Sementara ku telusuri jejak-jejak gendhing purba,
rebab terdengar getir memilih nada miring,
menjelma bait-bait ngilu Radheya Karna putra kusir,
yang terlanjur menerima kutukan Parasurama,
yang telinganya panas mendengar ucapan Guru Drona,
yang dihina Drupadi pada sayembara di kerajaan Pancala.
Sunyi jantung ku masih berdetak,
sekarang memasuki irama seperempat,
tak ada suaraku pada megatruh yang mengalun itu,
hanya bunyi bonang yang ragu memainkan lagu ngilu.
Maka, tembangkanlah dhandanggula tlutur,
tanpa perlu disertai bunyi gamelan,
untuk anak laki-laki Dewa Surya,
yang berdoa dan bersajak pada sepertiga malam,
sebagai ganti sepasang anting dan baju perang,
yang dirampas Dewa Indra lewat tipu muslihat,
demi kemenangan Arjuna diperang Bharatayuda.
Siapapun kau,
puan yang sedang menembang,
apakah Surtikanthi putri Raja Salya,
atau sukma Dewi Amba yang menjemput Dewabrata,
lewat anak panah Srikandhi dipadang kurusetra,
yang menggugurkan segala sumpah serapah.
Siapapun kau, wahai puan,
demi rakit yang melangkah pelan,
demi pengrawit veteran yang telah beruban,
sekali lagi tembangkanlah dhandanggula tlutur,
jika nanti pada akhir cerita, aku gugur sebagai Joko Lelur,
mati konyol pada adegan gara-gara,
sebelum sampai pathet manyura,
babak penghabisan sebuah lakon,
sebab tak ada musik pengiring
untuk adeganku diatas panggung pementasan.
.
.
Surakarta, 26Mei 2017
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H