Mohon tunggu...
Oman Salman
Oman Salman Mohon Tunggu... Guru - Guru SD. Surel: salmannewbaru@gmail.com

Sedang belajar memahami anak dan ibunya...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Bahagia Menjadi Perantara Kebahagiaan

31 Desember 2020   14:49 Diperbarui: 31 Desember 2020   15:27 110
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sehingga untuk kurangnya, dengan kesepakatan dengan penjualnya, dicicil. Untuk cicilan tanah perbulan, kami mendapat bantuan dari seorang dermawan yang sekaligus juga pendiri yayasan yang membantu sekolah gratis tersebut. 

Namun sampai berjalannya cicilan tanah tersebut masih belum ada tanda-tanda akan dibangun sekolah. Desas-desus tentang masa depan sekolah yang tidak punya harapan dan sekolah tidak jelas mulai berkembang. Kami selaku dewan guru sekaligus pengurus sekolah dibuat pusing.

Tak sedikit dari siswa, wali siswa, serta masyarakat umum yang menanyakan masa depan sekolah kami. Khususnya yang berkaitan dengan gedung. Sementara itu, rumah sewaan tempat tinggal kami yang sekaligus tempat belajar anak-anak pun kabarnya akan segera digunakan oleh pemiliknya. Malah ada kabar akan dijual.

Kami benar-benar kebingungan. Sehingga selain mengajar kami juga menyusun proposal guna mendapatkan bantuan dana untuk pembangunan gedung sekolah. Siang mengajar, malam berdiskusi tentang proposal dan ini itu tentang masa depan sekolah.

Hingga akhirnya proposal kami berbuah manis. Ada donatur dan yayasan lainnya yang bersedia menyumbangkan dana untuk pembangunan gedung. Termasuk Yayasan kami yang setiap bulan rutin memberikan biaya operasional pun turut membantu untuk pembangunan gedung tersebut.

Nafas kami mulai lega. Kini kami bisa fokus mengajar lagi, tanpa harus memikirkan untuk mencari bantuan dana untuk pembangunan gedung. Walau sederhana dan masih berlantai tanah, gedung itu kami gunakan untuk yang pertama kalinya dalam acara syukuran kelulusan siswa angkatan pertama SMP pada tahun 2009. Jumlahnya ada sekitar 24 orang, jika saya tidak salah ingat. Kami semua lega dan bahagia.

Sebagai catatan tambahan, legalitas SMP kami adalah SMP Terbuka menginduk ke SMP Negeri. Maka ijazah pun didapatkan dari SMP Negeri. Lalu di tahun kelulusan angkatan pertama siswa SMP, kami kembali nekad dengan mendirikan SMA guna menampung mereka. Jadilah kami memiliki SMP dan kini SMA. Alhamdulillah yayasan mendukung.

Kini di desa tersebut tak ada lagi anak yang putus sekolah, tak ada anak perempuan yang harus menikah muda karena tidak ada sekolah. Bahkan, kini PAUD dan SMP serta MTs berdiri di desa tersebut.

Mungkin ini keberkahan dari yang namanya berbagi dan memberi. Ketika kita berbagi, maka bukan hal yang mustahil darinya akan lahir kebaikan-kebaikan. Apalagi jika kita berbagi kepada orang-orang yang tidak mampu.

Bahagia Sebagai Perantara Kebahagiaan

Apa yang kami lakukan tak ubahnya seperti perantara. Ya, kami hanya mampu menjadi perantara antara orang kaya yang dermawan dengan anak-anak tidak mampu. Ada kebahagiaan tersendiri dapat berperan seperti ini.

Dapat membantu orang lain bahagia adalah kebahagiaan itu sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun