, hingga jadi batik ecoprint, siswa mengikutinya.
Ini termasuk daya tarik bagi siswa. Sebab, siswa tak hanya tahu tiba-tiba ada batik ecoprint di hadapannya. Tapi, proses dari awal, mereka juga mengikutinya dan mempraktikkannya langsung.
Hal yang sangat menggembirakan tentu saja karena topik pembuatan batik ecoprint, tak hanya membersamai siswa agar mereka memiliki keterampilan cetak.
Tapi, lebih daripada itu, mendidik siswa untuk mengenali lingkungan yang ternyata memiliki banyak manfaat bagi kebutuhan hidup (manusia).
Melalui proyek ecoprint, misalnya, siswa akhirnya mengetahui tentang bahan alami, khususnya banyak jenis daun --ini yang dilakukan di sekolah kami-- yang ternyata dapat digunakan untuk membatik dengan teknik ecoprint.
Dan enaknya, banyak jenis daun tersebut dapat ditemukan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka berani kotor, (akhirnya) juga mengenal getah tanaman, mungkin juga menjumpai ulat dan cara menghindarinya agar tak membikin gatal di tubuh.
Ini poin penting, yang akhirnya dimiliki oleh siswa. Yaitu, pengalaman belajar yang dapat langsung bersentuhan dengan alam dan lingkungannya. Bahkan, memanfaatkan alam yang berada di sekitar mereka untuk aktivitas yang produktif.
Sekalipun harus diakui bahwa sebelum terlibat dalam proses pembuatan batik ecoprint pun, mereka sudah mengerti kemanfaatan alam.
Tapi, melalui proses membatik dengan teknik ecoprint, siswa memiliki keterampilan yang dapat membuka ruang kreatif dan inovatifnya terkait dengan pemanfaatan bahan alami.
Memang kami tak berharap (terlalu) banyak bahwa semua siswa yang ambil peran di proyek pembuatan batik ecoprint, sejumlah lebih kurang 266 anak, akan memiliki ketertarikan terhadap teknik ecoprint.