Seong Gi-Hun (Lee Jung-Jae) adalah seorang sopir truk yang tinggal bersama ibunya yang sudah tua. Ia sudah lama bercerai dengan istrinya sekaligus tidak mendapatkan hak asuh putri semata wayangnya.
Di hari ulang tahun sang putri, dia berjanji mau kasih hadiah dan makanan enak. Sialnya, uang yang ia dapatkan dari berjudi diambil oleh lintah darat. Seong Gi-Hun memiliki utang ratusan juta won di mana, jika dalam satu bulan tidak dilunasi, ginjalnya akan diambil paksa.
Di tengah kegelutan, seorang pria misterius (Gong Yoo) menemuinya di stasiun kereta. Pria ini mengajak permainan tebak-tebakan sederhana di mana tiap kali Gi-Hun menang, dia akan mendapatkan uang 10 ribu won.
"Hubungi nomor ini jika kau ingin mengikuti permainan yang lebih seru!" ujar pria berjas hitam itu.
Gi-Hun awalnya tak terlalu peduli. Baru setelah ibunya ternyata sakit parah, Gi-Hun mencoba menghubungi nomor tersebut.
Orang di ujung telepon hanya memerintahkan dia untuk menunggu di pinggir jalan pada tengah malam. Benar saja, di waktu yang dijanjikan, sebuah mobil datang menjemput. Sial, begitu masuk Gi-Hun dibius.
Saat bangun, dia sudah berada di sebuah aula besar bersama ratusan orang lainnya.
Betapa kagetnya Gi-Hun saat mendapati Cho Sang-Woo (Park Hae-Soo) teman masa kecilnya yang (terlihat) sukses. Bagaimana tidak, Sang-Woo kebanggaan para tetangga. Dia kuliah dan bekerja di tempat yang bagus. Sepengetahuan Gi-Hun pun Sang-Woo sedang berada di Amerika Serikat.
Rupanya, baik Gi-Hun, Sang-Woo dan semua orang yang ada di sana punya satu kesamaan: mereka terlilit utang dalam jumlah besar.
Masih di tengah kebingungan, petugas datang menghampiri. Petugas menyampaikan peraturan permainan. Diantaranya, jika sudah menandatangi perjanjian bersedia bermain, tidak ada yang boleh mengundurkan diri.
465 orang menandatangani surat itu dengan sukarela. Tak lama, dimulailah permainan pertama yakni permainan Lampu Merah-Lampu Hijau.
Mereka dibawa ke sebuah ruangan besar. Ada patung anak perempuan yang akan "bernyanyi" dan menyebutkan kata "lampu merah" dan "lampu hijau". Cara bermainnya, semua orang harus berjalan melewati garis saat boneka itu berkata "lampu hijau" dan harus berhenti mematung saat dia menyebut "lampu merah".
Sejatinya ini permainan anak-anak, namun rupanya ini permainan mematikan. Bagi orang yang tetap berjalan saat "lampu merah" maka orang-orang ini akan ditembaki hingga mati.
Mengerikan!
Jelas saja semakin banyak yang tertembak, semakin panik. Di permainan pertama ini saja 200 orang lebih tewas.
Saat kembali ke aula, sebagian besar meminta agar permainan dihentikan. Rupanya, ada satu syarat di perjanjian yang memungkinkan permainan disetop.
"Kalian bisa berhenti setelah saya memberitahu berapa hadiah yang akan kalian peroleh." ujar front man, pimpinan permainan yang bersembunyi di balik topeng.
Sebuah bola besar tergantung di langit dan tiba-tiba saja bola itu berisi banyak uang. Rupanya, dari setiap kontestan yang mati, itu senilai 100 juta won. Jadi, jika nanti hanya ada 1 pemenang dan 455 orang lainnya mati, maka si pemenang akan mendapatkan uang sebanyak 45 miliar won!
Orang-orang yang tadinya mau berhenti mulai gamang. Sebab, jika kembali ke rumah pun keadaan tidak sama baiknya. Mereka terancam oleh rentenir dan juga mati langkah.
Dari sini jelas kemudian jika permainan ini terus berlanjut. Lantas, siapa yang akan menang? dan siapa sebetulnya orang-orang yang berada di balik permainan ini semua?
* * *
BRUTAL!
Kata itu yang bisa aku pakai untuk menggambarkan serial asal Korea Selatan ini. Jika sebelumnya sudah menonton Hunger Games, Escape Room atau bahkan Alice in Borderland, nah Squid Game ini kurang lebih sama.
Jika dibandingkan dengan Alice in Borderland yang sama-sama series, aku bisa bilang Squid jauh lebih unggul.
Di twitter, banyak yang menyebutkan Squid Game ini membosankan sebab terlalu banyak drama dan permainan mematikannya kurang seru.
Padahal, menurutku kisah drama orang-orang inilah yang menjadi fondasi cerita. Soal permainannya, memang lebih sederhana sebab yang digunakan ialah permainan yang biasa dimainkan oleh anak-anak. Seperti petak umpet di permainan Lampu Merah-Lampu Hijau atau juga permainan kelereng dan tarik tambang. Namun, di sanalah letak serunya. Sebab emosi penonton benar-benar bermain saat mendapati tokoh-tokoh favorit satu demi satu mati dengan tragis.
LUAR BIASA BAGUS.
Balik-balik ke selera. Alice in Borderland juga bagus tapi kalau apple to apple, Squid Game ini jauh lebih seru dan miris. Dianggap meniru Alice in Borderland dan beberapa film lepas lain, nyatanya Squid Game memang fenomenal. Ide dasarnya memang sekilas sama, tentang survival/bertahan hidup.
Namun Squid Game lebih unggul dalam banyak aspek. Dari skenario, akting, set hingga menjadikannya sebagai serial yang apik. Serial ini berhasil menduduki posisi puncak tayangan Netflix puluhan negara termasuk di Amerika Serikat yang terkenal dengan serial-serial kerennya.
Plot twistnya lumayan walau nggak yang menggemparkan banget. Ceritanya dapat dibilang selesai dalam 1 musim, namun masih dapat dikembangkan lagi jika kelak akan ada musim keduanya.
Dan, aku berharap akan ada sebab masih ada teka-teki yang harus dipecahkan.
Skor 9/10
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI