Mohon tunggu...
Haryadi Yansyah
Haryadi Yansyah Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis

ex-banker yang kini beralih profesi menjadi pedagang. Tukang protes pelayanan publik terutama di Palembang. Pecinta film dan buku. Blogger, tukang foto dan tukang jalan amatir yang memiliki banyak mimpi. | IG : @OmnduutX

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Jika di Jepang Ada Tradisi Oosouji, Indonesia Juga Punya "Tradisi" Serupa Menjelang Lebaran

13 Juni 2018   06:20 Diperbarui: 13 Juni 2018   08:21 920
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar dari goodnewsfromindonesia.id

Menurut KBBI, Tradisi dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh nenek moyang/leluhur yang masih dilakukan secara turun menurun hingga sekarang. Nah, contohnya nih saya, minimal banget kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua saya akan menurun kepada saya. Termasuk tradisi/kebiasaan menjelang lebaran seperti sekarang.

Sebetulnya, tidak hanya di Indonesia, umumnya, tradisi menjelang hari raya pun dilaksanakan oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia. Baik yang dilakukan secara serius dalam jumlah besar misalnya tradisi ogoh-ogoh saat perayaan Nyepi bagi umat Hindu, atau tradisi yang bersifat fun misalnya tradisi Songkran untuk merayakan tahun baru Thailand.

Nah, menjelang lebaran, ini dia tradisi yang biasanya saya dan seluruh anggota keluarga lakukan :)

Masak Ketupat

Ketupat itu identik dengan lebaran, tapi tahukah bahwa ada sejarah panjang yang melekat dari ketupat? Konon, pada zaman pra-Islam di nusantara atau masih zaman Hindu-Buddha, nyiur dan beras (ketupat) sudah digunakan untuk ritual ibadah dan juga kebutuhan pangan.

Udah gak sabar makan ketupat. Gambar dari kompas.com
Udah gak sabar makan ketupat. Gambar dari kompas.com
Namun, kemudian lebih dikenalkan lagi pada masa Sunan Kalijaga di abad ke 15 hingga 16 dimana Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosifi Jawa yang berbaur dengan nilai keIslaman. Makanya, ketupat identik dengan Idulfitri. Rasanya belum "terasa" lebaran jika di rumah tak terhidang ketupat hehe.

Ibu saya sendiri biasanya membuat ketupat sehari menjelang hari raya Idulfitri. Saya biasanya kebagian tugas mengisi butiran beras ke dalam ketupatnya atau juga membantu menambahkan air dalam perebusan jika airnya menyusut. Lebaran masih beberapa hari, namun saya sudah kebayang lezatnya ketupat masakan ibu, slruupp.

"Menggenapkan" Ibadah

Membayar zakat fitrah memang bisa dilakukan di hari H lebaran asalkan salat Ied belum dilakukan. Namun, di keluarga kami, biasanya zakat fitrah itu sudah didistribusika kepada mereka yang berhak satu atau dua hari menjelang lebaran. Nah, saya dan adik biasanya kebagian juga tugas distribusi zakat fitrah ini.

Petugas siap mendistribusikan zakat. Gambar dari kompas.com
Petugas siap mendistribusikan zakat. Gambar dari kompas.com
Di 10 hari terakhir menjelang lebaran juga disarankan untuk memperbanyak ibadah dengan cara itikaf di masjid. Namun, jujur saja hal ini sangat jarang saya lakukan mengingat saya biasanya baru libur bekerja satu atau dua hari menjelang hari H dimana saya langsung disibukkan dengan kegiatan di rumah. Walau begitu, kegiatan rutin di malam-malam Ramadan seperti tarawih dan tadarusan masih saya lakukan.

Pulang ke Kampung Halaman

Tidak semua orang bekerja di sektor formal yang jadwal cutinya mengikuti jadwal yang ditetapkan pemerintah. Sebagian besar orang yang bekerja di sektor swasta biasanya baru bisa pulang ke kampung halaman sehari menjelang hari H, atau bahkan di hari H. Sebagian kecil lainnya malah tidak dapat berlebaran di kampung karena bekerja di sektor fital seperti layanan kesehatan, keamanan atau jasa transportasi.

Ada yang baru bisa mudik menjelang lebaran. Gambar dari kompas.com
Ada yang baru bisa mudik menjelang lebaran. Gambar dari kompas.com
Saya sendiri, sebagaimana yang saya sampaikan di tulisan sebelumnya, tidak  melaksanakan tradisi mudik. Eh, mudik sih, namun lokasinya relatif dekat dan dilakukan pada hari H Idulfitri sehingga hari-hari menjelang lebaran saya dan keluarga praktis hanya berkegiatan di sekitaran rumah. Jikapun keluar rumah, ya paling berbelanja kebutuhan untuk lebaran, misalnya saja sembako atau baju walaupun kegiatan belanja baju lebaran ini sudah tidak saya lakukan beberapa tahun terakhir.

Bersih-bersih Rumah

Idulfitri adalah saatnya untuk bersilaturahmi. Tumbuh di keluarga besar, kami biasa menerima kedatangan banyak tamu di saat lebaran. Dan, sudah jadi kebiasaan di keluarga, menjelang lebaran seperti sekarang, kami sekeluarga akan bergotong royong untuk bebersih rumah. Misalnya saja mengganti seprai bantal di ruang tamu, memasang karpet, menata kue-kue dan sebagainya.

Tradisi Oosouji di Jepang. Gambar dari kazari-ya.com
Tradisi Oosouji di Jepang. Gambar dari kazari-ya.com
Belum lagi di kamar sendiri. Saya biasanya juga akan mengganti seprai, menyikat kamar mandi, menata koleksi buku dan majalah, intinya semua harus kinclong hehehe. Nah, tradisi bersih-bersih ini serupa dengan tradisi Oosouji yang ada di Jepang.

Ini adalah tradisi yang dilakukan mendekati awal tahun yang jatuh di musim dingin. Saat Oosouji, seluruh anggota keluarga berkumpul dan bergotong royong membersihkan rumah terutama bagian-bagian yang jarang dibersihkan seperti di bawah lemari atau bagian langit-langit/ventilasi rumah. Dipercaya, hal ini dilakukan demi keberuntungan di tahun yang akan datang.

***

Nah, itu dia kegiatan-kegiatan yang biasa saya lakukan di hari-hari menjelang lebaran. Bagaimana dengan kamu?  

Kompal : Kompasianer Palembang
Kompal : Kompasianer Palembang
Simak tulisan saya lainnya di sini, ya! :)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun