Mohon tunggu...
Sungkowo
Sungkowo Mohon Tunggu... Guru - guru

Sejak kecil dalam didikan keluarga guru, jadilah saya guru. Dan ternyata, guru sebuah profesi yang indah karena setiap hari selalu berjumpa dengan bunga-bunga bangsa yang bergairah mekar. Bersama seorang istri, dikaruniai dua putri cantik-cantik.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Tolonglah, Guru Gagal Membangun Karakter Anak Didik

24 Oktober 2019   00:14 Diperbarui: 24 Oktober 2019   00:22 75
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tentu saja kita (masih) memiliki harapan besar melalui Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta PPK, karakter anak-anak kita, generasi penerus pembangunan bangsa ini, mengalami peningkatan. Dari waktu ke waktu perubahan menuju ke karakter positif dapat kita lihat dan rasakan.

Meskipun kita menyadari bahwa tantangannya begitu besar. Pengaruh-pengaruh buruk terhadap  anak-anak berasal dari mana pun. Tidak hanya berasal dari lingkungan hidup mereka sehari-hari, baik dari keluarga, masyarakat, maupun pergaulan. Tapi, dapat juga berasal dari berbagai media, baik media massa maupun media sosial, yang sekarang tidak asing bagi mereka.

Dan, jangan-jangan sulit ditemukannya perubahan sikap positif dalam diri anak-anak hingga saat ini karena tantangan yang ada memiliki pengaruh yang lebih kuat ketimbang penetrasi nilai-nilai kehidupan melalui Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta PPK. Dalam bahasa yang sederhana, Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta PPK yang sudah diberlakukan di sekolah-sekolah tidak mujarab sebagai "obat".

Oleh karena itu, saya, mungkin juga banyak orang, tidak hanya yang seprofesi dengan saya, berharap banyak terhadap pemerintahan baru Jokowi-Ma'ruf Amin, betul-betul memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM) seperti salah satu poin dalam pidato Presiden Jokowi saat pelantikan, 20 Oktober 2019, di hadapan anggota Musyawarah Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di Gedung MPRRI.

Tentu dalam konteks ini tidak hanya pembangunan SDM dalam aspek pengetahuan dan keterampilan, tapi juga aspek sikap. Bahkan, aspek sikap ini yang harus menjadi prioritas pertama. Sebab, fakta menunjukkan bahwa betapa buruknya sikap atau karakter SDM kita. Tidak hanya dapat kita jumpai di level rakyat, tapi juga di level pejabat. Tidak perlu ditunjukkan buktinya. Sebab, kita (sendiri) sudah mengetahuinya secara terang benderang.

Sebagai guru, saya kadang berpikir bahwa beratnya tugas guru mendidik anak-anak tidak terletak pada transfer pengetahuan dan keterampilan, tapi menanamkan nilai-nilai kehidupan yang dapat membangun karakter mereka.

Masih adanya anak-anak sekolah yang suka tawuran, menenggak minum-minuman keras, merokok (bahkan akhir-akhir ini merokok elektrik), menggunakan narkoba, membegal, mencuri, seks bebas, menyebar hoaks, termasuk yang mungkin dianggap sepele, misalnya menyontek, terlambat mengumpulkan tugas, tidak mau mengerjakan tugas piket kelas, dan perilaku buruk lainnya, menunjukkan bahwa pendidikan (baca: guru) gagal menjalankan tugas mulianya.

Ya, guru memang terbatas kemampuannya. Tidak hanya terbatas waktu mendampingi anak-anak, tapi juga terbatas tenaganya, pikirannya, dan emosinya. Sementara ada "guru" lain yang kemampuannya tak terbatas menyertai anak-anak, yang sangat eksis keberadaannya, bahkan menembus dimensi  ruang dan waktu. Anak-anak dapat terus mengikutinya, di mana dan kapan pun. Hingga kita tak memiliki kemampuan untuk mengontrolnya.

Guru itu adalah berbagai informasi yang dapat diakses lewat media massa dan media sosial, atau media-media lain, bahkan kejadian-kejadian nyata yang boleh jadi dijumpai secara langsung  oleh anak-anak di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Ya, semua itu dapat menjadi guru yang barangkali lebih kuat pengaruhnya terhadap tumbuh kembang anak.

Kalau informasi-informasi atau kejadian-kejadian itu positif tidak menjadi masalah. Justru dapat memberi dampak positif terhadap anak-anak dalam kelangsungan hidupnya. Tapi, kalau informasi-informasi atau kejadian-kejadian itu buruk, tentu menjadi masalah terhadap perkembangan hidup anak-anak.

Repotnya, budaya yang berkembang di masyarakat kita adalah informasi-informasi atau kejadian-kejadian buruk yang justru mudah memengaruhi orang. Pun demikian tentu pada diri anak-anak. Apalagi mereka masih belum memiliki prinsip yang teguh sehingga sangat mudah dipengaruhi hal-hal buruk yang lazimnya lebih menyenangkan ketimbang hal-hal baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun