Mohon tunggu...
Rahman
Rahman Mohon Tunggu... Penulis - Penulis lepas

Menulis apa yang saya suka, siapa tahu kamu juga suka. Twitter: @oomrahman.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Mengulik Naik Turunnya Penampilan Utah Jazz di Musim 2018-2019

16 April 2019   12:37 Diperbarui: 17 April 2019   19:25 65
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Begitupun pemain yang datang dari bangku cadangan dengan peran masing-masing, antara lain Crowder, Korver, O'Neale, Allen, dan Exum yang mengalami cedera lutut. Sebelum cedera, Exum punya kontribusi membantu Jazz menapaki bukit kebangkitan.

Pada akhir Februari, Jazz menggalakkan kampanye 'Play-off Push' (Detroit Pistons saja baru melakukannya pada dua laga terakhir!). Pada bulan Maret, Jazz benar-benar menembus zona play-off. Capaian pada bulan Maret serupa dengan Januari, yakni rekor 11-4. Tim yang menyingkirkan mereka, Houston Rockets datang menghadang tepat pada langkah pertama.

Epilog

Jazz Nation berharap banyak timnya sanggup ulangi era Stockton-Malone. Sumber: Twitter @utahjazz.
Jazz Nation berharap banyak timnya sanggup ulangi era Stockton-Malone. Sumber: Twitter @utahjazz.

Utah jelas tidak bisa melulu menghindari kalah. Seperti tim NBA lain, mereka muskil selalu memiliki malam kemenangan. Menghuni urutan kelima dengan rekor 50-32 juga bukan realita yang buruk-buruk amat. Jazz pun hanya punya 16 musim berisi minimal 50 kemenangan, dua di antaranya di bawah kendali Snyder. Selain musim ini, capaian tersebut terjadi di musim terakhir Gordon Hayward.

Kegoyahan awal musim sebetulnya juga tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Toh, musim lalu saja periode kurang memuaskan di akhir kalender tahun terselamatkan berkat 11 kemenangan beruntun tepat sebelum jeda All-Star. 

Catatan kemenangan beruntun terbaik yang pernah mereka punya. Namun patut ditengok ekspektasi musim lalu setelah ditinggal Hayward dan menyerahkan nasib kepada rookie urutan ke-13. Hanya dalam dua musimnya bersama Utah, Spida-sapaan Spider- dua kali mendapatkan rataan poin lebih dari 20, angka yang hanya sekali dicapai Hayward sepanjang tujuh tahun bersama tim yang awalnya bermarkas di New Orleans.

Siapa pula yang menyangka, Gobert yang baru mendapatkan break-out season pada 2016-17 dapat konsisten meningkatkan prestasi dan statistik setiap musim. Era Mitchell-Gobert sangat menjanjikan prestasi gemilang meski memang butuh kesabaran.

Selain tentu saja, kepingan lain yang sangat membantu mereka. Ricky Rubio terus dibayangi awan kelabu keraguan soal kapasitas dirinya. Sebelum bergabung Jazz, Rubio tidak kunjung menembus play-off saat membela Minnesota. Bersama Jazz, Rubio akhirnya mengecap play-off pertamanya.

Orientasi bermain garda poin asal Barcelona itu lebih menyerang ke ring, dengan rataan poin mencapai 13,1 dan 12,7 angka. Meningkat dari sebelumnya yang berada di kisaran 10-11 poin per musim. Rataan assistnya justru menurun (5,3 dan 6,1), sedangkan saat bersama Timberwolves, Ricky Rubio sanggup mencetak rata-rata 8 poin, malahan tembus 9,1 poin di musim terakhir. 

Sayang, reputasinya yang kurang handal bertahan (1,9 curian dan 0,1 blok), serta acap kali dituding rajin flop membuat Rubio belum benar-benar bisa dilihat sebagai garda poin level atas NBA.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun