Kecekatan sang kapten dan tim penolong serta perahu lain membuat peserta yang terseret arus terselamatkan.
Seorang peserta yang terbalik mengungkapkan. "Waktu perahu terbalik dan tertimpa perahu. Di dalam air itu aku ingat anak. Jadinya ya bangun meraih perahu lain," kata Syam.
Peserta lainnya, malah teriak. "Aduh kena marah laki aku ini," kata Bu Ela.
Setelah keadaan tertangani. Peserta lain lalu menyelamatkan helm, sepatu dan dayung yang tercecer di sungai. Ada yang sandalnya jebol padahal baru beli.
Sampai di tujuan, daerah Benteng, bercelotehlah semua peserta yang terbalik dan yang menyelamatkan. Heeeemmmm memang, tertawa dan cemas di arung jeram menjadi satu di perahu.
Operator sendiri tetap menomorsatukan keselamatan. Mereka menyatakan kalau hujan di hulu tidak akan mengoperasikan perahu karena kondisi air tidak bisa diduga.
Eh dalah walah. Peserta yang tadinya tak mau ikut kemudian jadi ikut malah bertanya pada panitia kantor. "Main lagi yuk. Asik. Rasanya bagaimana gitu?" ujarnya.
Aduh mak.
Sebelum pulang, makan nasi bungkus dulu pengusir dingin dan lapar. Pulang, mandi dan pasti tidur lelap. Besok cerita di kantor sebelum apel pagi tentu seru. Bagi yang berhalangan ikut, dipastikan akan gemes mendengar cerita. Upsss.
Tanah airku ternyata indah. Tanah airku ternyata punya potensi alam yang tak terkira. Butuh orang-orang yang mau kerja dan fokus untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan dan mengembangkan daerah serta wisata.