Melihat sol sepatunya jebol, kiwir-kiwir (hampir lepas) dan satu-satunya kaus kaki putihnya basah, begitu katanya, serta tambahan informasi dari saya mengenai anak itu, kami bersehati: ia  perlu dibelikan sepatu. Ini keadaan darurat!
Untuk membelikan sepatu baginya tidak menggunakan uang kami. Tetapi, uang siswa sendiri. Setiap Jumat, siswa mengumpulkan infak. Dan, uang infak itulah yang digunakan untuk membantu siswa yang sangat membutuhkan.
Kadang ada yang membutuhkan kaca mata, sepatu, baju seragam, kaus kaki berlogo sekolah, tas, dan sejenisnya. Kadang yang membelikan kami sendiri, wali kelas, atau anaknya sendiri bersama orangtua/walinya  tentu --yang diikuti dengan  menunjukkan tanda bukti pembayaran dan barang yang dibeli kepada kami.
Cara tersebut hanya untuk memastikan bahwa uang yang bersumber dari infak diperuntukkan secara benar. Sesuai kebutuhan.
Nah, sekarang, mari kembali ke tokoh kita, yaitu siswa kami itu. Sekalipun sepatu yang dikenakannya solnya hampir lepas, ia terlihat tetap percaya diri. Berjalan begitu tenang seperti tanpa terganggu perasaannya.
Padahal, ketika kaki kiri melangkah yang tentu saja terangkat, sol sepatu bagian kiri terlihat mau lepas. Tetapi, karena bagian pangkal atau tumit masih melekat, jadi tidak lepas. Sekalipun begitu, saya kira tetap membuat tidak nyaman. Saya pernah mengalaminya. Tetapi, ia --sekali lagi-- tampak tidak merasa  terganggu.
Perihal merasa terganggu atau tidak, sebetulnya dapat ditandai  dari raut wajah. Tetapi, saya tidak menemukan di raut wajahnya ada tanda-tanda yang menunjukkan  rasa malu. Sehingga, saya akhirnya  sempat membandingkannya dengan anak-anak lain. Andai saja yang mengalami kejadian seperti itu anak  lain, bagaimana kemungkinannya?
Mungkin ada yang tidak merasa malu seperti dirinya. Mereka tetap memiliki kepercayaan diri. Tetapi, saya yakin, sebagian besar anak merasa malu kalau mengalami kejadian seperti itu. Apalagi anak-anak pada zaman now.
Sangat jarang ada anak, bahkan mungkin orang dewasa, yang dapat "menikmati" kesederhanaan, bahkan kekurangannya pada zaman serba gemerlap ini.
Maka, ketika kami menjumpai anak seperti tokoh kita ini, saya menghadiahi dua jempol. Hebat, luar biasa! Bahkan, tidak sebatas itu, saya perlu belajar juga darinya mengenai kepercayaan diri yang tetap terjaga meskipun dalam keadaan (ke)kurang(an).
Saya dapat melihat kepercayaan dirinya begitu kuat saat berada di antara teman-temannya. Kebetulan saat itu, saya mendapat tugas sebagai pengawas di ruang ujian, tempat ia mengikuti ujian. Tidak terlihat sedikit pun ia minder berada di antara anak-anak lain. Yang dalam pengamatan saya, sepatu mereka  dalam kondisi jauh lebih baik daripada sepatunya.